Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

(bukan) cerita #memetwit

Cerita ini mungkin emang (bukan) cerita #memetwit... tapi lumayan mencekam untuk ukuran saya yang terkenal penakut.
Buat yang sudah mengenal saya sejak jaman saya masih piyik dulu, pasti tau banget deh kalo saya itu orangnya super duper penakut! 
Bahkan sampai duduk di bangku kuliah saking penakutnya walopun saya punya kamar sendiri di lantai 2, tapi hampir setiap malam saya merayu-rayu adik saya, @firrywahid untuk nebeng di kamarnya tidur, selamat tinggal gengsi, selamat tinggal harga diri demi bisa tidur tenang saya rela tidur beralaskan kasur lipat sementara adik saya  mengorok dengan angkuh di atas tempat tidurnya yang nyaman.
Waktu kuliah di depok sebenarnya saya pulang pergi dengan kereta jabotabek, sampai suatu hari, saya pengen ngerasain jadi anak kos, jadilah memutuskan untuk ikut-ikutan kos. Tapi, berhubung saya masih takut tidur sendirian, saya merayu sahabat saya untuk memilih kamar berdua dengan saya. 
Masalah tidur sampai masa kuliah plus masa awal-awal jadi pegawai bisa berlangsung dengan selamat, walau saya terkadang harus menelan rasa malu saat memohon-mohon nebeng di kamar adik atau orang tua saya. 

Masalahnya adalah ketika saya dapat kesempatan (alias dapat beasiswa) ke Jepang, memang sih saat pertama kali saya tinggal di Jepang itu saya homestay di rumah keluarga Jepang di perfektur Tottori, yang artinya saya nggak sendiri-sendirian amat. Tapi misalnya suatu malam saya tiba-tiba ketakutan dan nggak bisa tidur, saya kan nggak mungkin gedor-gedor kamar host parents saya untuk nebeng tidur. 
Yah, tapi masa karena rasa takut ini saya harus batal ke Jepang, ya ? Bismillah saja, akhirnya saya mantap pergi ke Jepang... 
Beberapa malam pertama saya di Jepang dan tidur di rumah keluarga angkat saya ini, saya tidak menemukan kendala yang berarti, mungkin juga di hari hari pertama itu banyak hal baru yang harus saya kerjakan jadi saat malam datang saya langsung tertidur pulas, nggak sempat untuk merasakan rasa takut. 
Masalah terjadi ketika tepat seminggu saya tinggal di rumah keluarga angkat. Ibu dari ibu angkat saya yang tinggal di Kagoshima (pulau Kyushu) mengalami stroke sehingga kedua orang tua angkat saya harus segera berangkat ke Kagoshima untuk menengok si nenek. Sebenarnya, ada adik-adik angkat saya, tapi berhubung saat itu mereka masih SMP dan SMA, sementara saya juga belum terbiasa dengan kehidupan di Jepang, orang tua angkat saya memutuskan untuk menitipkan saya di rumah kenalannya yang pernah lama tinggal di luar negeri dan mahir berbahasa Inggris, jadi diasumsikan mengatasi masalah komunikasi yang mungkin terjadi, berhubung saat it kemampuan bahasa Jepang saya ada dalam level memprihatinkan.

Sekilas memang solusi ini merupakan solusi yang terbaik untuk kami semua. Saya ada tempat 'berlindung' selama orang tua angkat saya pergi, ortu angkat saya bisa dengan tenang mengurus si nenek tanpa kepikiran anak Indonesia yang nebeng hidup di keluarga mereka, adik-adik angkat saya juga nggak terbebani harus ngurus orang asing yang gak jelas di rumah mereka. 
Jadilah, saya+orang tua angkat saya berangkat dalam misi 'mengungsikan' saya ke rumah si kenalan. Masalah terjadi ketika saya tahu 'lokasi pengungsian' saya tersebut. 

Tottori perfektur yang saya tinggali ini terletak di barat Jepang ini, merupakan perfektur yang sangat kecil di Jepang dengan jumlah penduduk yang paling sedikit. Tottori-shi tempat orang tua angkat tinggal, merupakan ibukota dari Tottori perfektur. Jadi, Tottori shi tempat saya tinggal itu merupakan daerah terbesar dan teramai di Tottori perfektur. Tapi buanglah jauh-jauh bayangan tentang Jepang yang kita dapat dari drama-drama Jepang macam TokyoLove Story. Sedikitnya, bayangan saya akan Jepang (Tokyo) adalah gedung-gedung pencakar lakit yang megah, orang-orangnya yang stylish selalu bergerak dengan tergesa-gesa dan subway+train yang penuh dan sibuk. Di Tottori hampir bisa dibilang tidak ada gedung-gedung tinggi, gaya berpakaian mereka memang cukup fashionable tapi nggak ada tuh orang yang tergesa-gesa, semua terlihat santai dan nggak ada subway+kereta canggih di Tottori. Ada sih kereta untuk transportasi umumnya, tapi jumlah kereta yang lewat kurang lebih 1~2 jam sekali. Bandingkan dengan Tokyo yang kereta akan datang setiap beberapa menit sekali. Kereta di Tottori boro-boro canggih untuk buka pintu keretanya saja kita harus buka sendiri, alias keretanya nggak otomatis... 

Kembali ke lokasi pengungsian saya, ternyata saya diungsikan di daerah bernama CHIZU (智頭), masih berada di Tottori perfektur, sekitar 2 jam berkendara mobil dari Tottori-shi, lokasi tepatnya adalah di sebuah desa, di pegunungan. Benar-benar di pelosok. Kalau ingat dengan film Oshin kurang lebih desanya seperti itu.  
Saya diantar ke sebuah rumah kuno Jepang yang super besar. keluarga kenalan orang tua angkat saya ini menyambut saya dengan sangat ramah. Di rumah itu tinggal pasangan suami istri kenalan ortu angkat saya, ibu dari si suami dan anak mereka. Hanya berempat di rumah yang super besar dan terbuat dari kayu-kayu kuno berwarna coklat dan memberikan kesan 'dingin ini. Senyum+cengiran khas saya perlahan tapi pasti hilang dari wajah saya. 
Si istri, yang ternyata pernah tinggal di Afrika Selatan+Mauritania ini, menenangkan kalau selama keberadaan saya di rumahnya saya akan baik-baik saja. Karena memang saat itu masih masa liburan dan belum ada mata perkuliahan, dia meminta saya untuk menganggap ini sebagai satu liburan. Saran yang sangat baik. 
Saya dibawa berkeliling rumahnya, berjalan menuju lorong yang panjang dengan deretan pintu-pintu kecoklatan yang terlihat suram, saya ditunjukkan tempat makan yang terkesan 'kosong' hanya dengan sebuah meja berkaki pendek yang panjang sekali, ditunjukkan dapurnya yang juga super besar, ofuro (tempat mandi) , juga toilet. Kalau sekarang kita tau tipe toilet Jepang yang sangat canggih dengan segala pencetan untuk mengatur ini-itu, siapapun pasti akan terkaget kaget melihat toilet di rumah ini. Buang jauh-jauh pikiran bayangan tentang toilet duduk yang canggih-canggih itu. Toilet di rumah ini berupa toilet jongkok tanpa keramik.warna cerah. Di kamar kecil  (terpisah dari kamar mandi)  ada toilet yang ditandakan dengan sepasang pertanda pijakan kaki yang berwarna suram, dan 'gundukan' yang juga berwarna suram yang merupakan pertanda kita harus menghadap ke mana ketika mau 'do our business'. Di dalam si 'toilet tersebut' nggak ada genangan air seperti yang biasa kita temui di toilet duduk maupun jongkok. Ketika kita melongok ke dalam toilet tersebut hanya ada lobang yang dalam seperti sumur. Jadi, ketika kita selesai melakukan hajat di sini baik hajat kita maupun kertas tissue yang dipakai untuk mengelap akan dibuang melalui lobang tersebut yang ternyata langsung menjadi tempat pembuangan sampah. 
Salah nggak sih kalo saat itu saya membayangkan ketika saya sedang asik-asik di toilet itu tiba-tiba keluar sadako dari lobang yang mirip banget dengan lobang sumur tapi lebih kecil dan kosong tanpa air. 
Untungnya selama saya tinggal di sana hal itu tidak pernah terjadi. 

'Gong'nya adalah ketika saya diantar ke kamar yang akan dipakai saya tidur. Menurut cerita si istri sambil mengajak saya kembali menelusuri lorong-lorong suram rumah itu, kebiasaan di daerahnya ketika kedatangangan 'tamu istimewa', si tamu akan ditempatkan di tempat yang istimewa juga. Saya excited membayangkan saya akan diantar ke kamar istimewa tersebut. Kami sampai di depan sebuah kamar yang terlihat besar. Si istri menggeser pintu kayu tua berwarna coklat tua dan dengan bangga dia memperlihatkan si kamar istimewa tersebut. Taraaaa!! Dan masukklah kami ke sebuah kamar yang luas dengan butsudan (altar budha) yang besar. Di tengah kamar yang sangat luas tersebut sudah tergelar futon (kasur) dengan motif cantik khas Jepang. Futon yang terlihat bagus dan mahal tapi sangat tidak sesuai diletakkan tepat di tengah-tengah kamar yang luas ini, buat saya yang penakut ini futon yang tepat berhadapan lurus dengan altar budha ini memberikan kesan yang sangat mencekam.
Belum berakhir dengan futon yang mencekam, ketika saya melihat ke sekeliling tembok di sana terpajang foto-foto para leluhur keluarga ini. Foto-foto para leluhur yang entah lahir tahun berapa dan yang pasti namanya leluhur, mereka yang terpampang di foto tersebut adalah mereka yang sudah meninggalkan dunia fana ini. Si istri dengan penuh kebanggaan sekilas menjelaskan silsilah keluarga mereka.
Tapi tidak satupun penjelasan itu masuk kepala saya... Saya pengen nangis, pengen lari dari kamar itu, pengen lari dari Chizu, kembali ke rumah saya di billymoon tidur di kamar saya di lantai 2, atau kembali merayu-rayu adik saya untuk bisa tidur di lantai kamarnya. Itulah kali pertama saya merasakan kerinduan yang besar sejak saya tinggal di Jepang. 

Malam pertama di pengungsian sehabis mandi di kamar mandi yang juga bikin bulu kuduk berdiri, saya berjalan menyusuri lorong dingin nan suram dan masuk ke dalam kamar yang bikin saya kebat kebit ketakutan. Tapi memang, ternyata manusia sebenarnya punya kekuatan dan keberanian yang tidak pernah disadarinya ketika kita berada dalam kondisi 'tertekan'. Malam itu dengan rambut masih separuh basah sehabis mandi, saya masuk ke dalam kamar itu lagi dengan mengucapkan 'Assalamu'alaikum' sambil separuh mengangguk ke deretan foto-foto di dinding. Iya, saya tau sih almarhum-almarhum Jepang itu pasti nggak ngerti juga saya ucapkan salam Assalamu'alaikum walau dengan gaya separuh membungkukkan badan khas orang Jepang. Tapi yang kepikiran ya cuma itu! 
Setelah itu saya sholat Isya dan diam-diam sambil separuh menahan tangis karena bayangin pasti nanti malam dan nggak bisa tidur (selain penakut saya juga cengeng), saya buka travelling bag saya, mengambil buku Yassin dan mulai membacanya. Ya saya nggak tau sih di saat seperti itu tepat atau nggak baca Yassin, tapi yang saya bawa saat itu kebetulan ya buku Yassin dan setelah membacanya saya jauh merasa lebih tenang. 
Selesai baca Yassin, saya mencoba membaringkan badan saya di futon yang ternyata sangat nyaman, dan sambil baca-baca saya mencoba untuk tidur. Alhamdulillah saya bisa tertidur, tapi di tengah malam saya terbangun karena pengen pipis, ketika terbangun untuk pertama kalinya itu, cukup kaget juga karena pemandangan tepat di depan saya adalah deretan foto leluhur, noleh ke kiri ada altar budha, noleh ke kanan foto-foto leluhur yang lain. Hoaaaaa....!! Tapi dari pada ngompol di futon spesial itu, saya memberanikan diri keluar dari futon, jalan di lorong, dan pipis di toilet dengan lobang yang dalam itu. Alhamdulillah, Sadako nggak muncul!

Sejak keberhasilan malam pertama yang ternyata nggak ada apa-apa, saya jadi lebih pede di malam-malam selanjutnya, meski begitu setiap habis sholat Isya saya nggak pernah untuk baca Yassin di kamar altar budha itu. 
Demikianlah cerita (nyaris) #memetwit dari saya. 






Senin, 13 Februari 2012

[Rekomendasi] Japan Rail Pass (cerita mudik Jepang)

Untuk yang berencana akan plesiran ke Jepang, dan di sana akan banyak menggunakan transportasi umum (khususnya kereta), saya rekomendasikan sekali untuk memakai Japan Rail Pass. (JR Pass)
Mudik ke Jepang bulan lalu, adalah kali ke-2 kami menggunakan JR Pass ini. Nggak setiap mudik kami memakai JR Pass, tapi berhubung trip kali ini juga diagendakan untuk trip ke 2 kota, yaitu Nagoya dan Tokyo untuk mengunjungi para adik ipar, dan untuk pergi kedua kota tersebut transportasi yang digunakan adalah shinkansen, maka JR Pass adalah solusi yang paling murah dan tepat.


Dengan tiket JR Pass ini kita bisa sepuasnya naik kereta yang dioperasikan oleh Japan Rail Company, termasuk di dalamnya shinkansen atau bullet train untuk jenis Kodama dan Hikari dan airport Express.
Ada 2 tipe JR pass yaitu Green dan ordinary, untuk masa berlakunya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu untuk 7 hari, 14 hari dan 21 hari. Dengan harga yang termurah 28,300 yen (ordinary-7 hari) dan yang termahal adalah  79,600 yen (Green-21 hari).
Tiket JR Pass ini hanya dijual di luar Jepang, dan hanya di agen perjalanan yang ditunjuk. Di Jakarta dapat dibeli di JALan Tour, Wisma KEIAI, Sudirman. (Pembelian hanya menggunakan JPYen).
Yang bisa menggunakan JR Pass adalah warga negara di luar Jepang yang memiliki visa Jepang dengan status temporary visit (visa harus ditunjukkan saat pembelian), dan orang Jepang yang sudah tinggal permanen di luar Jepang (bukan warga negara Jepang lagi ?) atau menikah dengan orang di luar Jepang. Saat membeli JR Pass kemarin, saya harus menyertakan surat nikah sebagai bukti.
Saat pembelian JR Pass di JALan Tour, kita hanya akan mendapatkan bukti pembayaran untuk ditukarkan dengan JR Pass ketika kita sudah sampai di Jepang nantinya.
Untuk menukarkan exchange order (bukti pembayaran) ini kita harus pergi ke JR窓口(madoguchi) atau counter JR yang berada di stasiun, kita cukup memperlihatkan exchange order + passport+ mengisi form  untuk bisa mendapatkan JR Pass yang asli. Masa berlaku JR pass tidak dihitung dari tanggal diterbitkan tapi dihitung dari tanggal pemakaian. Tinggal isi di form tanggal berapa kita ingin mulai menggunakan tiket tsb, nantinya petugas counter akan memberikan stempel di tiket JR pass kita.

Dengan selembar tiket ini kita bisa naik turun kereta JR baik dalam maupun antar kota (termasuk local train, express train, shinkansen Kodama dan Hikari, dan bus yang dioperasikan oleh JR Company, serta Tokyo Monorail). Jadi, kita bisa sedikit pengeluaran kita untuk transportasi selama plesiran di Jepang.


Sabtu, 28 Januari 2012

Cerita obaachan di Mutsumi-en, panti jompo Jepang (cerita mudik)

Satu kegiatan yang paling saya nanti-nanti ketika mudik ke kampung halaman Yacchin adalah menengok Yukino obaachan, neneknya si suami Jepang ini yang sudah berusia 91 tahun dan sekarang tinggal di panti jompo.
Mungkin karena kerinduan kepada kedua almarhumah eyang putri, bertemu dengan satu-satunya nenek yang saya miliki sekarang menjadi cerita yang indah buat saya.
Obaachan yang sudah pikun tidak pernah ingat siapa saya, istri dari cucu pertamanya yang hanya bisa menjenguk dia 1,5 tahun sekali. Setiap kali saya muncul untuk menjenguknya, pasti sapaan yang terucap dari obaachan adalah : "anata dare ?" yang artinya adalah "kamu siapa ?"
Dan obaachan yang pendengarannya sudah sangat berkurang pasti salah menangkap nama saya....
Kali ini obaachan menangkap dan mengingat saya sebagai MIKA chan....

Mutsumien, itulah nama panti jompo atau dalam bahasa Jepang disebut ro-jin ho-mu yang ditinggali oleh obaachan selama ± 3 tahun ini. Letak mutsumien sendiri cukup dekat dari rumah mertua saya, sekitar 5 menit dengan mobil. Sebelum tinggal di Mutsumien obaachan tetap tinggal bersama kedua mertua saya, saat itu obaachan sudah sedikit pikun, tapi masih bisa melakukan beberapa aktivitas sendiri seperti pergi ke toilet, makan, berjalan walaupun sangat perlahan, waktu itu selama beberapa kali seminggu obaachan dijemput oleh panti jompo untuk beraktivitas dan bersoliasi dengan manula lainnya.
sampai suatu saat kondisi kesehatan obaachan terus berkurang hingga harus dirawat beberapa kali di rumah sakit, akhirnya otoosan alias ayah mertua saya memutuskan untuk memasukkan obaachan ke panti jompo agar lebih terkontrol. Di Mutsumien nutrisi makanan dan konsumsi obat obaachan akan lebih termonitor. Begitu juga pemenuhan kebutuhan dasar seperti ofuuro (mandi), omutsu koukan (ganti popok) dan lain-lain karena dilakukan oleh orang yang profesional tentunykan lebih nyaman buat obaachan.
Di panti jompo juga dilakukan banyak terapi seperti terapi motorik, terapi wicara, dan lain-lain.
Otousan yang adalah anak tunggal awalnya ragu memasukkan obaachan ke panti jompo, tetapi mengingat otousan dan okaasan yaitu ibu mertua saya, sama-sama masih bekerja tidak ada yang bisa intens mengurus obaachan (mengingat di Jepang tidak ada jasa perawat yang bisa disewa untuk kebutuhan pribadi, kalau adapun pasti bayaranya super mahal ya >)

Panti jompo seperti Mutsumien ini jumlahnya sangat banyak di Jepang, di Kumano sendiri yang merupakan kota kecil terdapat 3 panti jompo. Ke depannya jumlah panti jompo ini akan bertambah, mengingat Jepang jumlah manula di Jepang akan  bertambah sementara jumlah anak akan berkurang. Jumlah manula yang (harus, mau tidak mau) tinggal di Jepang pun akan semakin meningkat. Sementara jumlah usia produktif warga  Jepang yang mau (dapat) bekerja sebagai kaigo fukushishi (perawat  untuk lansia) kedepannya tidak akan mencukupi kebutuhan ini, sehingga Jepang beberapa tahun ini mulai merekrut tenaga perawat dari luar Jepang, seperti Indonesia.
Calon tenaga perawat untuk lansia dari luar Jepang harus mengikuti program magang selama 3 tahun di sebuah panti jompo di Jepang, setelah itu  harus mengikuti ujian negara untuk mendapatkan sertifikat resmi sebagai perawat untuk lansia. Yang sekarang menjadi 'masalah' adalah ujian yang harus diikuti oleh para calon perawat ini adalah ujian yang sama untuk calon dari Jepang, yang berarti ujian ini harus diikuti dalam bahasa Jepang (huruf kanji) yang tentu saja sangatlah susah untuk orang asing.

Kembali ke cerita Mutsumi-en, saya sangat terkesan dengan staf dan para perawat di sana. Mereka sangat ramah dan telaten mengurus para lansia. Benar-benar penuh kesabaran, ketelatenan dan passion.
Dengan keprofesionalan para perawat dan staf di panti jompo ini, tentu saja kita sebagai keluarga merasa tenang bisa menitipkan anggota keluarga kita di sana karena pasti akan dirawat dengan sangat baik.
Tetapi tentu saja, menurut saya, obaachan dan ojiichan yang tinggal di panti jompo, walaupun katankalah mereka sudah pikun sudah tidak begitu mengenali lagi anggota keluarganya pasti butuh untuk diperhatikan secara personal oleh anggota keluarganya yang terdekat.
Dan sewajarnya dan sudah menjadi kewajiban anggota keluarga yang lain untuk terus memperhatikan dan 'menganggap ada' keberadaan mereka. Bukan hanya menyerahkan dan melepaskannya begitu saja ke panti jompo tsb. Untuk kondisi di Mutsumi-en yang saya perhatikan, setiap kedatangan kami ke sana, cukup banyak keluarga lain yang juga sedang berkunjung. Tetapi, menurut cerita yang saya dengar, ada juga lansia yang hampir tidak penah dijenguk oleh keluarganya, bahkan pada saat-saat hari penting seperti tahun baru.

Otousan dan okaasan sendiri minimal seminggu 2 kali pergi menjenguk obaachan. Hiromi, adik perempuan Yacchin satu-satunya yang juga tinggal di Kumano juga kerap mengajak anak-anaknya, Miu can dan Sora-kun untuk mengunjungi buyut mereka. Otousan dan Okaasan juga rajin mengganti foto-foto yang terpajang di belakang tempat tidur obaachan. Aneka foto boleh diganti, tetapi foto yang tetap selalu terpajang di sana adalah foto ketika saya, Yacchin beserta bapak+mamah pergi berkunjung ke sana 2 tahun yang lalu.
Obaachan menempati kamar ini dengan tiga orang penghuni lain. Menurut saya, perhatian keluarga bisa terlihat dari kondisi di sekitar tempat tidur pasien tersebut. Keluarga yang perhatian atau sering berkunjung umumnya sering membawa 'buah tangan' untuk dipajang, seperti keluarga Yacchin yang membawakan bunga, hasil karya Miu-chan, 'mainan' untuk obaachan, dan lain-lain. Tapi, ada satu penghuni di kamar tersebut yang 'polos' tidak ada pajangan atau apapun, hanya ada tempat tidur+meja kecil saja. Setiap memasuki kamar ini, saya sering membayangkan betapa terasa sepinya hidup nenek itu yang tidak terperhatikan oleh keluarganya.

Obaachan, walau tidak selalu langsung ingat siapa itu Yacchin (harus diberi tahu berulang kali), matanya selalu berbinar-binar ketika berbicara dengan cucu pertamanya itu.
Nasehatnya setiap kali kita berpisah adalah : "hayaku kodomo no kao wo misena" yang intinya menyuruh  kami untuk segera punya anak.
Di kunjungan terakhir kami kali ini, yang membuat saya sedih dan berkaca-kaca adalah, ketika kami pamit pulang obaachan dengan sedikit menangis bilang "itsumo kitekurete arigatoune, jikkai kuru tokini obaachan mou oran kamoshiren....." (Makasih ya sudah selalu jengukin obaachan, nanti kalau kalian pulang lagi, obaachan nggak tau masih ada atau nggak....)...
Sedih banget rasanya obaachan ngomong begitu, mudah-mudahan masih diberi kesempatan lagi untuk bisa jenguk obaachan, menggenggam tangan keriputnya, berbincang-bincang walau tidak nyambung plus harus setengah teriak-teriak... Obaachan, genki dene!!



Jumat, 27 Januari 2012

Salju...Salju.. Salju... (cerita mudik)


Wah, saya beruntung kali ini di 2 hari terakhir acara mudik ke Jepang, bisa lihat salju!
Mungkin terdengar sedikit norak, tapi terakhir kali sya melihat salju mungkin sekitar 4 tahun yang lalu, kejadiaannya sama waktu mudik musim dingin, tapi waktu itu saljunya langsung meleleh.

Di Tokyo sendiri, katanya timbunan salju yang mencapai 4cm lebih ini katanya sudah bertahun-tahun nggak terjadi.  Jadi, beneran kan saya termasuk beruntung ?
Malam tanggal 23 (senin) saya ada acara makan malam dengan beberapa orang klien di sekitar stasiun Tokyo, sementara Yacchin katanya mau quality time sama adiknya, Tatsuya di daerah Kawaguchi (daerah rumah Tatsuya). Jadi, sesuai kesepakatan kami akan bertemu lagi di stasiun Kawaguchi untuk bersama-sama berjalan kaki ke mansion tempat tinggal Tatsuya.
Nggak disangka menemani 3 orang om-om Jepang yang rada mabuk ngobrol-ngobrol itu cukup memakan waktu, yang rencananya acara makan-makan (minum-minum untuk para klien saya itu) berakhir pukul 8 malam, berlanjut hingga pukul 10 kurang. Dan ternyata ketika saya dan para om-om ini keluar dari restoran disambut hujan deras.
Bergegas kami menuju stasiun Tokyo yang berjarak hanya 3 menit berjalan kaki, di tengah perjalanan hujan yang turun berubah menjadi salju walau masih tipis..... Yeay! ini pun saya sudah kegirangan...
Berpisah di depan stasiun Tokyo saya langsung naik kereta Keihin Tohoku line, beruntung banget saya bisa langsung naik ke kereta ini. Karena kereta berikutnya tertunda karena salju yang turun semakin deras.
Dan, ketika sampai di stasiun Kawaguchi tempat saya, Yacchin dan Tatsuya janjian ternyata timbunan salju di jalanan sudah mulai menebal. Saya girang, Yacchin biasa-biasa saja, sementara Tatsuya bergegas untuk antri taksi. Jadi, waktu salju begini, taksi yang biasanya gak begitu 'laku' berubah jadi laku keras. Di tempat antrian taksi yang biasanya taksi kosong berderet-deret, kini deretan itu kosong song.. Digantikan dengan deretan penumpang yang antri dengan tertib menunggu kedatangan taksi.
Sampai di tempat tinggal Tatsuya waktu sudah mendekati tengah malam, kami disambut oleh Yuki-chan (istri Tatsuya) yang memberi tahu kalau WC mampet... ! Ooooh tidaaaak, beruntung tadi sebelum naik taksi sudah sempet mampir di toilet stasiun.
Karena salju turun semakin deras dan waktu juga sudah lewat tengah malam nggak ada lagi yang bisa dilakukan, kami berempat hanya bisa tahan-tahan untuk gak pergi ke toilet. (Heran juga sih kenapa Yuki chan gak coba hubungi pengelola mansion-nya ya ?)
Setelah mencoba untuk tidur, sekitar jam 05.30 Yacchin bangun dan buru-buru pergi ke convinient store untuk beli alat penyedot (apa sih namanya alat itu sebenarnya). Ternyata di 711 terdekat konon nggak jual alat itu, jadilah Yacchin ke tempat pengelola mansion untuk pinjam alat tersebut, dan langsung deh Yacchin benerin WCnya.. Hahahaha!
Hari selasa (24), baik Tatsuya mauounYuki chan kerja dari pagi sampai larut malam, jadi saya dan Yacchin juga harus ikutan keluar dari rumah dan pindah ke hotel di shinjuku (supaya keesokan harinya mudah untuk naik Narita Express ke bandara Narita).
Seperti yang sudah diduga telpon taksi sudah tidak ada taksi yang bisa melayani, nggak ada taksi yang ready.
Jadilah, pagi sekitar jam 8 itu kami keluar dari rumah Tatsuya untuk jalan ke stasiun Kawaguchi sambil geret-geret koper. Salju yang menimbun di jalan raya sudah dikeruk agar mobil bisa lewat sementara yang di trotoar untuk pejalan kaki walau sudah dikeruk masih menyisakan es yang licin sehingga harus ekstra hati-hati menjaga keseimbangan tubuh agar nggak terjerembab jatuh. Kadang-kadang kalau jalan raya kosong, saya dan Yacchin nekat jalan di jalan raya sambil geret-geret koper.
Di saat ini memang banyak sekali kecelakaan yang terjadi, baik untuk pejalan kaki yang jatuh karena terpeleset dan patah tulang (sebagian besar yang mengalami kecelakaan adalah para manula), belum lagi kecelakaan jatuh dari sepeda atau mobil. Saat salju begini memang harus hati-hati.
Setelah hampir 30 menit jalan kaki sambil geret-geret koper plus kedinginan sampai juga kami di stasiun Kawaguchi.... Benar-benar pengalaman yang seru dan jadi kenangan penutup perjalanan mudik ke Jepang (lah ini ceritanya kok dari penutup perjalanan ya... hehehe)
Girang bisa lihat salju


Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar bahasa Jepang di Bekka (別科)

Senin dan selasa kemarin saya berkesempatan untuk bekerja dengan Kansai University, sebuah universitas swasta favorit di Osaka, Jepang.

Kali ini misi kami adalah memperkenalkan program baru Universitas Kansai, yaitu program Bekka (別科).
Program Bekka ini sendiri adalah program khusus yang diadakan di berbagai universitas Jepang, yang bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa asing (di luar Jepang) untuk dapat mengikuti perkuliahan di Jepang. Umumnya program Bekka berlangsung selama 1 tahun, di mana mahasiwa asing tidak hanya belajar mengenai bahasa Jepang saja, tapi juga belajar mengenai budaya Jepang dan sebagainya yang akan menjadi bekal mereka ketika mereka akan meneruskan kuliah atau hidup di Jepang.

Saya sendiri pernah mengikuti program Bekka di sebuah universitas swasta di Tokyo sekitar 10 tahun yang lau (nggak terasa ya sudah 10 tahun berlalu!!). Dan bagi saya 1 tahun saya belajar di Bekka adalah merupakan salah satu memori terindah dalam hidup saya dengan aneka pengalaman dan pembelajaran buat saya. Tentu saja tidak hanya belajar bahasa Jepang, tapi juga belajar tentang banyak hal, kerjasama, toleransi, dll.


Dalam belajar bahasa Jepang
Umumnya bahasa pengantar yang dipakai dalam program Bekka adalah bahasa Jepang. Selain membuat murid bisa cepat menguasai bahasa Jepang, dalam 1 kelas berisikan murid dari berbagai negara, sehingga mungkin menggunakan bahasa pengantar selain Jepang (kalau 1 bahasa asing tertentu saja, nanti ada yang nggak nyambung sama sekali). Walaupun sama sekali belum pernah belajar bahasa Jepang, tetap saja kita harus mengikuti kuliah bahasa Jepang dalam bahasa Jepang. Susah ? pastinya ya! Tapi, tentu saja para sensei punya caranya sendiri sehingga murid dari negara manapun pasti nyambung dan mengerti dengan apa yang diajarkan.
Karena program di Bekka hanya terbatas 1 tahun, jadi kita benar-benar digembleng selama 1 tahun ini. Setiap senin pagi ada ujian bunpo (tata bahasa) , kaiwa (percakapan) dan dokkai (pemahaman baca), setiap hari jumat ada ujian kanji.Ujian kanji tentunya sangat berat buat kita dibandingkan dengan murid yang berasal dari China atau Korea. Yang diujikan dari ujian kanji adalah cara menulisnya (yang harus benar urutannya), baca kanji, dan arti kanji itu sendiri. Buat murid yang berasal dari hi-kanjiken alias negara yang tulisannya bukan huruf kanji, ujian kanji ini cukup menakutkan.
Kebetulan di kelas saya dulu, murid Indonesianya cuma saya seorang, jadi ketika saya berbicara dengan teman-teman saya, tidak ada pilihan lain selain berbicara dalam bahasa Jepang, yang membuat kemampuan bahasa Jepang saya berkembang sangat pesat.

Dalam hal belajar toleransi dan kerjasama
Karena 'sebatang kara' selama saya belajar di Bekka, saya sama sekali nggak bisa berlaku egois.. hehe! (padahal biasanya egois banget!)
Saya belajar untuk memahami beraneka karakter teman-teman saya dari aneka negara itu, terlebih kami juga tinggal di asrama yang sama, jadi otomatis, selama 1X24 jam saya harus bisa bertoleransi terhadap keadaan sekitar. Tentunya banyak hal yang mengagetkan bagi saya, contohnya teman Malaysia saya yang fanatik tidak mau lama-lama beramah tamah dengan teman saya dari Israel (musuh katanya!), teman China saya yang (maaf) selalu memikir untung rugi (dalam bentuk apapun) saat melakukan sesuatu dan mereka ini kalo masak heboh banget!, toleransi setiap hari harus makan di dapur+ruang makan yang semerbak dengan bau kimchi dari teman-teman Korea yang tidak mungkin makan tanpa kimchi, teman Rusia yang selalu bolos dari kewajiban untuk piket DAN! selalu berpenampilan seksi, contoh : hilir mudik di asrama hanya dengan menggunakan pakaian dalam, teman-teman Amriki atau Eropa yang 'bebas' kalau lagi pacaran di depan asrama heboh banget... (hahaha!)

Banyak kenangan yang tidak terlupakan selama 1 tahun itu, ibaratnya saat itu yang dipikirkan cuma senang-senang saja, susahnya paling kalau ujian kanji. Nggak cuma gemblengan pelajaran bahasa Jepang yang nyangkut terus di kepala sampai saat ini, belajar di Bekka juga adalah 人生の勉強 (jinsei no benkyou) alias pembelajaran hidup.

Memang biaya untuk belajar di Bekka tidak murah, tapi banyak di universitas di Jepang yang menawarkan beasiswa untuk muridnya yang berprestasi.
Sebagai contoh perkiraan biaya untuk masuk program Bekka di Universitas Kansai adalah :
Biaya masuk                               : 75,000 yen
Biaya kuliah per semester           : 315,000 yen
Biaya Asrama                            :    48,000yen
Biaya Hidup per bulan               :   80,000 yen
Memang sangat mahal (saya beruntung karena bisa mendapatkan beasiswa), tapi buat mereka yang berniat memperdalam bahasa Jepang, saya sangat rekomendasikan untuk ikut ikut program Bekka di universitas manapun di Jepang, contohnya di Universitas Kansai ini #bukanblogberbayar.
Banyak juga tawaran-tawaran beasiswa yang ditawarkan pihak universitas untuk mereka yang berprestasi. Jadi, tidak ada salahnya cari informasi mengenai beasiswanya juga!