Senin, 11 Maret 2013

1000 Yen untuk sebuah kursi di kereta

Teringat cerita 4 tahun yang lalu waktu saya, #suamijepang dan orang tua saya berkunjung ke rumah mertua

Hari itu kami sampai di Jepang, tepatnya di KANSAI International Airport.
Terasa sekali perbedaan dengan ketika kami tiba di bandara Soekarno-Hatta... dimana kedatangan kami telah disambut oleh para porter yang dengan "senang hati" membawa seluruh bawaan kami, serta supir yang telah menyambut kami tepat di depan pintu keluar..

Di Jepang, semua harus dilakukan sendiri, tidak ada porter yang membantu kami, semua barang bawaan kami harus urus sendiri... Beruntung di Jepang terdapat beberapa perusahaan pengiriman barang, sehingga kami tidak perlu menggotong bawaan-bawaan yang berat.. Cukup membawa barang yang diperlukan untuk keperluan ± 1 hari, karena barang yang berat dan besar akan tiba di tempat yang kita suka keesokan harinya. 
Masalah kirim mengirim barang selesai, berikutnya adalah masalah transportasi.. Tanpa siapapun yang "bersedia" menjemput kami dengan mobil, kami harus "bergerak" menggunakan kereta seperti juga sebagian besar penduduk Jepang.
Berhubung mertua tinggal di daerah yang minor dan terpencil yaitu di Kumano, Mie perfecture, memang urusan kereta2an ini rada sedikit ribet.
Dari Kansai International Airport-Kumano, memakan waktu sekitar 4 jam, itupun tidak ada kereta langsung, kami harus ganti kereta lokal 1-2 kali, dan 1 kali kereta ekspress.
Kereta lokal, berati tidak ada "reserved seat", dan berarti siapa cepat dia dapat.. Yang artinya kalo telat ya nggak dapat tempat duduk...;p
Sebenarnya, hal ini bukan merupakan masalah, kalo yang berpergian hanya aku dan Yacchin saja.. 
Tapi kali ini mama dan bapak turut serta.. Dan apa yang aku khawatirkan terjadi. Dalam kereta lokal menuju Wakayama, kami tidak bisa langsung dapat duduk, kami sempat harus berdiri... 
Dan yang membuatku sedikit kesal adalah, ada beberapa anak muda yang sehat walafiat (bahkan ada pemuda tanggung..*gak jelas sih pemuda tanggung artinya apa??*) yang tenang-tenang aja sok cuek duduk bersandar di bangku kereta sementara di depannya ada bapak dan mama yang notabenenya sudah tua, dan dilihat dari sudut manapun lebih pantas dan berhak merasakan kenyamanan bangku kereta..

Sambil misuh-misuh, aku teringat beberapa tahun yang lalu, ketika masih tinggal di Jepang... Pemandangan seperti ini sering sekali aku jumpai baik dalam kereta maupun bis umum. Para orang tua di Jepang dan guru2ku selalu mengeluhkan begitu egoisnya sebagian besar anak muda di Jepang yang tidak mau memberikan tempat duduknya kepada orang yang lebih tua, anak-anak bahkan orang hamil..
Bahkan 優先席(yuusen seki)* alias priority seat yang memang tempat duduk dengan memprioritaskan orang-orang yang membutuhkan, tidak jarang diduduki oleh anak-anak muda yang dilihat secara fisik tidak membutuhkannya. Tadinya, aku kira hal seperti ini hanya terjadi di Tokyo dan sekitarnya ato hanya di kota-kota besar saja.. Tapi, ternyata di daerah pun sama saja, ya.. Walau aku yakin tidak semua anak muda Jepang seperti ini!

Ada satu pengalaman, ketika aku pulang kerja dari Shinjuku-Saitama menggunakan Saikyo line, di jam yang lumayan padat. Kereta yang kunaiki memang lumayan penuh, tapi aku beruntung mendapatkan tempat duduk sehingga aku bisa sedikit bersantai menghilangkan kepenatan setelah kerja. 
Sekitar 2 stasiun berikutnya, ada seorang nenek naik, dan secara otomatis, aku langsung memberikan tempat dudukku kepada nenek tsb. 
Entah beberapa stasiun sudah terlewati ketika nenek tsb turun.. Beliau "mengembalikan" tempat duduk tsb sambil membungkuk-membungkuk mengucapkakan "arigatou gozaimasu"!
Aku duduk kembali di kursi itu, dan tiba-tiba kakek2 di sebelahku mengangsurkan lembaran 1000 yen kepadaku... "arigatou gozaimasu, kore kimochi dake"... *terima kasih banyak, ini hanya sekedar rasa terima kasih saya*..
Kemudian keluarlah cerita dari mulut sang kakek, bahwa apa yang kulakukan tadi sudah lama tidak dilihat dan dirasakannya, sudah sedikit sekali anak muda di Jepang yang punya kesadaran untuk memberikan kursi kereta kepada orang yang lebih membutuhkan...Sang kakek merasa senang, karena ternyata masih ada orang yang "iling" sama wong tuo... Hehehe

Menurutku, apa yang kulakukan bukanlah sesuatu hal yang spesial, tapi lebih merupakan kewajiban... Ingat kan, waktu belajar di SD memakai PMP warna kuning yang sampul depannya burung garuda, pernah diajarkan untuk memberikan kursi di kendaraan umum, untuk orang yang lebih membutuhkannya dari kita-kita yang segar bugar ini..Memang siapapun pasti capek harus berdiri dan berdesakan di kereta.. Tapi, kalo kita yang anak muda saja capek bagaimana dengan orang yang sudah tua, ya ??
Duh, Nihonjin* apa harus belajar pake buku PMP itu dulu ya... hehehe

*Yuusen seki (優先席) alias priority seat, adalah tempat duduk yang dipriortaskan untuk dipakai oleh orang yang benar membutuhkan seperti orang cacat, orang tua, orang hamil dll
Biasanya, dalam satu gerbong, priority seat ini berlokasi di ujung kiri dan kanan (kapasitas 6 orang untuk tiap ujungnya)
*Nihonjin (日本人) Orang Jepang

Sabtu, 23 Februari 2013

Terinspirasi di Kelas Inspirasi

Sebenarnya cerita ini pengennya langsung ditulis begitu selesai Kelas Inspirasi,
tapi berhubung sesuatu dan lain hal tidak sempat menulis..
Tapi, better late than never,kan... Jadi walopun telat saya mau menuliksan pengalaman Kelas Inspirasi

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, 20 Februari 2013
Pagi-pagi buat menuju SDN Petajen Barat 03 dengan rasa semangat sekaligus dag-dig-dug...
Pagi K-24, kelompok kami diawali dengan diskusi terakhir pembagian kelas...
Di samping K-24 yang terdiri dari saya (penerjemah), Puri (sang Instruktur senam  selam), Afit (tukang masak dan pemilik warung yang kondang itu), Didit (web designer), Iffa (konsultan), Anita (change management XL), Felix aka pak Lurah (Insyinyur listrik....;p) dan pak Alwin (pak direkturn Antam), kami kedatangan juga Fitria sang fasilitator yang baik hati dan manis, serta pak Hikmat dari Indonesia Mengajar.

Bismillah

'Perjuangan' kami dimulai dari jam pelajaran ke-2, yaitu tepatnya di jam 07:05. Buat saya sendiri, hari yang begitu berkesan ini dimulai dengan mengajar di kelas 2A yang terletak di lantai bawah.
Sebenarnya saya tidak punya lesson plan khusus untuk menjelaskan pekerjaan saya sebagai penerjemah... Yang ingin saya sampaikan supaya mereka mengerti pekerjaan penerjemah itu apa adalah dengan cara
menunjukkan di dunia itu ada berbagai macam negara di dunia (sambil bawa2 globe) dan begitu banyak bahasa di dunia,sehingga kalau orang-orang antar negara bertemu dan mau ngobrol, walau bahasa yang digunakan berbeda mereka tetap bisa ngobrol dengan bantuan penerjemah.
Untuk lebih kongkrit, saya menghadirkan 'wawancara' DORAEMON dengan JOKOWI , 'Doraemon' bertanya pada dalam bahasa Jepang saya terjemahkan ke 'Jokowi'. Kemudian jawaban 'Jokowi' menjawab dalam bahasa Indonesia dan saya terjemahkan ke 'Doraemon' .
Senang dan terharu ketika anak-anak memberi tepuk tangan dan berteriak senang dengan 'pertunjukkan' saya itu.

Kemudian saya hadirkan 'Doraemon' dan 'Nobita' dalam kelas dan minta mereka untuk bertanya kepada kedua tamu dari Jepang tersebut... Pertanyaan dari anak-anak itu juga saya terjemahkan ke bahasa Jepang, jawaban dari 'Doraemon' dan 'Nobita' dalam bahasa Jepang saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia untuk mereka
Anak-anak itu dengan daya imajinasinya dan tampangnya yang serius melontarkan aneka pertanyaan yang membuat saya tergelak

'Doraemon kapan pulang ke Jepang'

'Doraemon makan nasi nggak sih ? kok makannya Dorayaki doang ?'

'Tinggalnya di mana sih ? Di sana banjir nggak ? Macet nggak ?' 

'Doraemon nggak bisa bahasa lain selain Jepang ? bahasa Indonesia ? bahasa Jawa?'

'Nobita kenapa pakai kacamata ? emangnya minus berapa ?'

'Sekarang kelas berapa ? sama ya dengan kita masih SD' 

'Nobita potong rambutnya di mana ?'

Dan aneka pertanyaan lainnya yang membuat saya tetawa dengan kepolosan mereka...
Dan sangat terkesan dengan kebebasan mereka untuk berimajinasi dan berpikir tanpa batasan.

Saya juga sempat mengajarkan tentang ucapan salam sederhana dalam bahasa Jepang dan di beberapa kelas  juga mengajarkan lagu doraemon dalam bahasa Jepang. Di beberapa kelas terbentuklah boyband dan girlband yang berani maju ke depan kelas untuk nyanyi lagu Dorameon itu...

 'anna koto iina.. dekitara ii na'...boyband kelas 3
Terkesan dengan keberanian dan keceriaan mereka yang antusias belajar bahasa dan lagu asing yang sebenarnya sudah akrab dengan telinga mereka... 

Ketika saya tanyakan cerita mereka, banyak yang menyebutkan guru, dokter, tentara, pemain sepak bola, masuk Timnas, pemain basket, desainer baju, nahkoda kapal dan lain-lain...

Total hari itu saya mengajar di 8 kelas mulai dari kelas 1-6 (kelas 5&6 masing-masing 2 kelas). 
Satu sesi berlangsung selama kurang lebih 35 menit... 35 menitX8 sesi = cukup bikin capek, tapi senang dan PUAS!! 

Untuk acara closing kami,K-24 dan para guru-guru seluruh murid berkumpul di lapangan, ada sedikit game penutupan, sepatah dua patah kata dari perwakilan K-24 dan pihak sekolah, pemberian kenang-kenangan serta ini dia acara 'GONG'nya... kami meminta semua anak untuk menuliskan cita-cita mereka di secarik kartu cita-cita dan menggantungkannya di pohon Inspirasi... Dengan harapan cita-cita yang mereka tuliskan hari itu bisa terus terpupuk dan tumbuh bersama dengan pohon Inspirasi...
Gantungkan kartu cita2mu di pohon inspirasi


Sofia, anak kelas 3 yang cita2nya jadi penerjemah
















Satu hari  ini sangat berarti untuk saya... Satu hari di mana saya   bisa langsung berinteraksi dengan dunia pendidikan di Indonesia... Bisa langsung memandang wajah-wajah generasi penerus bangsa... Bangga dengan semua anak-anak di sekolah ini.. Kagum dengan dedikasi para guru di sekolah ini... Hari itu saya hadir di sana bukan untuk menginspirasi tapi justru untuk terinspirasi untuk terus bisa berbuat sesuatu dan berkontribusi. Bangga bisa menjadi bagian dari Kelas Inspirasi.

Satu kado spesial dari Kelas Inspirasi adalah teman-teman K-24 yang menurut saya sangat hebat dan saling menginspirasi satu sama lain..
Ki-ka : Felix, Didit, pohon Inspirasi, Afit, Vita, Anita, Iffa, plus Puri yang ndodok









Kelas Inspirasi.. Belajar kembali ke niat

pose dengan keluarga 6B

Tantangan dari kelas Inspirasi adalah 'berani mengambil cuti' buat saya yang kerja sebagai freelance, hal ini bukan suatu yang susah.. Saya hanya perlu tidak mengambil tawaran kerja di tanggal tersebut, gak perlu repot-repot mengajukan cuti di tanggal 20 Februari.
Ndilalah, di hari pengumuman Kelas Inspirasi tanggal 31 Januari, saya mendapat tawaran pekerejaan yang sangat BESAR untuk tanggal 20 Februari di jam yang sama dengan jam pelaksanaan kelas Inspirasi.
Kenapa saya bilang ini pekerjaan besar ? Karena tawaran ini merupakan jenis pekerjaan yang belum pernah saya lakukan, banyak tantangan baru di pekerjaan ini, ditambah tawaran ini datang langsung dari sebuah perusahaan yang sangat besar di Jepang.

Dengan pertimbangan kalau tawaran yang BESAR ini saya ambil, pasti jadi 'torehan' yang berarti untuk orang yang berkarir sebagai freelance seperti saya, sempat tergoda juga untuk melewatkan kesempatan dari kelas Inspirasi dan bekerja di tanggal 20 Februari tsb.

Tapi, setelah membuka kembali kelasinspirasi saya jadi merenung, sebenarnya apa niat saya untuk ikutan kelas inspirasi ini ? kenapa dulu saya mau repot-repot menuliskan ini-itu ketika mendaftar kelas inspirasi.
Ya, mungkin seperti sebagian besar dari kita, saya juga turut 'menyumbang' pendidikan di Indonesia dalam bentuk dana... Program orang tua asuh, sumbangan ini-itu, donasi ini-itu... Semuanya pernah saya lakukan dengan niat ingin memajukan pendidikan Indonesia...

Tapi..
apa pernah saya berinteraksi dengan anak-anak itu ?
Dengan sekolah ?
Dengan guru-guru dan kepala sekolahnya ? 

Semua jawabannya TIDAK... yang pernah saya sumbang hanya dalam bentuk materi, belum pernah dalam bentuk 'tenaga' dan 'kehadiran saya'

NIAT
Itulah yang menjadi pertimbangan saya... Segala sesuatu itu harus dikembalikan ke niat awal kita, ke tujuan semula kita
Niat saya memang menyumbangkan kehadiran saya, berarti nggak boleh nggak saya harus hadir di kelas Inspirasi, kehadiran saya nggak boleh digantikan dalam bentuk materi apalagi hanya sekedar doa supaya Kelas Inspirasi berjalan lancar.
Dan tujuan saya satu lagi adalah bukan memberikan inspirasi tapi justru pengen dapat inspirasi dari anak-anak SD yang masih sangat polos, tanpa 'filter' tanpa prasangka.. Hal-hal yang hilang seiring dengan bertambahnya usia kita.

Akhirnya, setelah perenungan sehari semalam, Bismillah saya menolak pekerjaan yang sangat menggiurkan itu dengan alasan saya ingin ikut kelas Inspirasi. Walau klien tsb tampaknya kecewa dengan jawaban saya, tapi sepertinya beliau bisa memahami saya.
Bahkan beberapa hari kemudian, beliau ikut memberikan usulan dialog yang bisa saya pakai waktu memperagakan wawancara Doraemon dan Jokowi (profesi penerjemah saya jelaskan dengan wawancara imajiner Doraemon dan Jokowi).. Bentuk dukungan yang berarti buat saya.

Awal minggu ini klien tsb kembali menghubungi saya, project yang batal di tanggal 20 Februari tsb, tetap akan dilaksanakan di bulan Maret. Dan beliau memberikan kebebasan pada saya untuk menentukan waktunya kapan... Ya, terserah saya mau tanggal berapa di bulan Maret. Saya yang memberikan jasa, tapi saya diberi kebabasan untuk tentukan tanggal, nanti beliau yang akan mengurus jadwal internalnya.
 .. .....Alhamdulillah
Rejeki memang tak lari ke mana, ya...

Ternyata, kesungguhan saya untuk kelas Inspirasi ini diuji...
 'Ujian' ternyata bisa berupa harus memilih satu di antara dua hal yang sangat kita inginkan....
Dan ketika kita harus memutuskan salah satu di antaranya, kembalikanlah semuanya ke niat awal...
Karena sesuatu yang datangnya dari niat dari hati tidak akan pernah salah...
Dan pasti akan menuntun kita ke arah yang benar... ke arah kita yang lebih baik..

Dan! kalaupun tawaran pekerjaan itu tidak ada gantinya, saya tetap akan bilang bahwa saya bangga lebih memilih Kelas Inspirasi ketimbang memilih tawaran kerjaan.
Karena dengan ikut Kelas Inspirasi saya mendapatkan lebih dari yang saya berikan,
Terima Kasih Kelas Inspirasi!!
.... (berlanjut ke cerita Hari H kelas Inspirasi di postingan berikut)


Rabu, 23 Januari 2013

Sepenggal cerita dari bawah kolong jembatan

Banjir minggu lalu yang ternyata juga diberitakan di Jepang, membuat beberapa klien menanyakan kabar saya untuk memastikan keadaan baik-baik saja.
Berawal dari situ berceritalah saya, kalau saya ingin ikutan baksos di hari minggu lalu, salah seorang klien saya langsung menyatakam tertarik untuk ikut.
Tapi, berhubung hari minggu itu sikon ndak memungkinkan, akhirnya saya buatkan waktu khusus "tour" ke beberapa posko pengungsian di selasa pagi kemarin.

Pemberhentian kami pertama hari itu adalah pengungsian di bawah jembatan kampung melayu, yang memang relatif paling dekat dengan tempat klien saya menginap.
Untungnya hujan yang turun sejak pagi sudah berhenti, sehingga kami bisa bebas turun mobil menghampiri lokasi pengungsian yang letaknya di bawah flyover kampung melayu.

Hati ini langsung 'nyes' miris melihat kondisi lokasi pengungsian itu yang 'beratapkan' flyover, beralaskan terpal seadanya, tanpa naungan 'dinding' tenda atau sejenisnya. Terbayang jika turun hujan tentunya tidak sepenuhnya terlindungi dari air hujan.
Pengungsi di sana adalah para warga pemulung yang bermukim di bawah kolong jembatan kampung melayu.
Ada beberapa lapak pengungsian di sana yang saat kami datang sekitar pukul 8, kebanyakan berisi wanita dan anak-anak... Kebanyakan dari wanita itu sedang meriung ngobrol, beberapa terlihat sedang bergantian masak indomie, beberapa sedang menikmati indomie itu... Ada juga yang sedang bermain dengan anaknya atau sedang memberikan ASI pada anaknya.

Adalah bu Gemi yang menyambut kedatangan kami dengan senyum riangnya,nmenceritakan kehidupannya selama di pengungsian ini, bagaimana dia belum bisa kembali ke rumah karena walaupun air sudah surut namun masih menyisakan peer untuk membersihkan lumpur yang masih tersisa hingga sedengkul.
Bu Gemi yang (menurut) dia berusia 40tahun, menikah pertama kali di usia 12tahun, sudah pernah menikah 3kali, dan memiliki 2orang putra. Bu Gemi kemudian mengajak kami untuk melihat rumahnya, yang berada di bawah kolong jembatan kampung melayu.
Berhati-hati kami menyisir jalan menurun yang masih sedikit licin karena lumpur untuk menuju deretan pemukiman yang tidak tampak jelas karena tidak ada sedikitpun bantuan penerangan.
Masih dengan senyum cerahnya bu Gemi menyebutkan siapa-siapa saja yang tinggal di balik pintu-pintu rumah petak itu....
"itu kamar oom saya", "kalau itu kamar kakak saya" "yang itu keponakan saya" "kalau kamar saya yang itu" dengan semangat bu Gemi menunjukkan pintu-pintu yang sudah tampak kusam dan masih tergenang oleh lumpur.

Kami pun mengobrol sejenak dalam remang-remang... Mengalirlah cerita hidup dari mulut bu Gemi, mulut yang selalu menyungingkan senyum tulus.
Bu Gemi berkisah sebenarny dulu dia bermukim di daerah Jawa Tengah, satu kejadianlah yang membuatnya datang ke Jakarta. Putra bungsunya yang sekarang berusia 18tahun menderita epilepsi dan menjadi objek bully-ing oleh teman-temannya. Suatu hari, anaknya dijedotkan ke tembok hingga tidak bisa berjalan.Lumpuh cacat menurut istilah bu Gemi. Prihatin akan kondisi anaknya, ingin menyembuhkan anaknya di 'dukun jawa',tapi dengan penghasilan suaminya dulu yang berprofesi sebagai pemetik tebu tidak cukup untuk biaya pengobatan 'dukun jawa'.
Bulatlah tekad merekan untuk mengadu nasib di Jakarta, kebetulan mereka memiliki oom yang bisa langsung memberikan pekerjaan untuk mereka, yaitu pemulung.
Sebelumnya bu Gemi pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun akhirnya memutuskan untuk bersama-sama suami menjadi pemulung.
Bertahun-tahun bekerja membanting tulang bersimbah peluh, sedikit demi sedikit kondisi sang putra membaik dan akhirnya bisa berjalan, walau tangannya masih sedikit 'sakit' seperti orang dipelintir bentuknya. Dengan kondisi begitu pun, anaknya kini sudah membantu mengumpulkan sampah rongsokan untuk kemudian dijualnya kembali. Sesuatu anugrah... Suatu yang sangat disyukuri oleh orang tuanya.
Dari cerita saya tahu kalau sampah-sampah yang mereka punguti ini, mereka dihargai
- rp. 4000/kilo untuk kemasan air mineral
- rp. 1000/kilo untuk sampah plastik seperti ember
- rp. 1500/kilo untuk kardus
Dll.....


Iseng saya bertanya, dengan kesembuhan anaknya ini apakah mereka terfikir untuk kembali ke Jawa....
Bu Gemi menjawab dengan ramah dan saya mendeteksi ada rasa bangga di suaranya
"Di sini kan ibu kerja, berguna dapat uang.... Dan kerjaan ibu ini kan halal... Di sini enak bisa mulung trus dapat uang....biar segini uangnya cukuplah untuk hidup"
Ya,saya yakin tidak salah saya merasakan nada bangga dari suaranya itu.
Jawaban yang membuat saya tertampar bolak balik....
Banyak sekali saya rasa orang yang dengan penampilan rapi kinclong merasa tidak terlalu pede dengan profesinya... Sejujurnya terkadang saya merasa minder untuk menyebutkan profesi saya CUMA sebagai penerjemah terutama di depan orang-orang yang punya profesi 'menyilaukan' tapi ibu ini dibalik penampilannya yang sederhana dengan bangga menyebutkan profesi dirinya. Bangga menunjukkan dirinya bahwa apa yang dikerjakannya adalah HALAL dan bisa menghasilkan uang.
Dan dengan penghasilan yang mungkin buat sebagian kita jumlahnya jauh lebih kecil dari kebutuhan nongkrong-nongkrong di coffee shop, dia dengan yakin mengatakan bahwa itu sudah cukup memenuhi kebutuhannya.
Membuat saya yang beberapa waktu lalu sempat merasa kecewa tentang rate penerjemah merasa seperti ditampar bolak balik. Menyadari bahwa betapa masih 'cemennya' saya sebagai manusia, baru urusan begitu saja udah kecewa!


❤Saya yakin semua kejadian itu pasti sudah di atur oleh yang Ilahi... Kenapa saya tidak mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan, kenapa saya akhirnya tergerak mengantarkan klien saya keliling tempat pengungsian banjir... Menurut saya semua itu sudah didesain karena hari itu saya akan bertemu ibu Gemi yang 'menampar' saya bolak balik dengan senyuman dan ceritanya yang nan ceria dan tanpa beban hidup.... Terima kasih,bu!!!











Rabu, 12 September 2012

Ter #testpack.. cintailah pasangan kamu apa adanya

Date minggu kemarin ini, kami isi dengan acara makan dim sum di resto kesayangan kami, the Duck King dan dilanjutkan dengan nonton film testpack. Film drama yang diangkat dari novelnya Ninit Yunita dengan judul yang sama. Awalnya khawatir juga sih si #suamijepang ngerti apa nggak isi filmnya, tapi ternyata dia bisa ngerti 'big picture' ceritanya.
Beberapa tahun yang lalu ketika novel testpack ini keluar, saya temasuk pemb yang langsung jatuh cinta dengan isi ceritanya. Apalagi ceritanya lumayan dekat dengan cerita kehidupan saya.
Di sini saya bukan mau bikin review tentang film itunsendiri, tapi lebih menuliskan perasaan saya setelah saya menonton filmnya.

Rahmat dan Tata yang sudah menikah 7 tahun (kalau saya baru tahun ke-6, sih), yang sudah kepingin banget punya anak, sehingga hal apapun dilakukan untuk bisa mewujudkan keinginan dan impian itu
mulai timbul rasa 'iri' dengan rumah tangga orang lain yang telihat sempurna dan meriah dengan kehadiran buah hatinya. Dan mulai terasa terganggu dengan pertanyaan orang yang menanyakan kenapa kita belum juga punya anak.
Ada saat di mana saya stress dan letih dengan begitu banyaknya komentar yang nge-judge kenapa kami belum punya anak , sejujurnya itu lebih  stress dan frustasi dari kenyataan belum punya anak itu sendiri. Beruntung ortu+mertua nggak ikutan bikin frustasi dengan tuntutan atau komentar mereka.
Tapi ada loh kenalan saya yang setiap ketemu saya hampir sebulan sekali pasti selalu tanya sambil pegang-pegang perut saya.... 'wis berhasil belum, mbak?' begitu kerap kali. Well, itu saya anggap sebagai doa, jadi saya selalu menanggapinya dengan.."Aamiin"!
Tapi pernah juga ada komentar yang buat saya sangat menyakitkan dari seorang sepupu tersayang saya... 'elo nggak kasihan,Ta sama ortu lo... Buatlah ortu lo bahagia dengan kasih mereka cucu'!!!
Kalau bisa, kalau mampu, saya mau ngebahagiain orang tua saya dengan cara apapun, tapi kalo belum dititipkan anak sama Yang di Atas... Ya gimana dong.. 


Kembali ke cerita  film testpack, sakimg kepinginnya Tata memberi anak ke Rahmat, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan in vitro. Proses in vitro gagal, dan ketika masuk ke in vitro ke 2, Rahmat 'bersedia' melakukan tes kesuburan.. Dan, malah ketahuan kalau Rahmat ternyata mandul.
Rahmat yang punya prinsip kalo menikah itu adalah bukan semata-mata bertujuan untuk punya anak, tapi melengkapi pasangan satu sama lain... Kalaupun Tata misalnya mandul dia pun nggak akan meninggalkan Tata, seperti yang terjadi pada Shinta mantan pacarnya. Tapi justru dia yang harus menghadapi dialah yang mandul, dialah yang tidak bisa menghadirkan anak dalam kehidupan rumah
tangga mereka. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah Tata bisa selegowo Rahmat menerima kenyataan ini.... 

Satu hal yang bisa kita pelajari dari pasangan Tata dan Rahmat adalah menerima pasangan hidup kita apa adanya.. Seperti quote dari film ini... "Apa adanya kamu sudah melengkapi saya'..#uhuk.
Ketika kita menikah atau berkomitmen dengan orang lain, tentu saja kita punya impian-impian, harapan-harapan yang ingin kita bangun dan wujudkan dengan orang tersebut.... Walau tentu saja nggak ada hubungan yang sempurna, tentu saja kita mengharapkan yang indah-indah dari pasangan tsb.
Tapi kalau seandaianya pasangan itu memiliki sesuatu kekurangan entah itu mandul seperti Rahmat di testpack, atau dia mengidap suatu penyakit atau 'gangguan', atau kita mendapat pasangan yang tidak bisa menjalankan atau berfungsi sebagai mana kodratnya atau kenyataan lain yang jauh dari bayangan kita ketika menikah, apakah kita bisa menerima pasaangan kita apa adanya dan tetap berkomitmen dengan pasangan kita itu ?
 Menurut saya , bisa mencintai pasangan kita apa adanya walaupun dengan kekurangan-kekurangan fisik maupun psikologis adalah cinta yang sangat besar.
Ketika kita dihadapi dengan kenyataan akan kekurangan pasangan kita, walaupun menurut saya kita juga nggak boleh takabur gembar-gembor.. "saya pasti bisa menerima pasangan saya apa adanya", karena manusia itu mengalami perubahan dan kita nggak bakal tahu apa yang terjadi dalam hidup kita nantinya.
Tapi mungkin yang bisa dilakukan adalah kembali mengingat-ingat niat awal kita bersedia menjalankan hubungan dengan pasangan kita itu ....

Ps. Tulisan ini saya tulis sebagai catatan untuk saya sendiri.
Terima kasih untuk film testpack... Salah satu kriteria film yang bagus menurut saya adalah yang bisa membuat saya berpikir dan membuat catatan untuk diri saya sendiri... Bravo, testpack!!

Jumat, 31 Agustus 2012

(cerita mudik) Rumah kenangan penuh cinta


Lebaran tahun ini menjadi lebaran yang indah dan penuh kenangan, karena setelah sekian tahun absen mudik lebaran, kali ini saya+keluarga (8 dewasa+1 anak balita+1 anak batita) bisa ikutan tradisi mudik lagi. 
Terakhir berurusan dengan permudikan adalah di tahun 2006, lebaran pertama tanpa eyang kakung dari pihak mama.

Ketika eyang dari pihak mama yang tinggal di Pati, Jawa Tengah masih hidup, keluarga saya memiliki aturan merayakan berlebaran bergiliran, setahun di Jakarta di mana kebanyakan keluarga bapak tinggal dan tahun berikutnya dirayakan di Pati, di mana tempat keluarga mama berkumpul.
Kalau boleh jujur, waktu saya kecil saya lebih antusias ketika giliran merayakan berlebaran di kampung yang jauh dari keramaian Jakarta. Bahkan ketika saya dan kakak saya @fitriawahid masih SD hingga SMP liburan Ramadhan+lebaran selalu kami habiskan di rumah eyang.

Mungkin karena kami tidak tinggal berdekatan ketika kami, para cucunya berlibur, eyang akan memberikan servis yang sangat memuaskan dan 'sangat mahal'. 'Sangat mahal' karena syarat dengan kasih sayang eyang yang tidak bisa terbeli oleh apapun.

Rumah eyang yang kini sudah berubah dari rumah tradisional menjadi rumah yang sangat modern. Rumah yang dulunya hanya dialiri listrik pada jam-jam tertentu, rumah yang dulunya memiliki bagian yang berlantai bukan dari keramik, rumah yang memiliki bagian atap yang seperti 'ijuk' sampai-sampai kakak saya pernah menganggap rumah eyang saya itu gubuk, rumah dengan bak mandi besar berwarna abu-abu suram dan setiap kali mau mandi harus mengisi air dengan menimbanya terlebih dahulu... Kini berubah menjadi rumah modern yang semuanya ditutupi oleh keramik, sudah tidak ada bagian atap yang berijuk lagi, sudah tidak ada bak mandi berwarna abu-abu suram dan berganti dengan kamar mandi modern dengan warna yang ceria. Dengan adanya listrik 24 jam kapanpun kami bisa menonton TV, bahkan sudah terpasang Indovision.

Rumah kini boleh berganti bernuansa modern, tapi ajaibnya perubahan itu tidak sedikitpun menghapuskan kenangan saya akan eyang kakung dan eyang putri yang sudah tiada. Tiap jengkal setiap sudut dari rumah itu mengingatkan saya akan kasih sayang yang pernah mereka berikan kepada kami semua.
Masih ada dalam ingatan  eyang saya bersantai di kursi malas yang terbuat dari kayu di ruang tamu yang sangat lapang itu, tempat tidur tinggi yang terbuat dari besi dan berkelambu mengingatkan saya akan kelonan eyang putri penghantar tidur, masih ingat meja kecil di dekat meja makan tempat eyang kakung menikmati tehnya di sore hari, masih ingat eyang kakung yang menyembelih ayam untuk kami makan (sekarang tugasnya tergantikan oleh sepupu saya), masih ingat eyang putri dengan kebaya anggunnya yang tiap malam sebelum tidur melepaskan gelungan kondenya dan selalu meminyaki rambutnya dari botol cem-ceman berwarna hijau, masih ingat ketika saya cengeng eyang kakung saya memarahi dan menyuruh saya untuk pulang ke Jakarta dengan kereta tebu, masih ingat waktu saya kecil eyang putri pernah berjualan telur ayam, setiap sore beliau mengajak kami masuk ke kandang ayam untuk mengambil telur dan menghitunganya... Dan masih kenangan lainnya...

Kenangan indah itu sekarang tidak akan pernah mungkin terulang lagi,
Kenangan manis itu sekarang hanya sebatas kenanagan....

Sudah 9 tahun eyang putri meninggalkan kami, sudah 6 tahun eyang kakung meninggalkan kami...
Kapan terakhir kami semua merayakan lebaran bersama-sama di rumah penuh kenangan itu ?
Entahlah ? Mungkin 12 tahun yang lalu? Karena sebelum eyang putri meninggal saya tinggal di Jepang, saya tidak bisa ingat dengan persis terakhir merayakan lebaran di sana dengan formasi yang lengkap dengan semua adik-adik mama beserta keluarganya.

Tapi, setelah sekian tahun tidak merayakan lebaran dengan formasi lengkap..
Berlebaran di rumah eyang tetap menyisakan kenangan indah yang sama untuk saya.
Memang eyang sudah tidak ada bersama kami di sini tapi kami tetap bisa merasakan kebersamaan yang indah..
Anggota keluarga besar pun bertambah dengan para cucu mantu dan buyutnya yang membuat suasana semakin ramai.
Saya berharap eyang kakung dan eyang putri di sana bisa tersenyum melihat kebersamaan kami yang mengobrol akrab di malam takbiran, kebersamaan kami heboh nonton pawai takbiran, kebersamaan pergi nyekar ke makam eyang, pergi ke masjid untuk sholat Ied (walaupun saya nggak ikutan sholat), kebersamaan bersalaman saling memaafkan, dan tentu saja kebersamaan berebut aneka makanan yang disedikan yang semuanya maknyuuuss!

Rumah, ketika ditinggal pemiliknya terkadang berubah menjadi 'dingin'
Kehangatan rumah yang pernah ada ketika ditinggal pemiliknya terkadang berubah menjadi hampa.
Tapi tidak dengan rumah eyang di Pati ini...
Rumah ini bagi saya tetap menghadirkan kehangatan, tetap memberikan keceriaan dan keriaan.
Mungkin kehangatan dan keceriaan yang saya rasakan walau telah bertahun pemiliknya meninggalkannya adalah karena semasa hidupnya eyang kakung dan eyang putri selalu mengisi, mendekor dan membenahi rumah ini dengan kasih sayang dan cintanya supaya teruuus bisa dirasakan oleh anak, cucu, buyutnya.....

★Alfatihah untuk eyang kakung+eyang putri....

Senin, 13 Agustus 2012

Bulan Agustus, bulan perayaan...

Bulan Agustus, bagi keluarga kami adalah
bulan dengan banyak hal yang perlu dirayakan, perlu disyukuri.

Tanggal 7 Agustus, adalah ulang tahun pernikahan mamah-bapak,
tahun ini adalah ulang tahun yang ke-37.
Saya tahu kehidupan pernikahan orang tua saya, tentu saja seperti kehidupan pernikahan orang lain,
bukanlah kehidupan yang sempurna...
Walau tidak pernah sama sekali mereka ribut-ribut di depan kami anak-anaknya...
Tentu saja mereka tidak selalu sepaham,
tentu saja mereka terkadang berdebat...
Tetapi, buat saya, saya ingin bisa mencontoh keteladan pernikahan mamah-bapak.

Tanggal 11 Agustus, adalah ulang tahun si #suamijepang yang ke-sekian...
Hehehe yang ke-39 tepatnya!
Saya selalu mendoakan supaya #suamijepang tersayang ini bahagia dunia-akhirat
Hidupnya senantiasa dilimpahi hidayah+barokah...
Dimudahkan segala urusannya...
Dan, diangkat semua penyakitnya...
#suamijepang minta dibeliin hadiah dompet, tapi kita belum punya waktu untuk cari-carinya
Sebagai seorang Leo, emang si #suamijepang ini suka keras kepala... Termasuk dalam urusan cari-cari barang, kekeuh ada kriterianya yang hanya dia dan Allah SWT yang tahu kriterianya itu apa..
Jadi, daripada sok-sok kasih surprise diany juga gak gitu sreg, mendingan kita sama-sama cari
Perayaan kecil2an.. Shortcake untuknya, Choclate Amer untukku
Tanggal 14 Agustus, ultah keponakan tersayang FAIZA RISMADINA WAHID
Tahun ini ultahnya yang ke-4! Obsesinya jadi pramugari, mungkin karena kecil-kecil begini dia sudah suka traveling... Untuk bisa mewujudkan cita-citanya itu, Faiza yang cenderung susah makan sekarang lumayan giat makan, katanya biar cepet tinggi kayak pramugari dan bisa angkat-angkat koper. (lol)

Dengan aneka hal yang harus disyukuri tadi + bikin acara buka puasa bareng, jadilah hari minggu kemarin (12/8) diadakan bukber di rumahnya mr&mrs Hashimoto, alias rumah saya sih sebenarnya!
Hadirinnya sih benar-benar cuma keluarga dekat-dekat saja...Beberapa orang sepupu dan beberapa orang keluarga besannya adik. Karena si keluarga besan itu kan juga pengen ngerayain ultahnya si cucu pertama.

Acara :
Dimulai dengan siraman rohani.. Bukan ceramah, sih.. Tapi ya ngobrol-ngobrol saja.. Temanya juga ngalor ngidul mulai dari tema tentang 'usia yang manfaat' (berhubung pada ultah), 'doa' dan juga tentang 'sabar'

Berikutnya, acara yang sudah ditunggu-tungga Faiza selama berbulan-bulan, yaitu tiup lilin!
Kue ulang tahunnya tahun ini bertema DORA
Sejujurnya saya sih nggak suka sama rasa kue-kue bertema karakter yang ngetren banget untuk acara ulang tahun anak-anak.. Mungkin karena pada dasarnya nggak terlalu suka kue dengan cream! Sementara kue-kue ultah anak-anak ini kan selalu pakai cream yang berlebihan

Hidangan
Nasi Peda+Nasi Kebuli,
Tekwan
Bakwan Jagung
Risol+sambel kacang
Serabi
Chicken ... (apa ya namanya lupa.. Buatan Anggie, sepupu saya)
Birthday cake DORA untuk Faiza dan Red Velvet dari Ndoroputri, kakak saya untuk si #suamijepang

(niatan mau foto-foto tapi nggak sempet deh)
Sempatnya cuma pas tiup lilin itu juga goyang hahaha




Tutup lilin tandem.. Kue dora untuk Faiza, Red velvet utk  oom Hashi












                                                                           





Minggu, 05 Agustus 2012

Cuap cuap bahasa Indonesia #suamijepang

Suatu yang seru dari nikah antar bangsa adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, begitu juga dalam kehidupan pernikahan kami ini.
Hampir 80% komunikasi yang kami lakukan adalah dalam bahasa Jepang, tapi tentu saja ada saat-saat di mana kami berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Dan walaupun saya bekerja sebagai penerjemah bahasa Jepang, tetap saja saya bukan native Jepang,sudah tidak terhitung kesalahan bahasa yang saya perbuat... Misalnya mau ngomong di rambut suami ada "shiraga" alias uban, eh malah jadinya "shirami" alias kutu...

Begitu juga dengan #suamiJepang yang memang pada dasarnya nggak berbakat di bidang bahasa, sudah banyaak sekali 'kesalahan-kesalahan' lucu yang dilakukan #suamiJepang dalam berbahasa Indonesia...
Berhubung (menurut) saya ini lumayan lucu, saya mau berbagi cerita lucu ini...

1. Suatu hari #SuamiJepang berkenalan dengan seseorang. Saya yang duduk di sebelahnya asik mendengarkan percakapan mereka berdua,ketika percakapan masuk mengenai pekerjaan tiba-tiba saya ngakak keras..
            Kenalan baru  : "Jadi, H san kerjanya di mana ?
            Suami Jepang :  Di Kacung (suaranya penuh percaya diri) 
            Kenalan baru  :   HAH ?? 
* memang sih, suami saya itu orangnya rajiin banget terutama dalam hal ngeladenin orang.. Tapi, bukan bukan karena dia kerja sebagai kacung atau yangt berbau-bau kacung.. Dia sebenarnya ingin bilang kalau kantornya itu berlokasi di Cakung.

2. Suatu malam melihat saya membaluri tubuh saya dengan minyak telon, tiba-tiba suami berkata

           Suami Jepang  : Saya baru tahu kalau nasu* di Indonesia itu bisa bikin badan jadi hangat
           Vita                 : Nasu gimana sih ? di mana-mana nasu nggak bisa bikin hangat badan kali
           Suami Jepang : Loh ini ? Ini bahannya dari nasu kan ? dari terong ?
           Vita                 : *Ngakak sejadi-jadinya*

Note. Nasu dalam bahasa Jepang artinya terong.... Berhubung dalam aksara bahasa Jepang nggak ada huruf L jadi orang Jepang sering salah antara R dan L. Dan huruf N sering dilafalkan seperti 'nG'. Jadilah suami Jepang mengira MINYAK TELON adalah MINYAK TERONG.

3. #SuamiJepang yang baik hati sangat ringan tangan dalam membantu, termasuk kalau lagi bersantai di rumah orang tua saya, dia terkadang membantu para ART membawa aneka nasi beserta lauk-pauknya dari dapur yang ada di lantai bawah ke ruang makan lantai atas (ada 2 ruang makan di rumah ortu saya). Suatu hari, sehabis bantu-bantu #suamiJepang masuk ke kamar sambil tersenyum
           
            Suami Jepang  : Kata bibik aku seksi, loh... 
           Vita                 : HAH ? dilihat dari mana ? Bohong kali si bibik
           Suami Jepang  : Nggak, beneran dia bilang aku seksi.. Seksi konsumsi... (dengan muka serius)
           Vita                 : Bwahahahaah
           Suami Jepang  : Konsumsi itu artinya apa ya ? 

4. Suatu pagi sambil minum kopi di teras belakang saya baca koran KOMPAS

           Suami Jepang  : Tokyo DisneyLand harganya naik saja bisa masuk KOMPAS ya ?
           Vita                 : Mana beritanya ?

   #SuamiJepang kemudian mnenunjuk satu artikel
  Aaaaah capek deh, di Indonesia TDL itu artinya Tarif Daftar Listrik bukan Tokyo Disney Land!!

5.  Pulang kerja #suamiJepang mengadu pada saya...
    
          Suami Jepang : Kenapa ya kok hari ini pak Wondo (supirnya-red) sering senyum-senyum terus
                                  dengar saya bicara
          Vita               : Memangnya kamu ngomong apa ?
          Suami Jepang : Saya cuma kasih instruksi untuk pergi ke MERANA BUDI dan MERANA               
                                   Jamsostek...
          Vita               : *menahan senyum*

Untuk kali ini, saya bagi 5 kelucuan (baca:kesalahan) berbahasa Indonesia si #SuamiJepang... Menurut saya sih lumayan lucu... Nggak tau kalau bagi kalian-kalian semua bagaimana ?

Senin, 30 Juli 2012

'Egao wo tsukuru shigoto'

Kira-kira kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah
'pekerjaan yang membuat orang lain tersenyum'

Kata-kata ini saya dapatkan dari klien saya hari ini.
Sebenarnya klien ini adalah klien baru saya, tapi sejak saya dengar perusahaan ini mau ekspansi bisnis di Indonesia, sebenarnya saya selalu berharap dapat tawaran kerja dari sini.
Berharap dengan sering-sering berpikir enaknya kalau saya bisa kerja bareng.
Alhamdulillah, harapan-doa saya terkabul.
Makanya, ketika pihak JAC saya menawarkan kerjaan ini ke saya... Langsung saya balas bbm-nya dengan senyum lebar di muka saya..

Sebagai pekerja penerjemah lepas, sesuatu yang saya nikmati adalah berbincang-bincang dengan si klien untuk tahu sejarah perusahaan, cerita di balik pekerjaannya itu sendiri dan juga tentang si klien itu sendiri.
Walau pekerjaan yang ditawarkan hari ini hanya setengah hari, yang berarti saya tidak punya cukup banyak waktu untuk ngobrol ngalur ngidul dengan si klien.
Dalam perjalanan pulang dari meeting kami bisa sedikit banyak bercakap tentang ini-itu.
Saya jadi tahu sedikit tentang sejarah perusahaan, sejarah produk andalannya termasuk dengan target market dengan attitude dan lifestyle yang berbeda dengan target market di Jepang atau di negara lainnya.
Lucunya si klien ini tiba-tiba menawarkan sebuah posisi pekerjaan untuk saya.
Dan hampir sisa dari setengah perjalanan dia berusaha meyakinkan saya dengan membeberkan beberapa keuntungan kalau saya mau bekerja di perusahaannya.

Dari sekian poin yang digunakannya untuk meyakinkan saya mau bekerja di tempat kerjanya adalah
bahwa saya akan selalu tersenyum kalau kerja di tempatnya.
Karena pekerjaan yang akan dilakukan nanti adalah pekerjaan yang akan selalu membuat orang tersenyum
                                               'Egao wo tsukuru shigoto'

Aaaah sebuah kata yang simple namun indah menurut saya.
Terlepasa dari mau tidaknya saya menerima 'lamaran' mendadak ini, saya sih maunya pekerejaan saya adalah 'egao wo tsukuru shigoto' adalah pekerjaan yang bisa membuat orang lain terus tersenyum....



Senin, 23 Juli 2012

Berhenti sejenak

Perekonomian Indonesia yang terus maju,
Pasar Indonesia yang katanya seksi,
Membuat investor Jepang banyak melirik Indonesia... Dan, artinya semakin banyak orang-orang Jepang yang datang ke sini untuk bekerja...Dan, Alhamdulillahnya pekerjaan untuk penerjemah Jepang makin bertambah.. Dan, Alhamdulillahnya lagi, pekerjaan saya ikut bertambah. 
Awal tahun ini pekerjaan saya, Alhamdulillah semakin beraneka ragam... JBuumlah klien bertambah, jenis pekerjaan pun makin beragam...
Memasuki bulan Mei hingga minggu lalu, pekerjaan hampir tidak ada jeda...
Tampaknya semua 'berebut' mau biztrip ke Indonesia sebelum Ramadhan...
Jadi, sabtu-minggu hampir-hampir tidak ada waktu libur karena pekerjaan menuntut begitu.

Senang ? Pastinya saya senang....
Saya dapat sekali banyak pengalaman dan pelajaran...
Tentu saja gak lupa saya mengucap syukur atas rejeki yang tidak putus ini...
Tapi entahlah,kemarin ini saya merasa kelelahan saat ini.
Kemarin ini saya seperti berlari cepat tanpa istirahat.. tanpa jeda...
Berlari cepat tanpa ada yang mengejar
Berlari cepat tapi garis finish itu nggak juga kelihatan

Masuk bulan puasa ini, saya mau berjalan lebih santai
Saya mau berhenti sejenak dari semua huru hara kemarin itu
Saya mau lebih mendekatkan diri padaNya
Saya mau lebih berkontemplasi apakah arah lari saya yang kemarin-kemarin itu sudah benar
Mudah-mudahan di ujung Ramadhan nanti, nggak cuma kemenangan dari menahan hawa nafsu yang saya dapatkan,
Tapi juga saya berharap menemukan jawaban apakah saya sudah berlari ke arah garis finish yang benar atau belum....




Minggu, 22 Juli 2012

Wajar... ?Tidak wajar... ? Bertanyalah pada tempatnya....

Salah satu 'tugas' yang dihadapi saya sebagai penerejemah adalah menerima pertanyaan klien-klien Jepang saya seputar kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia. Terlebih belakangan ini saya lebih banyak bergelut di bidang 'marketing research' sehingga saya sering berhadapan dengan klien-klien yang emang getol banget untuk tahu mengenai Indonesia tidak hanya dari kulitnya saja, tapi juga pengen tahu lebih dalam tentang value, mindset, behaviour orang Indonesia. Ibaratnya mau tau orang Indonesia sampai ke jeroan2nya deh!

 Saya sendiri sebagai orang Indonesia punya minat yang sangat besar tentang hal tsb, jadi saya selalu semangat untuk mengikuti aneka macam riset apapun itu bentuknya, home visit,FGD, IDI, dsb dsb... Karena saya selalu mendapat ilmu baru sehabis saya kerja, bukan saja ilmu penerjemahan atau ilmu bahasa Jepang ya.... Tapi, lebih dari itu dari setiap riset yang saya ikuti, saya selalu belajar tentang pandangan orang lain, tentang value hidup,dsb... Percaya atau tidak ini membuat saya lebih banyak bersyukur dam bertoleransi.... (inilah yang membuat saya suka dengan pekerjaan saya) Kembali ke soal pertanyaan-pertanyaan klien Jepang saya... Dalam pekerjaan riset ini, katanya demi mengetahui orang Indonesia lebih dalam, seringkali si Jepang-Jepang ini mengajukan pertanyaan yang ajaib.Hmmm, sebenarnya pertanyaan ajaib ini definisi saya sendiri sih, karena sesuatu yang saya anggap wajar tetapi menurut sudut pandang orang asing (baca Jepang) adalah bukan hal yang wajar, bukan kebiasaan mereka.. Contohnya : "kenapa orang Indonesia mandi 2 kali sehari ?" "apakah wudhu di rumah dengan wudhu di tempat kerja yang dilakukan sama?", "kenapa orang Indonesia nggak boleh mandi waktu panas?", "kenapa orang Indonesia suka minum teh manis (padahal kan gak semua orang ya?)", "kenapa orang Indonesia banyak yang sakit maag?", "kenapa orang Indonesia suka ngobrol?" dan aneka kenapa-kenapa lainnya... Aneka pertanyaan yang kadang pengen saya jawab dengan "meneketehe" atau "udah dari sononya kali" atau kadang pengen balik nanya "lah orang Jepang kenapa nggak begitu?"

Jumat lalu, terhimpit di antara 2 klien tersayang saya di dalam innova yang membawa kami dalam perjalanan dari Tanjung priok-Semanggi selama 3 jam, membuat kami berdiskusi seru akan hal ini... Sebagai penerjemah+sebagai orang Indonesia terus terang saya walau terkadang terheran-heran, pertanyaan-pertanyaan ajaib saya tertantang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.. Walau seringkali jawaban yang ada adalah sama sekali jawaban yang logis, tapi terus terang kadang saya terganggu dengan pertanyaan yang sifatnya terlalu pribadi atau menyerang... Kemudian saya ingat, waktu tinggal di Jepang saya juga kerap menanyakan hal-hal yang menurut saya tidak wajar, tetapi sebenarnya adalah sesuatu hal yang wajar bagi orang Jepang.... Seperti : "kenapa orang Jepang cuma mandi sehari sekali, dan masuk ofuro?", "kenapa orang Jepang selesai makan senenngnya minum ocha?", "kenapa cewek2 SMA Jepang hobi banget pake rok super mini padahal lagi musim dingin?", "Kenapa cewek Jepang ngomomgnya suka disengau2in?", "kenapa cowok Jepang suka pada bentuk alisnya?" "kenapa orang Jepang rata2 nggak beragama?" "katanya orang Jepang nggak beragama, kalo ke kuil berdoa ama siapa dong?" dan sekian ratus pertanyaan kenapa lainnya..

Pertanyaan yang sebenarnya mungkin tidak ada jawabannya, pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab bahkan mungkin pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu saya tanyakan. Kesimpulan kami bertiga, seringkali dengan alasan 'orang asing' kita merasa berhak bertanya akan hal apapun kepada orang yang tinggal di negara (daerah) lain, apa yang kita tanyakan itu terkadang adalah sesuatu hal yang di luar kebiasaan kita,terkadang kita merasa sesuatu yang di luar kebiasaan kita adalah sesuatu yang tidak wajar(kalau tidak mai dibilang aneh). Karena kita, sebagai manusia merasa hidup berpatokan dengan nilai dan pandangan yang kita anut, jadilah kita merasa WAJAR untuk menanyakan alasan terhadap sesuatu yang kita anggap TIDAK WAJAR tadi. Pelajaran yang bisa kami ambil bertiga dari obrolan di tengah macet adalah Padahal belum tentu semua hal memiliki alasan di baliknya.... Dan belum tentu semua pertanyaan memiliki jawaban.... Yang lebih penting lagi, belum tentu setiap yang kita anggap 'tidak wajar' itu pantas ditanyakan.... Jangan karena kita 'orang asing' kita merasa pantas untuk menanyakan apapun.... Bertanya itu di manapun tempatnya butuh kepekaan.... Setuju dengan kami bertiga ?

Selasa, 17 April 2012

Mencontek itu ternyata..... Universal!

Berita tentang UN alias Ujian Nasional ramai menghiasi media beberapa hari belakangan ini.
Anehnya yang diberitakan itu bukan berita yang baik-baik. Berita tentang kebocoran soal ujian, jual beli kunci jawaban, cerita tentang guru yang sengaja mengumpulkan para siswanya untuk kasih tahu kunci jawaban, dan sejenisnya dan sebagainya.
Rasanya hampir bisa dibilang tidak ditemukan 'keceriaan' dalam berita tentang ujian nasional yang disuguhkan.. Ya iyalah namanya juga ujian ? Iya juga sih yang namanya ujian baik ujian di sekolah maupun ujian hidup pastinya 'susah' dan tidak menyenangkan.
Mungkin saya agak lebay, ya.. Tapi kok kayaknya berita tentang Ujian Nasional ini memberikan kesan bahwa UN ini seperti sebuah momok yang menakutkan.. Mencekam!! (oke saya tau saya lebay...)
Dan semakin ba
Perasaan zaman jadul dulu, zaman saya ikut EBTANAS, rasanya nggak sebegitu menakutkan seperti sekarang.
Eh, tapi ngomong-ngomong dulu udah ada belum sih jual beli kunci jawaban seperti sekarang ? Mungkin ada ya ? Tapi nggak seheboh sekarang...
Kalau saya sih ingatnya cuma suka banyak teman yang nyontek waktu ujian. Kalau saya ? Saya sih nggak pernah nyontek.. Bukan, bukan karena sok suci.. Tapi, karena cemen aja, nggak berani ikutan nyontek. Karena saya tipe orang yang grasa-grusu, pasti langsung ketahuan deh kalo nyontek (ngebet). Sesekali lah waktu zaman sekolah dulu tanya sama teman di kiri-kanan, tapi itupun udah dag dig dug mampus.
Makanya saya juga terkagum-kagum sama teman yang jago banget ngebet dari buku, atau bikin klepekan di secarik kertas yang ditulis kecil-kecil... Sumpah kagum banget! Dulu pernah kepikiran pengen bisa kayak gitu, karena hidup tenang dan damai di saat ujian, tapi apa daya tangan tak sampai... Saya nggak punya kemampuan untuk itu.
Kekaguman saya makin bertambah ketika saya kuliah di sastra Jepang, kagum sama teman-teman saya yang jago bikin kebetan dengan huruf kanji. Tapi kadang mikir juga sih, daripada repot-repot bikin kebetan gitu bukannya mendingan belajar yang benar saja ya ? Soalnya kayaknya justru ribetan bikin contekan..

Ngomong-ngomong soal contek mencontek, soal ngebet dari buku atau bikin kebetan di kertas, ternyata nggak dimonopoli oleh orang Indonesia loh!
Alkisah, waktu saya sekolah bahasa Jepang di sebuah Universitas Swasta di Jepang. Mungkin seperti umumnya di Bekka (Japanese course) di universitas lain, setiap hari senin dan jumat diadakan ujian bahasa Jepang. Ujian-ujian ini sih tujuanya hanya sekedar tes kemampuan saja, untuk tahu gimana perkembangan kita belajar selama seminggu itu bagaimana.
Ujian yang buat saya nggak berarti apa-apa karena toh memang tujuannya untuk tau perkembangan kita sampai mana. Jadi, saya selalu belajar sekedarnya, dan jawab ujian itu semampu saya untuk tau saya bisanya sejauh mana. Saya pikir, teman-teman saya yang dari berbagai macam negara itu juga akan beranggapan sama, karena memang itu yang diwanti-wanti sama para sensei. Dan, saya pikir di sono bukan Indonesia gitu loh! nggak adalah orang yang 'nggak jujur' dalam ujian.
Eh, tapi ternyata tanggapan saya salah... Banyak banget teman-teman saya dari China yang dengan santainya ngebet dari buku yang tersimpan rapi di laci meja. Teman-teman dari Korea yang saling kasih kode, sampai teman saya yang blasteran Jepang-Amerika yang seksi dengan santainya nulis kebetan di pahanya. Juga beberapa teman saya yang lainnya.Yang paling saya terkejut adalah teman saya dari Denmark, cewek ini aktivis perempuan gitu, paling tua di kelas.. Waku itu rata-rata kita berusia 20tahunan, sementara tante dari Jerman sang aktivis ini usianya sudah mendekati 40 tahun,mau masuk S3 di Universitas tsb, dan orangnya penuh idealisme gitu.. Tapi, dengan santainya dia tetap loh bikin kebeten berupa huruf kanji kecil-kecil yang ditulis di secarik kertas dan disimpan rapih dikotak pensilnya.Dalam hati saya ingin tertawa, jangan bilang yang tukang nyontek itu orang Indonesia saja... Ternyata nyontek itu, bikin kebetan itu universal ya... !
Tapi, rasanya kendati contek mencontek itu unviersal, kayaknya di negara lain nggak akan ditemukan deh berita tentang ujian nasional seheboh berita di Indonesia...



Jumat, 13 April 2012

2 hari bersama prof. Tanaka

Sesuatu yang saya cintai dari pekerjaan penerjemah adalah bisa ikut belajar gratis tentang ini itu.
Seperti 2 minggu yang lalu saya berkesempatan  menemani prof. Hideharu Tanaka dari Kokushikan University.
Profesor Tanaka ini adalah ahli trauma, resuscitation dan prehospital emergency system.. Apalah saya juga bingung jelasinnya. Tapi dalam perkenalan begitulah beliau menjelaskan keahliannya.

Kali ini saya berkesempatan menemani beliau dalam 2 hari seminar yang diadakan di Jakarta dan Surabaya mengenai penanganan henti jantung mendadak oleh orang awam di Jepang.
Salah satu faktor tingginya angka kematian serangan henti jantung mendadak adalah dikarenakan tidak adanya fasilitas di tempat kejadian,baik berupa peralatan yang dibutuhkan ataupun orang yang dapat memberikan pertolongan itu.

Dalam kesempatan ini Profesor Tanaka memberikan presentas tentang pengalamannya di Jepang dalam hal CPR (pertolongan pertama yang dilakukan untuk orang yang mengalami henti jantung mendadak) dan penggunaan AED (automatic external defibrilator/alat kejut jantung .
 Profesor Tanaka menjelaskan kalau di Jepang kesadaran untuk segera menolong orang yang terkena serangan sudah sangat tinggi. Dari diskusi para peserta, saya jadi tau bahwa termasuk saya kesadaran orang Indonesia untuk hal ini justru masih terbilang rendah.Saya sendiri merasa tidak tau apa yang harus saya lakukan ketika misalnya di dekat saya ada orang yang terkena serangan jantung. Harus bagaimana ? Harus menelpon ke mana ?
Di Jepang, seperti juga latihan tanggap bencana seperti gempa, training untuk ini sudah dilakukan sejak mereka kecil.
Profesor Tanaka memiliki program untuk latihan mengenai CPR dan AED ini dari mereka TK. Jadi, menurut beliau paling tidak sampai usia 18 tahun, ketika seorang siswa tamat SMA mereka sudah mengikuti 4 kali latihan, ketika TK, SD, SMP dan SMA. Tujuan dari latihan-latihan ini bertitik berat pada 'Meningkatkan Kesadaran orang awam'. Umumnya anak sekolah ketika diberikan satu latihan akan bercerita kepada orang tuanya, di sini kesadaran orang tua pun bisa ikut meningkat.
Profesor Tanaka menceritakan tentang beberapa kasus serangan jantung si pasien bisa terselematkan karena 1st respondernya adalah para siswa SD. Mereka tau harus bagaimana dan mereka harus menghubungi siapa. Sehingga pertolongan dapat segera dilaksanakan.
Di samping itu, di Jepang di berbagai sudah memiliki alat AED, sehingga sebenarnya tanpa harus menunggu ambulance (yang akan datang dalam waktu 10 menit sesudah ditelpon) pertolongan dengan AED ini sudah dapat dilakukan.
Di sekolah, tempat perbelanjaan, stasiun kereta/subway, tempat-tempat olahraga, gedung perkantoran, convinient store, dan di tempat keramaian lainnya pasti terpasang alat AED ini. Pemerintah Jepang memang menyarankan pemasangan alat AED ini, tapi tidak ada hukum yang memayunginya.Mereka melakukannya karena kesadaran akan pentingnya pemasangan alat AED tersebut. Begitu juga semakin banyak orang Jepang yang sadar untuk mengikuti pelatihan  CPR/AED ini. Sementara kesimpulan dari para peserta, di Indonesia karena kesadaran orang Indonesia masih rendah, kalau tidak ada hukum yang memayunginya, tempat yang tergerak untuk memasang alat AED dan orang-orang yang tergerak untuk ikut training CPR/AED ini masih sangat sedikit.

Kesimpulan saya : Semua itu diawali dengan kesadaran. Semua harus didasari dengan niat untuk membantu orang. Mungkin masih banyak orang yang ingin membantu ketika orang terkena serangan jantung/kecelakaan, tetapi ragu atau takut tidak bisa melakukannya dengan benar, takut nanti hasilnya justru memperparah keadaan. Cambuk buat saya sendiri, semua itu harus kembali kepada niat membantu orang. Karena tidak ada yang pernah salah dari niat itu.

Intermezzo 
Yang saya nikmati selama di Surabaya
1. Makan rawon di hotel Elmi









Rawon ini rasanya Jawa Timur banget! meningatkan rasa rawon yang dimasak di Matraman, kediaman almarhumah eyang saya. Sulit deskripsiinnya! Tapi pasti pengen makan sampai tandas dan nagih banget!
2. Klaapertart
Beli untuk oleh-oleh. Kok beli klaapertart di Surabaya ? Saya juga awalnya bingung.. Tapi, klapeertart ini enak. Tidak berair/bertaburan buih kocokan putih telur, klaapertaart ini bentuknya 'kering' sepeti kue bolu, tapi rasanya sungguh tidak biasa... Nggak bikin enek, dengan rasa manis dan rasa kenyal kelapa yang pas.
Bisa dibeli  di : Caryabudi Klaapertart, Ngagel Jaya 52, no. telp (031-5023327) (Sebaiknya telpon dulu)
3. Otak otak bandeng ibu Muzana,Gresik
Akhir-akhir ini saya memang tergila-gila otak-otak Bandeng Jawa Timur yang ada perpaduan rasa pedasnya.
Berhubung memang saya mau berkunjung ke rumah sepupu di Gresik, jadi saya sempatkan untuk mampir di toko ibu Muzana ini. Alamatnya di Jl. Sindojoyo no. 68 Gresik (belakang pasar Gresik).
                                                     No. Telp 031-398-3978









Sabtu, 31 Maret 2012

Jalan-jalan : Bogor

Mumpung pas barengan punya 1 hari libur, hari jum'at lalu saya, @audrisani alias Dina dan @liliksari alias Lilik dolan ke Bogor...  Kali ini sebenarnya perjalanan ke-2 kami ke Bogor.
Lokasi yang tidak jauh dari Jakarta, wisata kulinernya maknyus... Dan!! yang paling penting, sebenanrya tujuan utama kita adalah beli celana jeans Levi's di factory outlet. 

Perjalanan kami diawali dengan menjemput Lilik di rumahnya yang asri dan keren di Sentul. Sebenarnya pengen berleha-leha dulu di rumahnya Lilik, tapi berhubung ini hari jumat dan Pawit (supir saya) harus melaksanakan sholat Jumat, kami langsung capcus ke Bogor. Tujuan pertama kami adalah makan siang sembari menunggu Pawit yang sholat Jumat. 

Pilihan restoran untuk makan siang adalah De' Leuit yang terletak di Jl.Padjajaran. Restoran 2 tingkat luas dilengkapi dengan saung-saung yang asri. 
Andalan di De'Leuit ini adalah ikan mas pepes... Bumbu pepesnya pas banget... 1 ekor ikan mas pepes tandas oleh kita bertiga sampai ketulang-tulangnya yang empuk. 
Ikan gurame khas De'Leuit yaitu ikan gurame fillet goreng tepung yang disiram dengan sambal mangga. Paduan rasa asam-pedas-manis dari sambal mangganya sangat segar dan dijamin bikin kita melek. 
Rujak Pengantin, Pepes oncom dan bakwan jagungnya (walopun potonganya kecil) melengkapi kenikmatan kami makan siang sambil ngobrol-ngobrol siang itu.

ikan pepes, ikan gurame de'leuit rujak pengantin kangkung dll

Tujuan berikutnya adalah kunjungan ke factory outlet. Incaran pertama kami adalah Bogor Boutique Outlet yang beralamat di jl.Pajajaran no. 9. Di FO ini tersedia celana jeans yang murmer. Yang kami incar adalah celana jeans dengan merk (konon) 'LEVI'S'. Modelnya cukup lucu-lucu sayangnya ukuran untuk saya dan Dina jarang ada... Yang banyak tersedia yang ukurannya kecil untuk mereka yang super langsing atau ukuran yang besar-besar. Beruntung kali ini saya bisa dapat 1 celana jeans lumayan untuk nambah koleksi. 
Setelah itu kami juga berkunjung ke beberapa FO, Lilik dapat jaket biru yang lucu. Tapi secara keseluruhan kunjungan FO kali ini nggak begitu sukses... Hehehe mungkin lain kali bisa dapat peruntukan yang lebih baik,ya

Perjalanan kami lanjutkan ke Roast Chicken untuk cemal-cemil sore. Di Roast chicken  kue soes blueberry, pastel pannggang dan wedang sekoteng kami pilih untuk teman curcol kami. 
Kulit kue soes yang garing-garing dipadu dengan cream blueberry yang manis manis asem wajib dicoba kalo berkunjung ke Roast Chicken ini, sayangnya Lilik nggak terlalu suka karena terlalu manis. Lilik kosentrasi dengan pastel tutup panggang. Pastel tutupnya juga wajib coba, isinya meat sauce, telur puyuh dan potongan susis... Yummy!
kue soes blueberry



Jalan-jalan singkat ke Bogor dengan teman dekat... 
Belanja, Wiskul, Curcol! Seru 










Senin, 26 Maret 2012

bisnis trip : Surabaya

Tanggal 18-22 Maret minggu lalu kerja seru-seruan di Surabaya
Ada banyak yang bikin seru kali ini, 
Pertama : Jenis pekerjaan yang saya sukai. Berkunjung ke rumah orang alias namu, terus ya ngobrol-ngobrol sama yang punya rumah. Ya, namanya saya termasuk orang yang suka ngobrol ngalor ngidul ya, ya jadi seru aja bisa ngobrol sama tuan rumah. 

Kedua : Kliennya adalah klien favorit saya

Ketiga : Penerjemahnya bukan saya sendiri, tapi sahabat saya, @audrisani alias Dina serta mbak Handa juga ikut serta. Dan, saya nantinya akan sekamar dengan Dina, jadi kebayang dong bisa puas ngobrol-ngobrol siang dan malam. 
Ditambah, saya, Dina dan mbak Handa adalah termasuk orang yang menghargai masakan orang alias tukang makan, jadi sudah terbayang juga tuh pasti di Surabaya nanti kita bisa juga sekalian wiskul.

Tapi, harapan tinggalah harapan, ternyata jadwal di sana begitu padat, boro-boro ada waktu untuk wisata kuliner, kegiatan kami adalah hotel-tempat kerja- hotel-meeting malam! Selamat tinggal wisata kuliner.
Bahkan untuk menengok ke mall sebelah yang nyambung dengan hotel pun kami tidak punya waktu. 
Makan pagi dan makan malam di hotel, untuk hotel punya beberapa menu masakan Jawa Timur yang menjadi  andalan mereka. Paling tidak masih bisa icip-icip nasi goreng Jancuk yang tersohor tapi pedasnya minta ampun, rawon yang handal plus bebek goreng crispy yang super lezat. 

Saya sangat menikmati ketika pekerjaan saya melibatkan banyak orang, mulai dari orang Jepang dengan aneka karakternya, orang dari perusahaan lokal yang tentunya beda karakter juga, dan ada teman penerjemah lain tempat kita saling berbagi cerita untuk menghilangkan rasa penat kerja. Eh, intinya sih 'ngegosipin' Jepang yang kita dampingi dengan segala cerita lucu, keunikan dan keanehan mereka. Hehehehe
Kebetulan lagi, saya dipasangkan dengan Jepang yang.... ehmmm, susah mendeskripsikannya :paling unik!
Banyak banget tingkah lucu dari Jepang yang gue dampingi kali ini... Baik raut mukanya yang datar tanpa ekspresi, nada suaranya yang tanpa intonasi (sehingga orang juga gak tau kalo sebenarnya dia lagi bercanda) dan yang paling lucu, dia nyaris kelupaan sandal! Selesai bertamu dia nyaris melangkahkan kaki ke luar pagar dengan bertelanjang kaki! 

Hari kerja 4 hari terasa singkat karena kami benar-benar disibukkan dengan pekerjaan. 
Walau nggak sempat beli oleh-oleh untuk orang rumah, banyak oleh-oleh ilmu yang didapat, antara lain :
1. Berhubung yang saya dampingi adalah seorang peneliti di laboratorium, jadi banyak dapat ilmu Kimia. 
2. Kerja team benar-benar harus bisa ikuti ritme dan pace kerjanya orang lain
3. Dengan berbagi ilmu ternyata justru banyak ilmu yang kita dapatkan
4. Penerjemah untuk jenis pekerjaan ini benar-benar harus detail dan teliti, tidak hanya sekedar memberikan gambaran umum atau luas saja. Tapi untuk bisa memberikan kepuasan user ketelitian, detail dan keakuratan mutlak diperlukan. 

Ohya, hanya ada 2 oleh-oleh foto yang sempat saya abadikan di Surabaya 

kalender Muslimat di rumah tuan rumah memuat foto eyang kakung+ 2 mbah buyut

Anak-anak menikmati pentolan di sebuah pasar






Senin, 12 Maret 2012

Trip Dadakan : Singapur !

Bicara dari pengalaman, keriaan dengan para sahabat kalau dirancang dari jauh-jauh hari biasanya justru gagal, tapi sebaliknya yang dilakukan secara spontan, dadakan nggak pake rencana yang panjang biasanya justru berhasil.
Itulah yang terjadi ketika saya, @audrisani alias Dina dan @liliksari alias Lilik memutuskan untuk plesiran ke tetangga sebelah, Singapur.Sebenarnya, Lilik memang ada urusan kerjaan di sana, sementara saya sama Dina hanya jadi 'dayang-dayang'nya Lilik saja. 

Setelah mendapat restu dari #suamiJepang di sabtu pagi (3/2) yang cerah, dan Dina mendapat izin dari ortunya, kami langsung mulai reservasi tiket dan hotel. Namanya juga trip dadakan yang berarti trip di luar budget, tentunya perjalanan kami bisa dibilang serba minim budget. 
Lupakanlah sumpah serapah pada Lion Air yang pernah saya lontarkan karena pilotnya ketahuan nyabu. Berhubung Lion menyediakan tiket yang termurah, jadilah kami memilih maskapai ini. Dan untuk hotel kami memilih hotel bintang 2, Hotel Heritage 81 di daerah Bugis. 

Senin  (5/2)
Dengan persiapan yang singkat dan serba minim, berangkatlah kami menuju Singapur, dengan diawali tragedi kunci gembok kopernya Dina yang ketingalan di rumah. Jadilah, sebelum masuk bagasi kunci gembok 'dirusak' di bandara Soetta dan ganti dengan kunci gembok yang baru. 
Berhubung pesawatnya masih gress, penerbangannya sendiri cukup nyaman walaupun tanpa suguhan konsumsi apapun. Di atas sebenarnya kita bisa beli minuman dan camilan, tapi semuanya menurut saya kurang menarik, dan pastinya harganya (agak) mahal. 
Mendarat di Singapur sekitar pukul 15:00, kami langsung naik MRT ke Bugis station. Sempet nyasar waktu mencari hotel 81 Heritage yang tepatnya berlokasi di Jl. Sultan. Lumayanlah jadi sempet liat-liat Arab st. segala, dan kami menemukan untuk akses yang terdekat dari hotel adalah Lavender st. 
Setelah melepas lelah+sholat+bersih-bersih diri di kamar hotel yang cukup bersih dan nyaman walau agak sempit dan kamar mandinya ajaib, kami memutuskan untuk pergi makan. 
Berhubung sudah terlalu lapar kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran Turki di Arab street yang jaraknya hanya  5 menit jalan dari hotel. 
minus @liliksari
Kelar makan, tujuan berikutnya adalah Marina Sands Bay!
Setelah sempat agak nyasar (lagi) akhirnya kita bisa sampai di Marina Bay Sands (MBS). Dan beruntung banget pas kita sampai sekitar pukul 21:15 di MBS  bertepatan dengan light and water show at MBS yang konon bernama Wonder Full ini dimulai. Laser show yang berlangsung di the event plaza ini berlangsung ±15menit  ini mengkombinasikan pertunjukan laser yang spektakuler dan air mancur. Keren sih, dengan musik pengiring yang (lumayan megah) dan teknologi laser yang spekakuler yang kita lihat melalui air mancur, tapi buat saya sendiri cerita yang ingin disampaikan kurang jelas dan kurang greget.. Kayaknya sih mau bercerita tentang 'humanity'... Tapi lumayanlah bisa nonton show ini secara gratis 

Setelah itu kita lanjutkan jalan-jalan malam ini untuk melongok ke Casino. Waktu masuk ke arena Casino ini kita sebagai warna negara asing wajib memperlihatkan paspor. Konon katanya untuk warna Singapura sendiri untuk masuk ke Casino hanya dibatasi sebulan sekali, kalaupun mau masuk lebih dari 1 kali akan dikenakan entrance fee yang besar. Katanya ini bertujuan untuk mencegah kecanduan warga Singapur pada Casino. (Bener nggak, Lik ?)
Di Casino kami sempat numpang ke toilet dan nyicipin minuman hangat yang disediakan gratis. 

Selasa (6/2)
Hari ini adalah hari H untuk Lilik, alias dia ada meeting dari pagi hingga sore. Jadilah, jalan-jalan hari ini hanya dilaksanakan oleh saya dan Dina saja. 
Tujuan pertama adalah MINT MUSEUM of Toys http://www.emint.com/
Museum yang berlokasi di Seah street (akses dari City hall station), ini berisikan koleksi mainan vintage milik Mr.Chang Yang Fa... Museum yang letaknya di dekat hotel Raffless ini sangat mungil dan letaknya nyempil-nyempil tidak tampak menonjol dari luar, terdiri dari 5 lantai, dengan tiap lantai mengusung tema yang berbeda mulai dari Outerspace, Characters, Childhood favourite dan Collactables. 
koleksi mobil

koleksi robot














Tujuan berikutnya adalah MAKAN!! 
Karena pagi itu kami skip sarapan dan sudah kelaparan akhirnya kami  
memutuskan untuk makan di tempat makan yang terdekat, yaitu FOOD             
court di Raffless City Mall.
 Pilihan menu saya adalah roti prata + chicken curry, sementara Dina memilih Chicken rice 
Plus semangkuk manggo sago with ice cream sebagai dessert untuk berdua. 
Setelah hati adem ayem karena kenyang, kami menuju Little India untuk belanja belanji di Mustafa Centre. 
Beruntung dalam perjalanan dari Little India st. menuju Mustafa Centre kami sempat menyaksikan ritual agama Hindu (?) di Sri Veeramakaliamman Temple. 
Saya sendiri kurang begitu paham ritual apa yang sedang berlangsung karena saya tidak bisa memperoleh penjelasan, tapi sejauh pengamatan saya, sang pemimpin melakukan upacara penyucian.. Setelah berdoa, para jamaah yang kebanyakan berusia di atas 40tahun berebut untuk mendapatkan bunga dari sang pemimpin, mungkin untuk mendapatkan 'barokah' atau seperti ingin ikut disucikan oleh sang pemimpin. 
Di sana sini ada juga para 'jamaah' yang sedang membuat sesajen berupa bunga tau makanan... Cukup menarik, sayang saya tidak mengerti isi dari upacara tersebut. 
Perjalanan dilanjutkan dan sampailah kita di Mustafa Centre. Berhubung jalan-jalan dengan budget yang minim, oleh-oleh yang dibeli pun berbudget minim juga, seperti kaos untuk #suamiJepang, aneka koyo dan balsem untuk nyokap, dan sendal jepit untuk saya. Puas lihat-lihat Mustafa Centre kami kembali ke hotel untuk bertemu kembali dengan Lilik. Dan karena malam itu sudah cukup capek, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam kembali di Raffless City food court, karena banyak pilihan makanan.
Saya dan Dina memilih steamboat, sementara Lilik asyik menikmati roasted duck noddle. 

Rabu (7/3)
Berhubung saya ada dinner meeting di daerah Kelapa Gading sore harinya, jadi saya pulang duluan dengan pesawat pagi. Sementara Lilik dan Dina masih melanjutkan perjalanan mereka sampai sore hari. 

Budget :
Pesawat : 
Lion Air (budget air)       : Rp. 750.000 pp
Tanpa makan+minum, jadi sebaiknya makan dan minum dulu sebelum terbang, walaupun bisa beli di atas tapi yang ditawarkan sangat tidak menggugah selera

Hotel
Hotel 81 Heritage, jl. Sultan, Bugis (bisa diakses dari Lavender st. atau Bugis st.)
Hotel bintang 2, yang terletak di pinggir jalan besar. Di sebelahnya terdapat 
Triple room  ± Rp. 900.000 / night
Kamar cukup bersih dan nyaman, hanya agak sempit dan kamar mandinya berdesain aneh.

MRT
± SGD 5 / hari 

Makan 
Menu di sebuah restoran Turki di kawasan Arab street yang merupakan makanan termewah selama kita di sana rata-rata seharga SGD 14.
Untuk makan di food court dengan menu seperti roti prata+chicken curry, chicken rice, steam boat dan noddle rata2 harganya SGD 5-6
Untuk beli air mineral dan minuman di pet botol lainnya : SGD 1 ~ 2

★ Liburan yang dadakan, singkat tapi penuh kesan. Terlebih jalan-jalannya bersama 2 orang teman dekat yang bisa diisi dengan ngobrol-ngobrol tentang banyak hal... (curcol maksudnya). 
Nggak sabar untuk berkolaborasi lagi di perjalanan-perjalanan selanjutnya.
Satu hal yang harus dijadikan pelajaran adalah : Jangan malas foto!!! biar arsip fotonya banyaaak....