Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2013

1000 Yen untuk sebuah kursi di kereta

Teringat cerita 4 tahun yang lalu waktu saya, #suamijepang dan orang tua saya berkunjung ke rumah mertua

Hari itu kami sampai di Jepang, tepatnya di KANSAI International Airport.
Terasa sekali perbedaan dengan ketika kami tiba di bandara Soekarno-Hatta... dimana kedatangan kami telah disambut oleh para porter yang dengan "senang hati" membawa seluruh bawaan kami, serta supir yang telah menyambut kami tepat di depan pintu keluar..

Di Jepang, semua harus dilakukan sendiri, tidak ada porter yang membantu kami, semua barang bawaan kami harus urus sendiri... Beruntung di Jepang terdapat beberapa perusahaan pengiriman barang, sehingga kami tidak perlu menggotong bawaan-bawaan yang berat.. Cukup membawa barang yang diperlukan untuk keperluan ± 1 hari, karena barang yang berat dan besar akan tiba di tempat yang kita suka keesokan harinya. 
Masalah kirim mengirim barang selesai, berikutnya adalah masalah transportasi.. Tanpa siapapun yang "bersedia" menjemput kami dengan mobil, kami harus "bergerak" menggunakan kereta seperti juga sebagian besar penduduk Jepang.
Berhubung mertua tinggal di daerah yang minor dan terpencil yaitu di Kumano, Mie perfecture, memang urusan kereta2an ini rada sedikit ribet.
Dari Kansai International Airport-Kumano, memakan waktu sekitar 4 jam, itupun tidak ada kereta langsung, kami harus ganti kereta lokal 1-2 kali, dan 1 kali kereta ekspress.
Kereta lokal, berati tidak ada "reserved seat", dan berarti siapa cepat dia dapat.. Yang artinya kalo telat ya nggak dapat tempat duduk...;p
Sebenarnya, hal ini bukan merupakan masalah, kalo yang berpergian hanya aku dan Yacchin saja.. 
Tapi kali ini mama dan bapak turut serta.. Dan apa yang aku khawatirkan terjadi. Dalam kereta lokal menuju Wakayama, kami tidak bisa langsung dapat duduk, kami sempat harus berdiri... 
Dan yang membuatku sedikit kesal adalah, ada beberapa anak muda yang sehat walafiat (bahkan ada pemuda tanggung..*gak jelas sih pemuda tanggung artinya apa??*) yang tenang-tenang aja sok cuek duduk bersandar di bangku kereta sementara di depannya ada bapak dan mama yang notabenenya sudah tua, dan dilihat dari sudut manapun lebih pantas dan berhak merasakan kenyamanan bangku kereta..

Sambil misuh-misuh, aku teringat beberapa tahun yang lalu, ketika masih tinggal di Jepang... Pemandangan seperti ini sering sekali aku jumpai baik dalam kereta maupun bis umum. Para orang tua di Jepang dan guru2ku selalu mengeluhkan begitu egoisnya sebagian besar anak muda di Jepang yang tidak mau memberikan tempat duduknya kepada orang yang lebih tua, anak-anak bahkan orang hamil..
Bahkan 優先席(yuusen seki)* alias priority seat yang memang tempat duduk dengan memprioritaskan orang-orang yang membutuhkan, tidak jarang diduduki oleh anak-anak muda yang dilihat secara fisik tidak membutuhkannya. Tadinya, aku kira hal seperti ini hanya terjadi di Tokyo dan sekitarnya ato hanya di kota-kota besar saja.. Tapi, ternyata di daerah pun sama saja, ya.. Walau aku yakin tidak semua anak muda Jepang seperti ini!

Ada satu pengalaman, ketika aku pulang kerja dari Shinjuku-Saitama menggunakan Saikyo line, di jam yang lumayan padat. Kereta yang kunaiki memang lumayan penuh, tapi aku beruntung mendapatkan tempat duduk sehingga aku bisa sedikit bersantai menghilangkan kepenatan setelah kerja. 
Sekitar 2 stasiun berikutnya, ada seorang nenek naik, dan secara otomatis, aku langsung memberikan tempat dudukku kepada nenek tsb. 
Entah beberapa stasiun sudah terlewati ketika nenek tsb turun.. Beliau "mengembalikan" tempat duduk tsb sambil membungkuk-membungkuk mengucapkakan "arigatou gozaimasu"!
Aku duduk kembali di kursi itu, dan tiba-tiba kakek2 di sebelahku mengangsurkan lembaran 1000 yen kepadaku... "arigatou gozaimasu, kore kimochi dake"... *terima kasih banyak, ini hanya sekedar rasa terima kasih saya*..
Kemudian keluarlah cerita dari mulut sang kakek, bahwa apa yang kulakukan tadi sudah lama tidak dilihat dan dirasakannya, sudah sedikit sekali anak muda di Jepang yang punya kesadaran untuk memberikan kursi kereta kepada orang yang lebih membutuhkan...Sang kakek merasa senang, karena ternyata masih ada orang yang "iling" sama wong tuo... Hehehe

Menurutku, apa yang kulakukan bukanlah sesuatu hal yang spesial, tapi lebih merupakan kewajiban... Ingat kan, waktu belajar di SD memakai PMP warna kuning yang sampul depannya burung garuda, pernah diajarkan untuk memberikan kursi di kendaraan umum, untuk orang yang lebih membutuhkannya dari kita-kita yang segar bugar ini..Memang siapapun pasti capek harus berdiri dan berdesakan di kereta.. Tapi, kalo kita yang anak muda saja capek bagaimana dengan orang yang sudah tua, ya ??
Duh, Nihonjin* apa harus belajar pake buku PMP itu dulu ya... hehehe

*Yuusen seki (優先席) alias priority seat, adalah tempat duduk yang dipriortaskan untuk dipakai oleh orang yang benar membutuhkan seperti orang cacat, orang tua, orang hamil dll
Biasanya, dalam satu gerbong, priority seat ini berlokasi di ujung kiri dan kanan (kapasitas 6 orang untuk tiap ujungnya)
*Nihonjin (日本人) Orang Jepang

Jumat, 13 April 2012

2 hari bersama prof. Tanaka

Sesuatu yang saya cintai dari pekerjaan penerjemah adalah bisa ikut belajar gratis tentang ini itu.
Seperti 2 minggu yang lalu saya berkesempatan  menemani prof. Hideharu Tanaka dari Kokushikan University.
Profesor Tanaka ini adalah ahli trauma, resuscitation dan prehospital emergency system.. Apalah saya juga bingung jelasinnya. Tapi dalam perkenalan begitulah beliau menjelaskan keahliannya.

Kali ini saya berkesempatan menemani beliau dalam 2 hari seminar yang diadakan di Jakarta dan Surabaya mengenai penanganan henti jantung mendadak oleh orang awam di Jepang.
Salah satu faktor tingginya angka kematian serangan henti jantung mendadak adalah dikarenakan tidak adanya fasilitas di tempat kejadian,baik berupa peralatan yang dibutuhkan ataupun orang yang dapat memberikan pertolongan itu.

Dalam kesempatan ini Profesor Tanaka memberikan presentas tentang pengalamannya di Jepang dalam hal CPR (pertolongan pertama yang dilakukan untuk orang yang mengalami henti jantung mendadak) dan penggunaan AED (automatic external defibrilator/alat kejut jantung .
 Profesor Tanaka menjelaskan kalau di Jepang kesadaran untuk segera menolong orang yang terkena serangan sudah sangat tinggi. Dari diskusi para peserta, saya jadi tau bahwa termasuk saya kesadaran orang Indonesia untuk hal ini justru masih terbilang rendah.Saya sendiri merasa tidak tau apa yang harus saya lakukan ketika misalnya di dekat saya ada orang yang terkena serangan jantung. Harus bagaimana ? Harus menelpon ke mana ?
Di Jepang, seperti juga latihan tanggap bencana seperti gempa, training untuk ini sudah dilakukan sejak mereka kecil.
Profesor Tanaka memiliki program untuk latihan mengenai CPR dan AED ini dari mereka TK. Jadi, menurut beliau paling tidak sampai usia 18 tahun, ketika seorang siswa tamat SMA mereka sudah mengikuti 4 kali latihan, ketika TK, SD, SMP dan SMA. Tujuan dari latihan-latihan ini bertitik berat pada 'Meningkatkan Kesadaran orang awam'. Umumnya anak sekolah ketika diberikan satu latihan akan bercerita kepada orang tuanya, di sini kesadaran orang tua pun bisa ikut meningkat.
Profesor Tanaka menceritakan tentang beberapa kasus serangan jantung si pasien bisa terselematkan karena 1st respondernya adalah para siswa SD. Mereka tau harus bagaimana dan mereka harus menghubungi siapa. Sehingga pertolongan dapat segera dilaksanakan.
Di samping itu, di Jepang di berbagai sudah memiliki alat AED, sehingga sebenarnya tanpa harus menunggu ambulance (yang akan datang dalam waktu 10 menit sesudah ditelpon) pertolongan dengan AED ini sudah dapat dilakukan.
Di sekolah, tempat perbelanjaan, stasiun kereta/subway, tempat-tempat olahraga, gedung perkantoran, convinient store, dan di tempat keramaian lainnya pasti terpasang alat AED ini. Pemerintah Jepang memang menyarankan pemasangan alat AED ini, tapi tidak ada hukum yang memayunginya.Mereka melakukannya karena kesadaran akan pentingnya pemasangan alat AED tersebut. Begitu juga semakin banyak orang Jepang yang sadar untuk mengikuti pelatihan  CPR/AED ini. Sementara kesimpulan dari para peserta, di Indonesia karena kesadaran orang Indonesia masih rendah, kalau tidak ada hukum yang memayunginya, tempat yang tergerak untuk memasang alat AED dan orang-orang yang tergerak untuk ikut training CPR/AED ini masih sangat sedikit.

Kesimpulan saya : Semua itu diawali dengan kesadaran. Semua harus didasari dengan niat untuk membantu orang. Mungkin masih banyak orang yang ingin membantu ketika orang terkena serangan jantung/kecelakaan, tetapi ragu atau takut tidak bisa melakukannya dengan benar, takut nanti hasilnya justru memperparah keadaan. Cambuk buat saya sendiri, semua itu harus kembali kepada niat membantu orang. Karena tidak ada yang pernah salah dari niat itu.

Intermezzo 
Yang saya nikmati selama di Surabaya
1. Makan rawon di hotel Elmi









Rawon ini rasanya Jawa Timur banget! meningatkan rasa rawon yang dimasak di Matraman, kediaman almarhumah eyang saya. Sulit deskripsiinnya! Tapi pasti pengen makan sampai tandas dan nagih banget!
2. Klaapertart
Beli untuk oleh-oleh. Kok beli klaapertart di Surabaya ? Saya juga awalnya bingung.. Tapi, klapeertart ini enak. Tidak berair/bertaburan buih kocokan putih telur, klaapertaart ini bentuknya 'kering' sepeti kue bolu, tapi rasanya sungguh tidak biasa... Nggak bikin enek, dengan rasa manis dan rasa kenyal kelapa yang pas.
Bisa dibeli  di : Caryabudi Klaapertart, Ngagel Jaya 52, no. telp (031-5023327) (Sebaiknya telpon dulu)
3. Otak otak bandeng ibu Muzana,Gresik
Akhir-akhir ini saya memang tergila-gila otak-otak Bandeng Jawa Timur yang ada perpaduan rasa pedasnya.
Berhubung memang saya mau berkunjung ke rumah sepupu di Gresik, jadi saya sempatkan untuk mampir di toko ibu Muzana ini. Alamatnya di Jl. Sindojoyo no. 68 Gresik (belakang pasar Gresik).
                                                     No. Telp 031-398-3978









Sabtu, 31 Maret 2012

Jalan-jalan : Bogor

Mumpung pas barengan punya 1 hari libur, hari jum'at lalu saya, @audrisani alias Dina dan @liliksari alias Lilik dolan ke Bogor...  Kali ini sebenarnya perjalanan ke-2 kami ke Bogor.
Lokasi yang tidak jauh dari Jakarta, wisata kulinernya maknyus... Dan!! yang paling penting, sebenanrya tujuan utama kita adalah beli celana jeans Levi's di factory outlet. 

Perjalanan kami diawali dengan menjemput Lilik di rumahnya yang asri dan keren di Sentul. Sebenarnya pengen berleha-leha dulu di rumahnya Lilik, tapi berhubung ini hari jumat dan Pawit (supir saya) harus melaksanakan sholat Jumat, kami langsung capcus ke Bogor. Tujuan pertama kami adalah makan siang sembari menunggu Pawit yang sholat Jumat. 

Pilihan restoran untuk makan siang adalah De' Leuit yang terletak di Jl.Padjajaran. Restoran 2 tingkat luas dilengkapi dengan saung-saung yang asri. 
Andalan di De'Leuit ini adalah ikan mas pepes... Bumbu pepesnya pas banget... 1 ekor ikan mas pepes tandas oleh kita bertiga sampai ketulang-tulangnya yang empuk. 
Ikan gurame khas De'Leuit yaitu ikan gurame fillet goreng tepung yang disiram dengan sambal mangga. Paduan rasa asam-pedas-manis dari sambal mangganya sangat segar dan dijamin bikin kita melek. 
Rujak Pengantin, Pepes oncom dan bakwan jagungnya (walopun potonganya kecil) melengkapi kenikmatan kami makan siang sambil ngobrol-ngobrol siang itu.

ikan pepes, ikan gurame de'leuit rujak pengantin kangkung dll

Tujuan berikutnya adalah kunjungan ke factory outlet. Incaran pertama kami adalah Bogor Boutique Outlet yang beralamat di jl.Pajajaran no. 9. Di FO ini tersedia celana jeans yang murmer. Yang kami incar adalah celana jeans dengan merk (konon) 'LEVI'S'. Modelnya cukup lucu-lucu sayangnya ukuran untuk saya dan Dina jarang ada... Yang banyak tersedia yang ukurannya kecil untuk mereka yang super langsing atau ukuran yang besar-besar. Beruntung kali ini saya bisa dapat 1 celana jeans lumayan untuk nambah koleksi. 
Setelah itu kami juga berkunjung ke beberapa FO, Lilik dapat jaket biru yang lucu. Tapi secara keseluruhan kunjungan FO kali ini nggak begitu sukses... Hehehe mungkin lain kali bisa dapat peruntukan yang lebih baik,ya

Perjalanan kami lanjutkan ke Roast Chicken untuk cemal-cemil sore. Di Roast chicken  kue soes blueberry, pastel pannggang dan wedang sekoteng kami pilih untuk teman curcol kami. 
Kulit kue soes yang garing-garing dipadu dengan cream blueberry yang manis manis asem wajib dicoba kalo berkunjung ke Roast Chicken ini, sayangnya Lilik nggak terlalu suka karena terlalu manis. Lilik kosentrasi dengan pastel tutup panggang. Pastel tutupnya juga wajib coba, isinya meat sauce, telur puyuh dan potongan susis... Yummy!
kue soes blueberry



Jalan-jalan singkat ke Bogor dengan teman dekat... 
Belanja, Wiskul, Curcol! Seru 










Senin, 12 Maret 2012

Trip Dadakan : Singapur !

Bicara dari pengalaman, keriaan dengan para sahabat kalau dirancang dari jauh-jauh hari biasanya justru gagal, tapi sebaliknya yang dilakukan secara spontan, dadakan nggak pake rencana yang panjang biasanya justru berhasil.
Itulah yang terjadi ketika saya, @audrisani alias Dina dan @liliksari alias Lilik memutuskan untuk plesiran ke tetangga sebelah, Singapur.Sebenarnya, Lilik memang ada urusan kerjaan di sana, sementara saya sama Dina hanya jadi 'dayang-dayang'nya Lilik saja. 

Setelah mendapat restu dari #suamiJepang di sabtu pagi (3/2) yang cerah, dan Dina mendapat izin dari ortunya, kami langsung mulai reservasi tiket dan hotel. Namanya juga trip dadakan yang berarti trip di luar budget, tentunya perjalanan kami bisa dibilang serba minim budget. 
Lupakanlah sumpah serapah pada Lion Air yang pernah saya lontarkan karena pilotnya ketahuan nyabu. Berhubung Lion menyediakan tiket yang termurah, jadilah kami memilih maskapai ini. Dan untuk hotel kami memilih hotel bintang 2, Hotel Heritage 81 di daerah Bugis. 

Senin  (5/2)
Dengan persiapan yang singkat dan serba minim, berangkatlah kami menuju Singapur, dengan diawali tragedi kunci gembok kopernya Dina yang ketingalan di rumah. Jadilah, sebelum masuk bagasi kunci gembok 'dirusak' di bandara Soetta dan ganti dengan kunci gembok yang baru. 
Berhubung pesawatnya masih gress, penerbangannya sendiri cukup nyaman walaupun tanpa suguhan konsumsi apapun. Di atas sebenarnya kita bisa beli minuman dan camilan, tapi semuanya menurut saya kurang menarik, dan pastinya harganya (agak) mahal. 
Mendarat di Singapur sekitar pukul 15:00, kami langsung naik MRT ke Bugis station. Sempet nyasar waktu mencari hotel 81 Heritage yang tepatnya berlokasi di Jl. Sultan. Lumayanlah jadi sempet liat-liat Arab st. segala, dan kami menemukan untuk akses yang terdekat dari hotel adalah Lavender st. 
Setelah melepas lelah+sholat+bersih-bersih diri di kamar hotel yang cukup bersih dan nyaman walau agak sempit dan kamar mandinya ajaib, kami memutuskan untuk pergi makan. 
Berhubung sudah terlalu lapar kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran Turki di Arab street yang jaraknya hanya  5 menit jalan dari hotel. 
minus @liliksari
Kelar makan, tujuan berikutnya adalah Marina Sands Bay!
Setelah sempat agak nyasar (lagi) akhirnya kita bisa sampai di Marina Bay Sands (MBS). Dan beruntung banget pas kita sampai sekitar pukul 21:15 di MBS  bertepatan dengan light and water show at MBS yang konon bernama Wonder Full ini dimulai. Laser show yang berlangsung di the event plaza ini berlangsung ±15menit  ini mengkombinasikan pertunjukan laser yang spektakuler dan air mancur. Keren sih, dengan musik pengiring yang (lumayan megah) dan teknologi laser yang spekakuler yang kita lihat melalui air mancur, tapi buat saya sendiri cerita yang ingin disampaikan kurang jelas dan kurang greget.. Kayaknya sih mau bercerita tentang 'humanity'... Tapi lumayanlah bisa nonton show ini secara gratis 

Setelah itu kita lanjutkan jalan-jalan malam ini untuk melongok ke Casino. Waktu masuk ke arena Casino ini kita sebagai warna negara asing wajib memperlihatkan paspor. Konon katanya untuk warna Singapura sendiri untuk masuk ke Casino hanya dibatasi sebulan sekali, kalaupun mau masuk lebih dari 1 kali akan dikenakan entrance fee yang besar. Katanya ini bertujuan untuk mencegah kecanduan warga Singapur pada Casino. (Bener nggak, Lik ?)
Di Casino kami sempat numpang ke toilet dan nyicipin minuman hangat yang disediakan gratis. 

Selasa (6/2)
Hari ini adalah hari H untuk Lilik, alias dia ada meeting dari pagi hingga sore. Jadilah, jalan-jalan hari ini hanya dilaksanakan oleh saya dan Dina saja. 
Tujuan pertama adalah MINT MUSEUM of Toys http://www.emint.com/
Museum yang berlokasi di Seah street (akses dari City hall station), ini berisikan koleksi mainan vintage milik Mr.Chang Yang Fa... Museum yang letaknya di dekat hotel Raffless ini sangat mungil dan letaknya nyempil-nyempil tidak tampak menonjol dari luar, terdiri dari 5 lantai, dengan tiap lantai mengusung tema yang berbeda mulai dari Outerspace, Characters, Childhood favourite dan Collactables. 
koleksi mobil

koleksi robot














Tujuan berikutnya adalah MAKAN!! 
Karena pagi itu kami skip sarapan dan sudah kelaparan akhirnya kami  
memutuskan untuk makan di tempat makan yang terdekat, yaitu FOOD             
court di Raffless City Mall.
 Pilihan menu saya adalah roti prata + chicken curry, sementara Dina memilih Chicken rice 
Plus semangkuk manggo sago with ice cream sebagai dessert untuk berdua. 
Setelah hati adem ayem karena kenyang, kami menuju Little India untuk belanja belanji di Mustafa Centre. 
Beruntung dalam perjalanan dari Little India st. menuju Mustafa Centre kami sempat menyaksikan ritual agama Hindu (?) di Sri Veeramakaliamman Temple. 
Saya sendiri kurang begitu paham ritual apa yang sedang berlangsung karena saya tidak bisa memperoleh penjelasan, tapi sejauh pengamatan saya, sang pemimpin melakukan upacara penyucian.. Setelah berdoa, para jamaah yang kebanyakan berusia di atas 40tahun berebut untuk mendapatkan bunga dari sang pemimpin, mungkin untuk mendapatkan 'barokah' atau seperti ingin ikut disucikan oleh sang pemimpin. 
Di sana sini ada juga para 'jamaah' yang sedang membuat sesajen berupa bunga tau makanan... Cukup menarik, sayang saya tidak mengerti isi dari upacara tersebut. 
Perjalanan dilanjutkan dan sampailah kita di Mustafa Centre. Berhubung jalan-jalan dengan budget yang minim, oleh-oleh yang dibeli pun berbudget minim juga, seperti kaos untuk #suamiJepang, aneka koyo dan balsem untuk nyokap, dan sendal jepit untuk saya. Puas lihat-lihat Mustafa Centre kami kembali ke hotel untuk bertemu kembali dengan Lilik. Dan karena malam itu sudah cukup capek, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam kembali di Raffless City food court, karena banyak pilihan makanan.
Saya dan Dina memilih steamboat, sementara Lilik asyik menikmati roasted duck noddle. 

Rabu (7/3)
Berhubung saya ada dinner meeting di daerah Kelapa Gading sore harinya, jadi saya pulang duluan dengan pesawat pagi. Sementara Lilik dan Dina masih melanjutkan perjalanan mereka sampai sore hari. 

Budget :
Pesawat : 
Lion Air (budget air)       : Rp. 750.000 pp
Tanpa makan+minum, jadi sebaiknya makan dan minum dulu sebelum terbang, walaupun bisa beli di atas tapi yang ditawarkan sangat tidak menggugah selera

Hotel
Hotel 81 Heritage, jl. Sultan, Bugis (bisa diakses dari Lavender st. atau Bugis st.)
Hotel bintang 2, yang terletak di pinggir jalan besar. Di sebelahnya terdapat 
Triple room  ± Rp. 900.000 / night
Kamar cukup bersih dan nyaman, hanya agak sempit dan kamar mandinya berdesain aneh.

MRT
± SGD 5 / hari 

Makan 
Menu di sebuah restoran Turki di kawasan Arab street yang merupakan makanan termewah selama kita di sana rata-rata seharga SGD 14.
Untuk makan di food court dengan menu seperti roti prata+chicken curry, chicken rice, steam boat dan noddle rata2 harganya SGD 5-6
Untuk beli air mineral dan minuman di pet botol lainnya : SGD 1 ~ 2

★ Liburan yang dadakan, singkat tapi penuh kesan. Terlebih jalan-jalannya bersama 2 orang teman dekat yang bisa diisi dengan ngobrol-ngobrol tentang banyak hal... (curcol maksudnya). 
Nggak sabar untuk berkolaborasi lagi di perjalanan-perjalanan selanjutnya.
Satu hal yang harus dijadikan pelajaran adalah : Jangan malas foto!!! biar arsip fotonya banyaaak....


    

Senin, 13 Februari 2012

[Rekomendasi] Japan Rail Pass (cerita mudik Jepang)

Untuk yang berencana akan plesiran ke Jepang, dan di sana akan banyak menggunakan transportasi umum (khususnya kereta), saya rekomendasikan sekali untuk memakai Japan Rail Pass. (JR Pass)
Mudik ke Jepang bulan lalu, adalah kali ke-2 kami menggunakan JR Pass ini. Nggak setiap mudik kami memakai JR Pass, tapi berhubung trip kali ini juga diagendakan untuk trip ke 2 kota, yaitu Nagoya dan Tokyo untuk mengunjungi para adik ipar, dan untuk pergi kedua kota tersebut transportasi yang digunakan adalah shinkansen, maka JR Pass adalah solusi yang paling murah dan tepat.


Dengan tiket JR Pass ini kita bisa sepuasnya naik kereta yang dioperasikan oleh Japan Rail Company, termasuk di dalamnya shinkansen atau bullet train untuk jenis Kodama dan Hikari dan airport Express.
Ada 2 tipe JR pass yaitu Green dan ordinary, untuk masa berlakunya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu untuk 7 hari, 14 hari dan 21 hari. Dengan harga yang termurah 28,300 yen (ordinary-7 hari) dan yang termahal adalah  79,600 yen (Green-21 hari).
Tiket JR Pass ini hanya dijual di luar Jepang, dan hanya di agen perjalanan yang ditunjuk. Di Jakarta dapat dibeli di JALan Tour, Wisma KEIAI, Sudirman. (Pembelian hanya menggunakan JPYen).
Yang bisa menggunakan JR Pass adalah warga negara di luar Jepang yang memiliki visa Jepang dengan status temporary visit (visa harus ditunjukkan saat pembelian), dan orang Jepang yang sudah tinggal permanen di luar Jepang (bukan warga negara Jepang lagi ?) atau menikah dengan orang di luar Jepang. Saat membeli JR Pass kemarin, saya harus menyertakan surat nikah sebagai bukti.
Saat pembelian JR Pass di JALan Tour, kita hanya akan mendapatkan bukti pembayaran untuk ditukarkan dengan JR Pass ketika kita sudah sampai di Jepang nantinya.
Untuk menukarkan exchange order (bukti pembayaran) ini kita harus pergi ke JR窓口(madoguchi) atau counter JR yang berada di stasiun, kita cukup memperlihatkan exchange order + passport+ mengisi form  untuk bisa mendapatkan JR Pass yang asli. Masa berlaku JR pass tidak dihitung dari tanggal diterbitkan tapi dihitung dari tanggal pemakaian. Tinggal isi di form tanggal berapa kita ingin mulai menggunakan tiket tsb, nantinya petugas counter akan memberikan stempel di tiket JR pass kita.

Dengan selembar tiket ini kita bisa naik turun kereta JR baik dalam maupun antar kota (termasuk local train, express train, shinkansen Kodama dan Hikari, dan bus yang dioperasikan oleh JR Company, serta Tokyo Monorail). Jadi, kita bisa sedikit pengeluaran kita untuk transportasi selama plesiran di Jepang.


Jumat, 27 Januari 2012

Salju...Salju.. Salju... (cerita mudik)


Wah, saya beruntung kali ini di 2 hari terakhir acara mudik ke Jepang, bisa lihat salju!
Mungkin terdengar sedikit norak, tapi terakhir kali sya melihat salju mungkin sekitar 4 tahun yang lalu, kejadiaannya sama waktu mudik musim dingin, tapi waktu itu saljunya langsung meleleh.

Di Tokyo sendiri, katanya timbunan salju yang mencapai 4cm lebih ini katanya sudah bertahun-tahun nggak terjadi.  Jadi, beneran kan saya termasuk beruntung ?
Malam tanggal 23 (senin) saya ada acara makan malam dengan beberapa orang klien di sekitar stasiun Tokyo, sementara Yacchin katanya mau quality time sama adiknya, Tatsuya di daerah Kawaguchi (daerah rumah Tatsuya). Jadi, sesuai kesepakatan kami akan bertemu lagi di stasiun Kawaguchi untuk bersama-sama berjalan kaki ke mansion tempat tinggal Tatsuya.
Nggak disangka menemani 3 orang om-om Jepang yang rada mabuk ngobrol-ngobrol itu cukup memakan waktu, yang rencananya acara makan-makan (minum-minum untuk para klien saya itu) berakhir pukul 8 malam, berlanjut hingga pukul 10 kurang. Dan ternyata ketika saya dan para om-om ini keluar dari restoran disambut hujan deras.
Bergegas kami menuju stasiun Tokyo yang berjarak hanya 3 menit berjalan kaki, di tengah perjalanan hujan yang turun berubah menjadi salju walau masih tipis..... Yeay! ini pun saya sudah kegirangan...
Berpisah di depan stasiun Tokyo saya langsung naik kereta Keihin Tohoku line, beruntung banget saya bisa langsung naik ke kereta ini. Karena kereta berikutnya tertunda karena salju yang turun semakin deras.
Dan, ketika sampai di stasiun Kawaguchi tempat saya, Yacchin dan Tatsuya janjian ternyata timbunan salju di jalanan sudah mulai menebal. Saya girang, Yacchin biasa-biasa saja, sementara Tatsuya bergegas untuk antri taksi. Jadi, waktu salju begini, taksi yang biasanya gak begitu 'laku' berubah jadi laku keras. Di tempat antrian taksi yang biasanya taksi kosong berderet-deret, kini deretan itu kosong song.. Digantikan dengan deretan penumpang yang antri dengan tertib menunggu kedatangan taksi.
Sampai di tempat tinggal Tatsuya waktu sudah mendekati tengah malam, kami disambut oleh Yuki-chan (istri Tatsuya) yang memberi tahu kalau WC mampet... ! Ooooh tidaaaak, beruntung tadi sebelum naik taksi sudah sempet mampir di toilet stasiun.
Karena salju turun semakin deras dan waktu juga sudah lewat tengah malam nggak ada lagi yang bisa dilakukan, kami berempat hanya bisa tahan-tahan untuk gak pergi ke toilet. (Heran juga sih kenapa Yuki chan gak coba hubungi pengelola mansion-nya ya ?)
Setelah mencoba untuk tidur, sekitar jam 05.30 Yacchin bangun dan buru-buru pergi ke convinient store untuk beli alat penyedot (apa sih namanya alat itu sebenarnya). Ternyata di 711 terdekat konon nggak jual alat itu, jadilah Yacchin ke tempat pengelola mansion untuk pinjam alat tersebut, dan langsung deh Yacchin benerin WCnya.. Hahahaha!
Hari selasa (24), baik Tatsuya mauounYuki chan kerja dari pagi sampai larut malam, jadi saya dan Yacchin juga harus ikutan keluar dari rumah dan pindah ke hotel di shinjuku (supaya keesokan harinya mudah untuk naik Narita Express ke bandara Narita).
Seperti yang sudah diduga telpon taksi sudah tidak ada taksi yang bisa melayani, nggak ada taksi yang ready.
Jadilah, pagi sekitar jam 8 itu kami keluar dari rumah Tatsuya untuk jalan ke stasiun Kawaguchi sambil geret-geret koper. Salju yang menimbun di jalan raya sudah dikeruk agar mobil bisa lewat sementara yang di trotoar untuk pejalan kaki walau sudah dikeruk masih menyisakan es yang licin sehingga harus ekstra hati-hati menjaga keseimbangan tubuh agar nggak terjerembab jatuh. Kadang-kadang kalau jalan raya kosong, saya dan Yacchin nekat jalan di jalan raya sambil geret-geret koper.
Di saat ini memang banyak sekali kecelakaan yang terjadi, baik untuk pejalan kaki yang jatuh karena terpeleset dan patah tulang (sebagian besar yang mengalami kecelakaan adalah para manula), belum lagi kecelakaan jatuh dari sepeda atau mobil. Saat salju begini memang harus hati-hati.
Setelah hampir 30 menit jalan kaki sambil geret-geret koper plus kedinginan sampai juga kami di stasiun Kawaguchi.... Benar-benar pengalaman yang seru dan jadi kenangan penutup perjalanan mudik ke Jepang (lah ini ceritanya kok dari penutup perjalanan ya... hehehe)
Girang bisa lihat salju