Rabu, 12 September 2012

Ter #testpack.. cintailah pasangan kamu apa adanya

Date minggu kemarin ini, kami isi dengan acara makan dim sum di resto kesayangan kami, the Duck King dan dilanjutkan dengan nonton film testpack. Film drama yang diangkat dari novelnya Ninit Yunita dengan judul yang sama. Awalnya khawatir juga sih si #suamijepang ngerti apa nggak isi filmnya, tapi ternyata dia bisa ngerti 'big picture' ceritanya.
Beberapa tahun yang lalu ketika novel testpack ini keluar, saya temasuk pemb yang langsung jatuh cinta dengan isi ceritanya. Apalagi ceritanya lumayan dekat dengan cerita kehidupan saya.
Di sini saya bukan mau bikin review tentang film itunsendiri, tapi lebih menuliskan perasaan saya setelah saya menonton filmnya.

Rahmat dan Tata yang sudah menikah 7 tahun (kalau saya baru tahun ke-6, sih), yang sudah kepingin banget punya anak, sehingga hal apapun dilakukan untuk bisa mewujudkan keinginan dan impian itu
mulai timbul rasa 'iri' dengan rumah tangga orang lain yang telihat sempurna dan meriah dengan kehadiran buah hatinya. Dan mulai terasa terganggu dengan pertanyaan orang yang menanyakan kenapa kita belum juga punya anak.
Ada saat di mana saya stress dan letih dengan begitu banyaknya komentar yang nge-judge kenapa kami belum punya anak , sejujurnya itu lebih  stress dan frustasi dari kenyataan belum punya anak itu sendiri. Beruntung ortu+mertua nggak ikutan bikin frustasi dengan tuntutan atau komentar mereka.
Tapi ada loh kenalan saya yang setiap ketemu saya hampir sebulan sekali pasti selalu tanya sambil pegang-pegang perut saya.... 'wis berhasil belum, mbak?' begitu kerap kali. Well, itu saya anggap sebagai doa, jadi saya selalu menanggapinya dengan.."Aamiin"!
Tapi pernah juga ada komentar yang buat saya sangat menyakitkan dari seorang sepupu tersayang saya... 'elo nggak kasihan,Ta sama ortu lo... Buatlah ortu lo bahagia dengan kasih mereka cucu'!!!
Kalau bisa, kalau mampu, saya mau ngebahagiain orang tua saya dengan cara apapun, tapi kalo belum dititipkan anak sama Yang di Atas... Ya gimana dong.. 


Kembali ke cerita  film testpack, sakimg kepinginnya Tata memberi anak ke Rahmat, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan in vitro. Proses in vitro gagal, dan ketika masuk ke in vitro ke 2, Rahmat 'bersedia' melakukan tes kesuburan.. Dan, malah ketahuan kalau Rahmat ternyata mandul.
Rahmat yang punya prinsip kalo menikah itu adalah bukan semata-mata bertujuan untuk punya anak, tapi melengkapi pasangan satu sama lain... Kalaupun Tata misalnya mandul dia pun nggak akan meninggalkan Tata, seperti yang terjadi pada Shinta mantan pacarnya. Tapi justru dia yang harus menghadapi dialah yang mandul, dialah yang tidak bisa menghadirkan anak dalam kehidupan rumah
tangga mereka. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah Tata bisa selegowo Rahmat menerima kenyataan ini.... 

Satu hal yang bisa kita pelajari dari pasangan Tata dan Rahmat adalah menerima pasangan hidup kita apa adanya.. Seperti quote dari film ini... "Apa adanya kamu sudah melengkapi saya'..#uhuk.
Ketika kita menikah atau berkomitmen dengan orang lain, tentu saja kita punya impian-impian, harapan-harapan yang ingin kita bangun dan wujudkan dengan orang tersebut.... Walau tentu saja nggak ada hubungan yang sempurna, tentu saja kita mengharapkan yang indah-indah dari pasangan tsb.
Tapi kalau seandaianya pasangan itu memiliki sesuatu kekurangan entah itu mandul seperti Rahmat di testpack, atau dia mengidap suatu penyakit atau 'gangguan', atau kita mendapat pasangan yang tidak bisa menjalankan atau berfungsi sebagai mana kodratnya atau kenyataan lain yang jauh dari bayangan kita ketika menikah, apakah kita bisa menerima pasaangan kita apa adanya dan tetap berkomitmen dengan pasangan kita itu ?
 Menurut saya , bisa mencintai pasangan kita apa adanya walaupun dengan kekurangan-kekurangan fisik maupun psikologis adalah cinta yang sangat besar.
Ketika kita dihadapi dengan kenyataan akan kekurangan pasangan kita, walaupun menurut saya kita juga nggak boleh takabur gembar-gembor.. "saya pasti bisa menerima pasangan saya apa adanya", karena manusia itu mengalami perubahan dan kita nggak bakal tahu apa yang terjadi dalam hidup kita nantinya.
Tapi mungkin yang bisa dilakukan adalah kembali mengingat-ingat niat awal kita bersedia menjalankan hubungan dengan pasangan kita itu ....

Ps. Tulisan ini saya tulis sebagai catatan untuk saya sendiri.
Terima kasih untuk film testpack... Salah satu kriteria film yang bagus menurut saya adalah yang bisa membuat saya berpikir dan membuat catatan untuk diri saya sendiri... Bravo, testpack!!

Jumat, 31 Agustus 2012

(cerita mudik) Rumah kenangan penuh cinta


Lebaran tahun ini menjadi lebaran yang indah dan penuh kenangan, karena setelah sekian tahun absen mudik lebaran, kali ini saya+keluarga (8 dewasa+1 anak balita+1 anak batita) bisa ikutan tradisi mudik lagi. 
Terakhir berurusan dengan permudikan adalah di tahun 2006, lebaran pertama tanpa eyang kakung dari pihak mama.

Ketika eyang dari pihak mama yang tinggal di Pati, Jawa Tengah masih hidup, keluarga saya memiliki aturan merayakan berlebaran bergiliran, setahun di Jakarta di mana kebanyakan keluarga bapak tinggal dan tahun berikutnya dirayakan di Pati, di mana tempat keluarga mama berkumpul.
Kalau boleh jujur, waktu saya kecil saya lebih antusias ketika giliran merayakan berlebaran di kampung yang jauh dari keramaian Jakarta. Bahkan ketika saya dan kakak saya @fitriawahid masih SD hingga SMP liburan Ramadhan+lebaran selalu kami habiskan di rumah eyang.

Mungkin karena kami tidak tinggal berdekatan ketika kami, para cucunya berlibur, eyang akan memberikan servis yang sangat memuaskan dan 'sangat mahal'. 'Sangat mahal' karena syarat dengan kasih sayang eyang yang tidak bisa terbeli oleh apapun.

Rumah eyang yang kini sudah berubah dari rumah tradisional menjadi rumah yang sangat modern. Rumah yang dulunya hanya dialiri listrik pada jam-jam tertentu, rumah yang dulunya memiliki bagian yang berlantai bukan dari keramik, rumah yang memiliki bagian atap yang seperti 'ijuk' sampai-sampai kakak saya pernah menganggap rumah eyang saya itu gubuk, rumah dengan bak mandi besar berwarna abu-abu suram dan setiap kali mau mandi harus mengisi air dengan menimbanya terlebih dahulu... Kini berubah menjadi rumah modern yang semuanya ditutupi oleh keramik, sudah tidak ada bagian atap yang berijuk lagi, sudah tidak ada bak mandi berwarna abu-abu suram dan berganti dengan kamar mandi modern dengan warna yang ceria. Dengan adanya listrik 24 jam kapanpun kami bisa menonton TV, bahkan sudah terpasang Indovision.

Rumah kini boleh berganti bernuansa modern, tapi ajaibnya perubahan itu tidak sedikitpun menghapuskan kenangan saya akan eyang kakung dan eyang putri yang sudah tiada. Tiap jengkal setiap sudut dari rumah itu mengingatkan saya akan kasih sayang yang pernah mereka berikan kepada kami semua.
Masih ada dalam ingatan  eyang saya bersantai di kursi malas yang terbuat dari kayu di ruang tamu yang sangat lapang itu, tempat tidur tinggi yang terbuat dari besi dan berkelambu mengingatkan saya akan kelonan eyang putri penghantar tidur, masih ingat meja kecil di dekat meja makan tempat eyang kakung menikmati tehnya di sore hari, masih ingat eyang kakung yang menyembelih ayam untuk kami makan (sekarang tugasnya tergantikan oleh sepupu saya), masih ingat eyang putri dengan kebaya anggunnya yang tiap malam sebelum tidur melepaskan gelungan kondenya dan selalu meminyaki rambutnya dari botol cem-ceman berwarna hijau, masih ingat ketika saya cengeng eyang kakung saya memarahi dan menyuruh saya untuk pulang ke Jakarta dengan kereta tebu, masih ingat waktu saya kecil eyang putri pernah berjualan telur ayam, setiap sore beliau mengajak kami masuk ke kandang ayam untuk mengambil telur dan menghitunganya... Dan masih kenangan lainnya...

Kenangan indah itu sekarang tidak akan pernah mungkin terulang lagi,
Kenangan manis itu sekarang hanya sebatas kenanagan....

Sudah 9 tahun eyang putri meninggalkan kami, sudah 6 tahun eyang kakung meninggalkan kami...
Kapan terakhir kami semua merayakan lebaran bersama-sama di rumah penuh kenangan itu ?
Entahlah ? Mungkin 12 tahun yang lalu? Karena sebelum eyang putri meninggal saya tinggal di Jepang, saya tidak bisa ingat dengan persis terakhir merayakan lebaran di sana dengan formasi yang lengkap dengan semua adik-adik mama beserta keluarganya.

Tapi, setelah sekian tahun tidak merayakan lebaran dengan formasi lengkap..
Berlebaran di rumah eyang tetap menyisakan kenangan indah yang sama untuk saya.
Memang eyang sudah tidak ada bersama kami di sini tapi kami tetap bisa merasakan kebersamaan yang indah..
Anggota keluarga besar pun bertambah dengan para cucu mantu dan buyutnya yang membuat suasana semakin ramai.
Saya berharap eyang kakung dan eyang putri di sana bisa tersenyum melihat kebersamaan kami yang mengobrol akrab di malam takbiran, kebersamaan kami heboh nonton pawai takbiran, kebersamaan pergi nyekar ke makam eyang, pergi ke masjid untuk sholat Ied (walaupun saya nggak ikutan sholat), kebersamaan bersalaman saling memaafkan, dan tentu saja kebersamaan berebut aneka makanan yang disedikan yang semuanya maknyuuuss!

Rumah, ketika ditinggal pemiliknya terkadang berubah menjadi 'dingin'
Kehangatan rumah yang pernah ada ketika ditinggal pemiliknya terkadang berubah menjadi hampa.
Tapi tidak dengan rumah eyang di Pati ini...
Rumah ini bagi saya tetap menghadirkan kehangatan, tetap memberikan keceriaan dan keriaan.
Mungkin kehangatan dan keceriaan yang saya rasakan walau telah bertahun pemiliknya meninggalkannya adalah karena semasa hidupnya eyang kakung dan eyang putri selalu mengisi, mendekor dan membenahi rumah ini dengan kasih sayang dan cintanya supaya teruuus bisa dirasakan oleh anak, cucu, buyutnya.....

★Alfatihah untuk eyang kakung+eyang putri....

Senin, 13 Agustus 2012

Bulan Agustus, bulan perayaan...

Bulan Agustus, bagi keluarga kami adalah
bulan dengan banyak hal yang perlu dirayakan, perlu disyukuri.

Tanggal 7 Agustus, adalah ulang tahun pernikahan mamah-bapak,
tahun ini adalah ulang tahun yang ke-37.
Saya tahu kehidupan pernikahan orang tua saya, tentu saja seperti kehidupan pernikahan orang lain,
bukanlah kehidupan yang sempurna...
Walau tidak pernah sama sekali mereka ribut-ribut di depan kami anak-anaknya...
Tentu saja mereka tidak selalu sepaham,
tentu saja mereka terkadang berdebat...
Tetapi, buat saya, saya ingin bisa mencontoh keteladan pernikahan mamah-bapak.

Tanggal 11 Agustus, adalah ulang tahun si #suamijepang yang ke-sekian...
Hehehe yang ke-39 tepatnya!
Saya selalu mendoakan supaya #suamijepang tersayang ini bahagia dunia-akhirat
Hidupnya senantiasa dilimpahi hidayah+barokah...
Dimudahkan segala urusannya...
Dan, diangkat semua penyakitnya...
#suamijepang minta dibeliin hadiah dompet, tapi kita belum punya waktu untuk cari-carinya
Sebagai seorang Leo, emang si #suamijepang ini suka keras kepala... Termasuk dalam urusan cari-cari barang, kekeuh ada kriterianya yang hanya dia dan Allah SWT yang tahu kriterianya itu apa..
Jadi, daripada sok-sok kasih surprise diany juga gak gitu sreg, mendingan kita sama-sama cari
Perayaan kecil2an.. Shortcake untuknya, Choclate Amer untukku
Tanggal 14 Agustus, ultah keponakan tersayang FAIZA RISMADINA WAHID
Tahun ini ultahnya yang ke-4! Obsesinya jadi pramugari, mungkin karena kecil-kecil begini dia sudah suka traveling... Untuk bisa mewujudkan cita-citanya itu, Faiza yang cenderung susah makan sekarang lumayan giat makan, katanya biar cepet tinggi kayak pramugari dan bisa angkat-angkat koper. (lol)

Dengan aneka hal yang harus disyukuri tadi + bikin acara buka puasa bareng, jadilah hari minggu kemarin (12/8) diadakan bukber di rumahnya mr&mrs Hashimoto, alias rumah saya sih sebenarnya!
Hadirinnya sih benar-benar cuma keluarga dekat-dekat saja...Beberapa orang sepupu dan beberapa orang keluarga besannya adik. Karena si keluarga besan itu kan juga pengen ngerayain ultahnya si cucu pertama.

Acara :
Dimulai dengan siraman rohani.. Bukan ceramah, sih.. Tapi ya ngobrol-ngobrol saja.. Temanya juga ngalor ngidul mulai dari tema tentang 'usia yang manfaat' (berhubung pada ultah), 'doa' dan juga tentang 'sabar'

Berikutnya, acara yang sudah ditunggu-tungga Faiza selama berbulan-bulan, yaitu tiup lilin!
Kue ulang tahunnya tahun ini bertema DORA
Sejujurnya saya sih nggak suka sama rasa kue-kue bertema karakter yang ngetren banget untuk acara ulang tahun anak-anak.. Mungkin karena pada dasarnya nggak terlalu suka kue dengan cream! Sementara kue-kue ultah anak-anak ini kan selalu pakai cream yang berlebihan

Hidangan
Nasi Peda+Nasi Kebuli,
Tekwan
Bakwan Jagung
Risol+sambel kacang
Serabi
Chicken ... (apa ya namanya lupa.. Buatan Anggie, sepupu saya)
Birthday cake DORA untuk Faiza dan Red Velvet dari Ndoroputri, kakak saya untuk si #suamijepang

(niatan mau foto-foto tapi nggak sempet deh)
Sempatnya cuma pas tiup lilin itu juga goyang hahaha




Tutup lilin tandem.. Kue dora untuk Faiza, Red velvet utk  oom Hashi












                                                                           





Minggu, 05 Agustus 2012

Cuap cuap bahasa Indonesia #suamijepang

Suatu yang seru dari nikah antar bangsa adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, begitu juga dalam kehidupan pernikahan kami ini.
Hampir 80% komunikasi yang kami lakukan adalah dalam bahasa Jepang, tapi tentu saja ada saat-saat di mana kami berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
Dan walaupun saya bekerja sebagai penerjemah bahasa Jepang, tetap saja saya bukan native Jepang,sudah tidak terhitung kesalahan bahasa yang saya perbuat... Misalnya mau ngomong di rambut suami ada "shiraga" alias uban, eh malah jadinya "shirami" alias kutu...

Begitu juga dengan #suamiJepang yang memang pada dasarnya nggak berbakat di bidang bahasa, sudah banyaak sekali 'kesalahan-kesalahan' lucu yang dilakukan #suamiJepang dalam berbahasa Indonesia...
Berhubung (menurut) saya ini lumayan lucu, saya mau berbagi cerita lucu ini...

1. Suatu hari #SuamiJepang berkenalan dengan seseorang. Saya yang duduk di sebelahnya asik mendengarkan percakapan mereka berdua,ketika percakapan masuk mengenai pekerjaan tiba-tiba saya ngakak keras..
            Kenalan baru  : "Jadi, H san kerjanya di mana ?
            Suami Jepang :  Di Kacung (suaranya penuh percaya diri) 
            Kenalan baru  :   HAH ?? 
* memang sih, suami saya itu orangnya rajiin banget terutama dalam hal ngeladenin orang.. Tapi, bukan bukan karena dia kerja sebagai kacung atau yangt berbau-bau kacung.. Dia sebenarnya ingin bilang kalau kantornya itu berlokasi di Cakung.

2. Suatu malam melihat saya membaluri tubuh saya dengan minyak telon, tiba-tiba suami berkata

           Suami Jepang  : Saya baru tahu kalau nasu* di Indonesia itu bisa bikin badan jadi hangat
           Vita                 : Nasu gimana sih ? di mana-mana nasu nggak bisa bikin hangat badan kali
           Suami Jepang : Loh ini ? Ini bahannya dari nasu kan ? dari terong ?
           Vita                 : *Ngakak sejadi-jadinya*

Note. Nasu dalam bahasa Jepang artinya terong.... Berhubung dalam aksara bahasa Jepang nggak ada huruf L jadi orang Jepang sering salah antara R dan L. Dan huruf N sering dilafalkan seperti 'nG'. Jadilah suami Jepang mengira MINYAK TELON adalah MINYAK TERONG.

3. #SuamiJepang yang baik hati sangat ringan tangan dalam membantu, termasuk kalau lagi bersantai di rumah orang tua saya, dia terkadang membantu para ART membawa aneka nasi beserta lauk-pauknya dari dapur yang ada di lantai bawah ke ruang makan lantai atas (ada 2 ruang makan di rumah ortu saya). Suatu hari, sehabis bantu-bantu #suamiJepang masuk ke kamar sambil tersenyum
           
            Suami Jepang  : Kata bibik aku seksi, loh... 
           Vita                 : HAH ? dilihat dari mana ? Bohong kali si bibik
           Suami Jepang  : Nggak, beneran dia bilang aku seksi.. Seksi konsumsi... (dengan muka serius)
           Vita                 : Bwahahahaah
           Suami Jepang  : Konsumsi itu artinya apa ya ? 

4. Suatu pagi sambil minum kopi di teras belakang saya baca koran KOMPAS

           Suami Jepang  : Tokyo DisneyLand harganya naik saja bisa masuk KOMPAS ya ?
           Vita                 : Mana beritanya ?

   #SuamiJepang kemudian mnenunjuk satu artikel
  Aaaaah capek deh, di Indonesia TDL itu artinya Tarif Daftar Listrik bukan Tokyo Disney Land!!

5.  Pulang kerja #suamiJepang mengadu pada saya...
    
          Suami Jepang : Kenapa ya kok hari ini pak Wondo (supirnya-red) sering senyum-senyum terus
                                  dengar saya bicara
          Vita               : Memangnya kamu ngomong apa ?
          Suami Jepang : Saya cuma kasih instruksi untuk pergi ke MERANA BUDI dan MERANA               
                                   Jamsostek...
          Vita               : *menahan senyum*

Untuk kali ini, saya bagi 5 kelucuan (baca:kesalahan) berbahasa Indonesia si #SuamiJepang... Menurut saya sih lumayan lucu... Nggak tau kalau bagi kalian-kalian semua bagaimana ?

Senin, 30 Juli 2012

'Egao wo tsukuru shigoto'

Kira-kira kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah
'pekerjaan yang membuat orang lain tersenyum'

Kata-kata ini saya dapatkan dari klien saya hari ini.
Sebenarnya klien ini adalah klien baru saya, tapi sejak saya dengar perusahaan ini mau ekspansi bisnis di Indonesia, sebenarnya saya selalu berharap dapat tawaran kerja dari sini.
Berharap dengan sering-sering berpikir enaknya kalau saya bisa kerja bareng.
Alhamdulillah, harapan-doa saya terkabul.
Makanya, ketika pihak JAC saya menawarkan kerjaan ini ke saya... Langsung saya balas bbm-nya dengan senyum lebar di muka saya..

Sebagai pekerja penerjemah lepas, sesuatu yang saya nikmati adalah berbincang-bincang dengan si klien untuk tahu sejarah perusahaan, cerita di balik pekerjaannya itu sendiri dan juga tentang si klien itu sendiri.
Walau pekerjaan yang ditawarkan hari ini hanya setengah hari, yang berarti saya tidak punya cukup banyak waktu untuk ngobrol ngalur ngidul dengan si klien.
Dalam perjalanan pulang dari meeting kami bisa sedikit banyak bercakap tentang ini-itu.
Saya jadi tahu sedikit tentang sejarah perusahaan, sejarah produk andalannya termasuk dengan target market dengan attitude dan lifestyle yang berbeda dengan target market di Jepang atau di negara lainnya.
Lucunya si klien ini tiba-tiba menawarkan sebuah posisi pekerjaan untuk saya.
Dan hampir sisa dari setengah perjalanan dia berusaha meyakinkan saya dengan membeberkan beberapa keuntungan kalau saya mau bekerja di perusahaannya.

Dari sekian poin yang digunakannya untuk meyakinkan saya mau bekerja di tempat kerjanya adalah
bahwa saya akan selalu tersenyum kalau kerja di tempatnya.
Karena pekerjaan yang akan dilakukan nanti adalah pekerjaan yang akan selalu membuat orang tersenyum
                                               'Egao wo tsukuru shigoto'

Aaaah sebuah kata yang simple namun indah menurut saya.
Terlepasa dari mau tidaknya saya menerima 'lamaran' mendadak ini, saya sih maunya pekerejaan saya adalah 'egao wo tsukuru shigoto' adalah pekerjaan yang bisa membuat orang lain terus tersenyum....



Senin, 23 Juli 2012

Berhenti sejenak

Perekonomian Indonesia yang terus maju,
Pasar Indonesia yang katanya seksi,
Membuat investor Jepang banyak melirik Indonesia... Dan, artinya semakin banyak orang-orang Jepang yang datang ke sini untuk bekerja...Dan, Alhamdulillahnya pekerjaan untuk penerjemah Jepang makin bertambah.. Dan, Alhamdulillahnya lagi, pekerjaan saya ikut bertambah. 
Awal tahun ini pekerjaan saya, Alhamdulillah semakin beraneka ragam... JBuumlah klien bertambah, jenis pekerjaan pun makin beragam...
Memasuki bulan Mei hingga minggu lalu, pekerjaan hampir tidak ada jeda...
Tampaknya semua 'berebut' mau biztrip ke Indonesia sebelum Ramadhan...
Jadi, sabtu-minggu hampir-hampir tidak ada waktu libur karena pekerjaan menuntut begitu.

Senang ? Pastinya saya senang....
Saya dapat sekali banyak pengalaman dan pelajaran...
Tentu saja gak lupa saya mengucap syukur atas rejeki yang tidak putus ini...
Tapi entahlah,kemarin ini saya merasa kelelahan saat ini.
Kemarin ini saya seperti berlari cepat tanpa istirahat.. tanpa jeda...
Berlari cepat tanpa ada yang mengejar
Berlari cepat tapi garis finish itu nggak juga kelihatan

Masuk bulan puasa ini, saya mau berjalan lebih santai
Saya mau berhenti sejenak dari semua huru hara kemarin itu
Saya mau lebih mendekatkan diri padaNya
Saya mau lebih berkontemplasi apakah arah lari saya yang kemarin-kemarin itu sudah benar
Mudah-mudahan di ujung Ramadhan nanti, nggak cuma kemenangan dari menahan hawa nafsu yang saya dapatkan,
Tapi juga saya berharap menemukan jawaban apakah saya sudah berlari ke arah garis finish yang benar atau belum....




Minggu, 22 Juli 2012

Wajar... ?Tidak wajar... ? Bertanyalah pada tempatnya....

Salah satu 'tugas' yang dihadapi saya sebagai penerejemah adalah menerima pertanyaan klien-klien Jepang saya seputar kebiasaan-kebiasaan orang Indonesia. Terlebih belakangan ini saya lebih banyak bergelut di bidang 'marketing research' sehingga saya sering berhadapan dengan klien-klien yang emang getol banget untuk tahu mengenai Indonesia tidak hanya dari kulitnya saja, tapi juga pengen tahu lebih dalam tentang value, mindset, behaviour orang Indonesia. Ibaratnya mau tau orang Indonesia sampai ke jeroan2nya deh!

 Saya sendiri sebagai orang Indonesia punya minat yang sangat besar tentang hal tsb, jadi saya selalu semangat untuk mengikuti aneka macam riset apapun itu bentuknya, home visit,FGD, IDI, dsb dsb... Karena saya selalu mendapat ilmu baru sehabis saya kerja, bukan saja ilmu penerjemahan atau ilmu bahasa Jepang ya.... Tapi, lebih dari itu dari setiap riset yang saya ikuti, saya selalu belajar tentang pandangan orang lain, tentang value hidup,dsb... Percaya atau tidak ini membuat saya lebih banyak bersyukur dam bertoleransi.... (inilah yang membuat saya suka dengan pekerjaan saya) Kembali ke soal pertanyaan-pertanyaan klien Jepang saya... Dalam pekerjaan riset ini, katanya demi mengetahui orang Indonesia lebih dalam, seringkali si Jepang-Jepang ini mengajukan pertanyaan yang ajaib.Hmmm, sebenarnya pertanyaan ajaib ini definisi saya sendiri sih, karena sesuatu yang saya anggap wajar tetapi menurut sudut pandang orang asing (baca Jepang) adalah bukan hal yang wajar, bukan kebiasaan mereka.. Contohnya : "kenapa orang Indonesia mandi 2 kali sehari ?" "apakah wudhu di rumah dengan wudhu di tempat kerja yang dilakukan sama?", "kenapa orang Indonesia nggak boleh mandi waktu panas?", "kenapa orang Indonesia suka minum teh manis (padahal kan gak semua orang ya?)", "kenapa orang Indonesia banyak yang sakit maag?", "kenapa orang Indonesia suka ngobrol?" dan aneka kenapa-kenapa lainnya... Aneka pertanyaan yang kadang pengen saya jawab dengan "meneketehe" atau "udah dari sononya kali" atau kadang pengen balik nanya "lah orang Jepang kenapa nggak begitu?"

Jumat lalu, terhimpit di antara 2 klien tersayang saya di dalam innova yang membawa kami dalam perjalanan dari Tanjung priok-Semanggi selama 3 jam, membuat kami berdiskusi seru akan hal ini... Sebagai penerjemah+sebagai orang Indonesia terus terang saya walau terkadang terheran-heran, pertanyaan-pertanyaan ajaib saya tertantang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.. Walau seringkali jawaban yang ada adalah sama sekali jawaban yang logis, tapi terus terang kadang saya terganggu dengan pertanyaan yang sifatnya terlalu pribadi atau menyerang... Kemudian saya ingat, waktu tinggal di Jepang saya juga kerap menanyakan hal-hal yang menurut saya tidak wajar, tetapi sebenarnya adalah sesuatu hal yang wajar bagi orang Jepang.... Seperti : "kenapa orang Jepang cuma mandi sehari sekali, dan masuk ofuro?", "kenapa orang Jepang selesai makan senenngnya minum ocha?", "kenapa cewek2 SMA Jepang hobi banget pake rok super mini padahal lagi musim dingin?", "Kenapa cewek Jepang ngomomgnya suka disengau2in?", "kenapa cowok Jepang suka pada bentuk alisnya?" "kenapa orang Jepang rata2 nggak beragama?" "katanya orang Jepang nggak beragama, kalo ke kuil berdoa ama siapa dong?" dan sekian ratus pertanyaan kenapa lainnya..

Pertanyaan yang sebenarnya mungkin tidak ada jawabannya, pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab bahkan mungkin pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu saya tanyakan. Kesimpulan kami bertiga, seringkali dengan alasan 'orang asing' kita merasa berhak bertanya akan hal apapun kepada orang yang tinggal di negara (daerah) lain, apa yang kita tanyakan itu terkadang adalah sesuatu hal yang di luar kebiasaan kita,terkadang kita merasa sesuatu yang di luar kebiasaan kita adalah sesuatu yang tidak wajar(kalau tidak mai dibilang aneh). Karena kita, sebagai manusia merasa hidup berpatokan dengan nilai dan pandangan yang kita anut, jadilah kita merasa WAJAR untuk menanyakan alasan terhadap sesuatu yang kita anggap TIDAK WAJAR tadi. Pelajaran yang bisa kami ambil bertiga dari obrolan di tengah macet adalah Padahal belum tentu semua hal memiliki alasan di baliknya.... Dan belum tentu semua pertanyaan memiliki jawaban.... Yang lebih penting lagi, belum tentu setiap yang kita anggap 'tidak wajar' itu pantas ditanyakan.... Jangan karena kita 'orang asing' kita merasa pantas untuk menanyakan apapun.... Bertanya itu di manapun tempatnya butuh kepekaan.... Setuju dengan kami bertiga ?

Selasa, 17 April 2012

Mencontek itu ternyata..... Universal!

Berita tentang UN alias Ujian Nasional ramai menghiasi media beberapa hari belakangan ini.
Anehnya yang diberitakan itu bukan berita yang baik-baik. Berita tentang kebocoran soal ujian, jual beli kunci jawaban, cerita tentang guru yang sengaja mengumpulkan para siswanya untuk kasih tahu kunci jawaban, dan sejenisnya dan sebagainya.
Rasanya hampir bisa dibilang tidak ditemukan 'keceriaan' dalam berita tentang ujian nasional yang disuguhkan.. Ya iyalah namanya juga ujian ? Iya juga sih yang namanya ujian baik ujian di sekolah maupun ujian hidup pastinya 'susah' dan tidak menyenangkan.
Mungkin saya agak lebay, ya.. Tapi kok kayaknya berita tentang Ujian Nasional ini memberikan kesan bahwa UN ini seperti sebuah momok yang menakutkan.. Mencekam!! (oke saya tau saya lebay...)
Dan semakin ba
Perasaan zaman jadul dulu, zaman saya ikut EBTANAS, rasanya nggak sebegitu menakutkan seperti sekarang.
Eh, tapi ngomong-ngomong dulu udah ada belum sih jual beli kunci jawaban seperti sekarang ? Mungkin ada ya ? Tapi nggak seheboh sekarang...
Kalau saya sih ingatnya cuma suka banyak teman yang nyontek waktu ujian. Kalau saya ? Saya sih nggak pernah nyontek.. Bukan, bukan karena sok suci.. Tapi, karena cemen aja, nggak berani ikutan nyontek. Karena saya tipe orang yang grasa-grusu, pasti langsung ketahuan deh kalo nyontek (ngebet). Sesekali lah waktu zaman sekolah dulu tanya sama teman di kiri-kanan, tapi itupun udah dag dig dug mampus.
Makanya saya juga terkagum-kagum sama teman yang jago banget ngebet dari buku, atau bikin klepekan di secarik kertas yang ditulis kecil-kecil... Sumpah kagum banget! Dulu pernah kepikiran pengen bisa kayak gitu, karena hidup tenang dan damai di saat ujian, tapi apa daya tangan tak sampai... Saya nggak punya kemampuan untuk itu.
Kekaguman saya makin bertambah ketika saya kuliah di sastra Jepang, kagum sama teman-teman saya yang jago bikin kebetan dengan huruf kanji. Tapi kadang mikir juga sih, daripada repot-repot bikin kebetan gitu bukannya mendingan belajar yang benar saja ya ? Soalnya kayaknya justru ribetan bikin contekan..

Ngomong-ngomong soal contek mencontek, soal ngebet dari buku atau bikin kebetan di kertas, ternyata nggak dimonopoli oleh orang Indonesia loh!
Alkisah, waktu saya sekolah bahasa Jepang di sebuah Universitas Swasta di Jepang. Mungkin seperti umumnya di Bekka (Japanese course) di universitas lain, setiap hari senin dan jumat diadakan ujian bahasa Jepang. Ujian-ujian ini sih tujuanya hanya sekedar tes kemampuan saja, untuk tahu gimana perkembangan kita belajar selama seminggu itu bagaimana.
Ujian yang buat saya nggak berarti apa-apa karena toh memang tujuannya untuk tau perkembangan kita sampai mana. Jadi, saya selalu belajar sekedarnya, dan jawab ujian itu semampu saya untuk tau saya bisanya sejauh mana. Saya pikir, teman-teman saya yang dari berbagai macam negara itu juga akan beranggapan sama, karena memang itu yang diwanti-wanti sama para sensei. Dan, saya pikir di sono bukan Indonesia gitu loh! nggak adalah orang yang 'nggak jujur' dalam ujian.
Eh, tapi ternyata tanggapan saya salah... Banyak banget teman-teman saya dari China yang dengan santainya ngebet dari buku yang tersimpan rapi di laci meja. Teman-teman dari Korea yang saling kasih kode, sampai teman saya yang blasteran Jepang-Amerika yang seksi dengan santainya nulis kebetan di pahanya. Juga beberapa teman saya yang lainnya.Yang paling saya terkejut adalah teman saya dari Denmark, cewek ini aktivis perempuan gitu, paling tua di kelas.. Waku itu rata-rata kita berusia 20tahunan, sementara tante dari Jerman sang aktivis ini usianya sudah mendekati 40 tahun,mau masuk S3 di Universitas tsb, dan orangnya penuh idealisme gitu.. Tapi, dengan santainya dia tetap loh bikin kebeten berupa huruf kanji kecil-kecil yang ditulis di secarik kertas dan disimpan rapih dikotak pensilnya.Dalam hati saya ingin tertawa, jangan bilang yang tukang nyontek itu orang Indonesia saja... Ternyata nyontek itu, bikin kebetan itu universal ya... !
Tapi, rasanya kendati contek mencontek itu unviersal, kayaknya di negara lain nggak akan ditemukan deh berita tentang ujian nasional seheboh berita di Indonesia...



Jumat, 13 April 2012

2 hari bersama prof. Tanaka

Sesuatu yang saya cintai dari pekerjaan penerjemah adalah bisa ikut belajar gratis tentang ini itu.
Seperti 2 minggu yang lalu saya berkesempatan  menemani prof. Hideharu Tanaka dari Kokushikan University.
Profesor Tanaka ini adalah ahli trauma, resuscitation dan prehospital emergency system.. Apalah saya juga bingung jelasinnya. Tapi dalam perkenalan begitulah beliau menjelaskan keahliannya.

Kali ini saya berkesempatan menemani beliau dalam 2 hari seminar yang diadakan di Jakarta dan Surabaya mengenai penanganan henti jantung mendadak oleh orang awam di Jepang.
Salah satu faktor tingginya angka kematian serangan henti jantung mendadak adalah dikarenakan tidak adanya fasilitas di tempat kejadian,baik berupa peralatan yang dibutuhkan ataupun orang yang dapat memberikan pertolongan itu.

Dalam kesempatan ini Profesor Tanaka memberikan presentas tentang pengalamannya di Jepang dalam hal CPR (pertolongan pertama yang dilakukan untuk orang yang mengalami henti jantung mendadak) dan penggunaan AED (automatic external defibrilator/alat kejut jantung .
 Profesor Tanaka menjelaskan kalau di Jepang kesadaran untuk segera menolong orang yang terkena serangan sudah sangat tinggi. Dari diskusi para peserta, saya jadi tau bahwa termasuk saya kesadaran orang Indonesia untuk hal ini justru masih terbilang rendah.Saya sendiri merasa tidak tau apa yang harus saya lakukan ketika misalnya di dekat saya ada orang yang terkena serangan jantung. Harus bagaimana ? Harus menelpon ke mana ?
Di Jepang, seperti juga latihan tanggap bencana seperti gempa, training untuk ini sudah dilakukan sejak mereka kecil.
Profesor Tanaka memiliki program untuk latihan mengenai CPR dan AED ini dari mereka TK. Jadi, menurut beliau paling tidak sampai usia 18 tahun, ketika seorang siswa tamat SMA mereka sudah mengikuti 4 kali latihan, ketika TK, SD, SMP dan SMA. Tujuan dari latihan-latihan ini bertitik berat pada 'Meningkatkan Kesadaran orang awam'. Umumnya anak sekolah ketika diberikan satu latihan akan bercerita kepada orang tuanya, di sini kesadaran orang tua pun bisa ikut meningkat.
Profesor Tanaka menceritakan tentang beberapa kasus serangan jantung si pasien bisa terselematkan karena 1st respondernya adalah para siswa SD. Mereka tau harus bagaimana dan mereka harus menghubungi siapa. Sehingga pertolongan dapat segera dilaksanakan.
Di samping itu, di Jepang di berbagai sudah memiliki alat AED, sehingga sebenarnya tanpa harus menunggu ambulance (yang akan datang dalam waktu 10 menit sesudah ditelpon) pertolongan dengan AED ini sudah dapat dilakukan.
Di sekolah, tempat perbelanjaan, stasiun kereta/subway, tempat-tempat olahraga, gedung perkantoran, convinient store, dan di tempat keramaian lainnya pasti terpasang alat AED ini. Pemerintah Jepang memang menyarankan pemasangan alat AED ini, tapi tidak ada hukum yang memayunginya.Mereka melakukannya karena kesadaran akan pentingnya pemasangan alat AED tersebut. Begitu juga semakin banyak orang Jepang yang sadar untuk mengikuti pelatihan  CPR/AED ini. Sementara kesimpulan dari para peserta, di Indonesia karena kesadaran orang Indonesia masih rendah, kalau tidak ada hukum yang memayunginya, tempat yang tergerak untuk memasang alat AED dan orang-orang yang tergerak untuk ikut training CPR/AED ini masih sangat sedikit.

Kesimpulan saya : Semua itu diawali dengan kesadaran. Semua harus didasari dengan niat untuk membantu orang. Mungkin masih banyak orang yang ingin membantu ketika orang terkena serangan jantung/kecelakaan, tetapi ragu atau takut tidak bisa melakukannya dengan benar, takut nanti hasilnya justru memperparah keadaan. Cambuk buat saya sendiri, semua itu harus kembali kepada niat membantu orang. Karena tidak ada yang pernah salah dari niat itu.

Intermezzo 
Yang saya nikmati selama di Surabaya
1. Makan rawon di hotel Elmi









Rawon ini rasanya Jawa Timur banget! meningatkan rasa rawon yang dimasak di Matraman, kediaman almarhumah eyang saya. Sulit deskripsiinnya! Tapi pasti pengen makan sampai tandas dan nagih banget!
2. Klaapertart
Beli untuk oleh-oleh. Kok beli klaapertart di Surabaya ? Saya juga awalnya bingung.. Tapi, klapeertart ini enak. Tidak berair/bertaburan buih kocokan putih telur, klaapertaart ini bentuknya 'kering' sepeti kue bolu, tapi rasanya sungguh tidak biasa... Nggak bikin enek, dengan rasa manis dan rasa kenyal kelapa yang pas.
Bisa dibeli  di : Caryabudi Klaapertart, Ngagel Jaya 52, no. telp (031-5023327) (Sebaiknya telpon dulu)
3. Otak otak bandeng ibu Muzana,Gresik
Akhir-akhir ini saya memang tergila-gila otak-otak Bandeng Jawa Timur yang ada perpaduan rasa pedasnya.
Berhubung memang saya mau berkunjung ke rumah sepupu di Gresik, jadi saya sempatkan untuk mampir di toko ibu Muzana ini. Alamatnya di Jl. Sindojoyo no. 68 Gresik (belakang pasar Gresik).
                                                     No. Telp 031-398-3978









Sabtu, 31 Maret 2012

Jalan-jalan : Bogor

Mumpung pas barengan punya 1 hari libur, hari jum'at lalu saya, @audrisani alias Dina dan @liliksari alias Lilik dolan ke Bogor...  Kali ini sebenarnya perjalanan ke-2 kami ke Bogor.
Lokasi yang tidak jauh dari Jakarta, wisata kulinernya maknyus... Dan!! yang paling penting, sebenanrya tujuan utama kita adalah beli celana jeans Levi's di factory outlet. 

Perjalanan kami diawali dengan menjemput Lilik di rumahnya yang asri dan keren di Sentul. Sebenarnya pengen berleha-leha dulu di rumahnya Lilik, tapi berhubung ini hari jumat dan Pawit (supir saya) harus melaksanakan sholat Jumat, kami langsung capcus ke Bogor. Tujuan pertama kami adalah makan siang sembari menunggu Pawit yang sholat Jumat. 

Pilihan restoran untuk makan siang adalah De' Leuit yang terletak di Jl.Padjajaran. Restoran 2 tingkat luas dilengkapi dengan saung-saung yang asri. 
Andalan di De'Leuit ini adalah ikan mas pepes... Bumbu pepesnya pas banget... 1 ekor ikan mas pepes tandas oleh kita bertiga sampai ketulang-tulangnya yang empuk. 
Ikan gurame khas De'Leuit yaitu ikan gurame fillet goreng tepung yang disiram dengan sambal mangga. Paduan rasa asam-pedas-manis dari sambal mangganya sangat segar dan dijamin bikin kita melek. 
Rujak Pengantin, Pepes oncom dan bakwan jagungnya (walopun potonganya kecil) melengkapi kenikmatan kami makan siang sambil ngobrol-ngobrol siang itu.

ikan pepes, ikan gurame de'leuit rujak pengantin kangkung dll

Tujuan berikutnya adalah kunjungan ke factory outlet. Incaran pertama kami adalah Bogor Boutique Outlet yang beralamat di jl.Pajajaran no. 9. Di FO ini tersedia celana jeans yang murmer. Yang kami incar adalah celana jeans dengan merk (konon) 'LEVI'S'. Modelnya cukup lucu-lucu sayangnya ukuran untuk saya dan Dina jarang ada... Yang banyak tersedia yang ukurannya kecil untuk mereka yang super langsing atau ukuran yang besar-besar. Beruntung kali ini saya bisa dapat 1 celana jeans lumayan untuk nambah koleksi. 
Setelah itu kami juga berkunjung ke beberapa FO, Lilik dapat jaket biru yang lucu. Tapi secara keseluruhan kunjungan FO kali ini nggak begitu sukses... Hehehe mungkin lain kali bisa dapat peruntukan yang lebih baik,ya

Perjalanan kami lanjutkan ke Roast Chicken untuk cemal-cemil sore. Di Roast chicken  kue soes blueberry, pastel pannggang dan wedang sekoteng kami pilih untuk teman curcol kami. 
Kulit kue soes yang garing-garing dipadu dengan cream blueberry yang manis manis asem wajib dicoba kalo berkunjung ke Roast Chicken ini, sayangnya Lilik nggak terlalu suka karena terlalu manis. Lilik kosentrasi dengan pastel tutup panggang. Pastel tutupnya juga wajib coba, isinya meat sauce, telur puyuh dan potongan susis... Yummy!
kue soes blueberry



Jalan-jalan singkat ke Bogor dengan teman dekat... 
Belanja, Wiskul, Curcol! Seru 










Senin, 26 Maret 2012

bisnis trip : Surabaya

Tanggal 18-22 Maret minggu lalu kerja seru-seruan di Surabaya
Ada banyak yang bikin seru kali ini, 
Pertama : Jenis pekerjaan yang saya sukai. Berkunjung ke rumah orang alias namu, terus ya ngobrol-ngobrol sama yang punya rumah. Ya, namanya saya termasuk orang yang suka ngobrol ngalor ngidul ya, ya jadi seru aja bisa ngobrol sama tuan rumah. 

Kedua : Kliennya adalah klien favorit saya

Ketiga : Penerjemahnya bukan saya sendiri, tapi sahabat saya, @audrisani alias Dina serta mbak Handa juga ikut serta. Dan, saya nantinya akan sekamar dengan Dina, jadi kebayang dong bisa puas ngobrol-ngobrol siang dan malam. 
Ditambah, saya, Dina dan mbak Handa adalah termasuk orang yang menghargai masakan orang alias tukang makan, jadi sudah terbayang juga tuh pasti di Surabaya nanti kita bisa juga sekalian wiskul.

Tapi, harapan tinggalah harapan, ternyata jadwal di sana begitu padat, boro-boro ada waktu untuk wisata kuliner, kegiatan kami adalah hotel-tempat kerja- hotel-meeting malam! Selamat tinggal wisata kuliner.
Bahkan untuk menengok ke mall sebelah yang nyambung dengan hotel pun kami tidak punya waktu. 
Makan pagi dan makan malam di hotel, untuk hotel punya beberapa menu masakan Jawa Timur yang menjadi  andalan mereka. Paling tidak masih bisa icip-icip nasi goreng Jancuk yang tersohor tapi pedasnya minta ampun, rawon yang handal plus bebek goreng crispy yang super lezat. 

Saya sangat menikmati ketika pekerjaan saya melibatkan banyak orang, mulai dari orang Jepang dengan aneka karakternya, orang dari perusahaan lokal yang tentunya beda karakter juga, dan ada teman penerjemah lain tempat kita saling berbagi cerita untuk menghilangkan rasa penat kerja. Eh, intinya sih 'ngegosipin' Jepang yang kita dampingi dengan segala cerita lucu, keunikan dan keanehan mereka. Hehehehe
Kebetulan lagi, saya dipasangkan dengan Jepang yang.... ehmmm, susah mendeskripsikannya :paling unik!
Banyak banget tingkah lucu dari Jepang yang gue dampingi kali ini... Baik raut mukanya yang datar tanpa ekspresi, nada suaranya yang tanpa intonasi (sehingga orang juga gak tau kalo sebenarnya dia lagi bercanda) dan yang paling lucu, dia nyaris kelupaan sandal! Selesai bertamu dia nyaris melangkahkan kaki ke luar pagar dengan bertelanjang kaki! 

Hari kerja 4 hari terasa singkat karena kami benar-benar disibukkan dengan pekerjaan. 
Walau nggak sempat beli oleh-oleh untuk orang rumah, banyak oleh-oleh ilmu yang didapat, antara lain :
1. Berhubung yang saya dampingi adalah seorang peneliti di laboratorium, jadi banyak dapat ilmu Kimia. 
2. Kerja team benar-benar harus bisa ikuti ritme dan pace kerjanya orang lain
3. Dengan berbagi ilmu ternyata justru banyak ilmu yang kita dapatkan
4. Penerjemah untuk jenis pekerjaan ini benar-benar harus detail dan teliti, tidak hanya sekedar memberikan gambaran umum atau luas saja. Tapi untuk bisa memberikan kepuasan user ketelitian, detail dan keakuratan mutlak diperlukan. 

Ohya, hanya ada 2 oleh-oleh foto yang sempat saya abadikan di Surabaya 

kalender Muslimat di rumah tuan rumah memuat foto eyang kakung+ 2 mbah buyut

Anak-anak menikmati pentolan di sebuah pasar






Senin, 12 Maret 2012

Trip Dadakan : Singapur !

Bicara dari pengalaman, keriaan dengan para sahabat kalau dirancang dari jauh-jauh hari biasanya justru gagal, tapi sebaliknya yang dilakukan secara spontan, dadakan nggak pake rencana yang panjang biasanya justru berhasil.
Itulah yang terjadi ketika saya, @audrisani alias Dina dan @liliksari alias Lilik memutuskan untuk plesiran ke tetangga sebelah, Singapur.Sebenarnya, Lilik memang ada urusan kerjaan di sana, sementara saya sama Dina hanya jadi 'dayang-dayang'nya Lilik saja. 

Setelah mendapat restu dari #suamiJepang di sabtu pagi (3/2) yang cerah, dan Dina mendapat izin dari ortunya, kami langsung mulai reservasi tiket dan hotel. Namanya juga trip dadakan yang berarti trip di luar budget, tentunya perjalanan kami bisa dibilang serba minim budget. 
Lupakanlah sumpah serapah pada Lion Air yang pernah saya lontarkan karena pilotnya ketahuan nyabu. Berhubung Lion menyediakan tiket yang termurah, jadilah kami memilih maskapai ini. Dan untuk hotel kami memilih hotel bintang 2, Hotel Heritage 81 di daerah Bugis. 

Senin  (5/2)
Dengan persiapan yang singkat dan serba minim, berangkatlah kami menuju Singapur, dengan diawali tragedi kunci gembok kopernya Dina yang ketingalan di rumah. Jadilah, sebelum masuk bagasi kunci gembok 'dirusak' di bandara Soetta dan ganti dengan kunci gembok yang baru. 
Berhubung pesawatnya masih gress, penerbangannya sendiri cukup nyaman walaupun tanpa suguhan konsumsi apapun. Di atas sebenarnya kita bisa beli minuman dan camilan, tapi semuanya menurut saya kurang menarik, dan pastinya harganya (agak) mahal. 
Mendarat di Singapur sekitar pukul 15:00, kami langsung naik MRT ke Bugis station. Sempet nyasar waktu mencari hotel 81 Heritage yang tepatnya berlokasi di Jl. Sultan. Lumayanlah jadi sempet liat-liat Arab st. segala, dan kami menemukan untuk akses yang terdekat dari hotel adalah Lavender st. 
Setelah melepas lelah+sholat+bersih-bersih diri di kamar hotel yang cukup bersih dan nyaman walau agak sempit dan kamar mandinya ajaib, kami memutuskan untuk pergi makan. 
Berhubung sudah terlalu lapar kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran Turki di Arab street yang jaraknya hanya  5 menit jalan dari hotel. 
minus @liliksari
Kelar makan, tujuan berikutnya adalah Marina Sands Bay!
Setelah sempat agak nyasar (lagi) akhirnya kita bisa sampai di Marina Bay Sands (MBS). Dan beruntung banget pas kita sampai sekitar pukul 21:15 di MBS  bertepatan dengan light and water show at MBS yang konon bernama Wonder Full ini dimulai. Laser show yang berlangsung di the event plaza ini berlangsung ±15menit  ini mengkombinasikan pertunjukan laser yang spektakuler dan air mancur. Keren sih, dengan musik pengiring yang (lumayan megah) dan teknologi laser yang spekakuler yang kita lihat melalui air mancur, tapi buat saya sendiri cerita yang ingin disampaikan kurang jelas dan kurang greget.. Kayaknya sih mau bercerita tentang 'humanity'... Tapi lumayanlah bisa nonton show ini secara gratis 

Setelah itu kita lanjutkan jalan-jalan malam ini untuk melongok ke Casino. Waktu masuk ke arena Casino ini kita sebagai warna negara asing wajib memperlihatkan paspor. Konon katanya untuk warna Singapura sendiri untuk masuk ke Casino hanya dibatasi sebulan sekali, kalaupun mau masuk lebih dari 1 kali akan dikenakan entrance fee yang besar. Katanya ini bertujuan untuk mencegah kecanduan warga Singapur pada Casino. (Bener nggak, Lik ?)
Di Casino kami sempat numpang ke toilet dan nyicipin minuman hangat yang disediakan gratis. 

Selasa (6/2)
Hari ini adalah hari H untuk Lilik, alias dia ada meeting dari pagi hingga sore. Jadilah, jalan-jalan hari ini hanya dilaksanakan oleh saya dan Dina saja. 
Tujuan pertama adalah MINT MUSEUM of Toys http://www.emint.com/
Museum yang berlokasi di Seah street (akses dari City hall station), ini berisikan koleksi mainan vintage milik Mr.Chang Yang Fa... Museum yang letaknya di dekat hotel Raffless ini sangat mungil dan letaknya nyempil-nyempil tidak tampak menonjol dari luar, terdiri dari 5 lantai, dengan tiap lantai mengusung tema yang berbeda mulai dari Outerspace, Characters, Childhood favourite dan Collactables. 
koleksi mobil

koleksi robot














Tujuan berikutnya adalah MAKAN!! 
Karena pagi itu kami skip sarapan dan sudah kelaparan akhirnya kami  
memutuskan untuk makan di tempat makan yang terdekat, yaitu FOOD             
court di Raffless City Mall.
 Pilihan menu saya adalah roti prata + chicken curry, sementara Dina memilih Chicken rice 
Plus semangkuk manggo sago with ice cream sebagai dessert untuk berdua. 
Setelah hati adem ayem karena kenyang, kami menuju Little India untuk belanja belanji di Mustafa Centre. 
Beruntung dalam perjalanan dari Little India st. menuju Mustafa Centre kami sempat menyaksikan ritual agama Hindu (?) di Sri Veeramakaliamman Temple. 
Saya sendiri kurang begitu paham ritual apa yang sedang berlangsung karena saya tidak bisa memperoleh penjelasan, tapi sejauh pengamatan saya, sang pemimpin melakukan upacara penyucian.. Setelah berdoa, para jamaah yang kebanyakan berusia di atas 40tahun berebut untuk mendapatkan bunga dari sang pemimpin, mungkin untuk mendapatkan 'barokah' atau seperti ingin ikut disucikan oleh sang pemimpin. 
Di sana sini ada juga para 'jamaah' yang sedang membuat sesajen berupa bunga tau makanan... Cukup menarik, sayang saya tidak mengerti isi dari upacara tersebut. 
Perjalanan dilanjutkan dan sampailah kita di Mustafa Centre. Berhubung jalan-jalan dengan budget yang minim, oleh-oleh yang dibeli pun berbudget minim juga, seperti kaos untuk #suamiJepang, aneka koyo dan balsem untuk nyokap, dan sendal jepit untuk saya. Puas lihat-lihat Mustafa Centre kami kembali ke hotel untuk bertemu kembali dengan Lilik. Dan karena malam itu sudah cukup capek, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam kembali di Raffless City food court, karena banyak pilihan makanan.
Saya dan Dina memilih steamboat, sementara Lilik asyik menikmati roasted duck noddle. 

Rabu (7/3)
Berhubung saya ada dinner meeting di daerah Kelapa Gading sore harinya, jadi saya pulang duluan dengan pesawat pagi. Sementara Lilik dan Dina masih melanjutkan perjalanan mereka sampai sore hari. 

Budget :
Pesawat : 
Lion Air (budget air)       : Rp. 750.000 pp
Tanpa makan+minum, jadi sebaiknya makan dan minum dulu sebelum terbang, walaupun bisa beli di atas tapi yang ditawarkan sangat tidak menggugah selera

Hotel
Hotel 81 Heritage, jl. Sultan, Bugis (bisa diakses dari Lavender st. atau Bugis st.)
Hotel bintang 2, yang terletak di pinggir jalan besar. Di sebelahnya terdapat 
Triple room  ± Rp. 900.000 / night
Kamar cukup bersih dan nyaman, hanya agak sempit dan kamar mandinya berdesain aneh.

MRT
± SGD 5 / hari 

Makan 
Menu di sebuah restoran Turki di kawasan Arab street yang merupakan makanan termewah selama kita di sana rata-rata seharga SGD 14.
Untuk makan di food court dengan menu seperti roti prata+chicken curry, chicken rice, steam boat dan noddle rata2 harganya SGD 5-6
Untuk beli air mineral dan minuman di pet botol lainnya : SGD 1 ~ 2

★ Liburan yang dadakan, singkat tapi penuh kesan. Terlebih jalan-jalannya bersama 2 orang teman dekat yang bisa diisi dengan ngobrol-ngobrol tentang banyak hal... (curcol maksudnya). 
Nggak sabar untuk berkolaborasi lagi di perjalanan-perjalanan selanjutnya.
Satu hal yang harus dijadikan pelajaran adalah : Jangan malas foto!!! biar arsip fotonya banyaaak....


    

Kamis, 01 Maret 2012

(bukan) cerita #memetwit

Cerita ini mungkin emang (bukan) cerita #memetwit... tapi lumayan mencekam untuk ukuran saya yang terkenal penakut.
Buat yang sudah mengenal saya sejak jaman saya masih piyik dulu, pasti tau banget deh kalo saya itu orangnya super duper penakut! 
Bahkan sampai duduk di bangku kuliah saking penakutnya walopun saya punya kamar sendiri di lantai 2, tapi hampir setiap malam saya merayu-rayu adik saya, @firrywahid untuk nebeng di kamarnya tidur, selamat tinggal gengsi, selamat tinggal harga diri demi bisa tidur tenang saya rela tidur beralaskan kasur lipat sementara adik saya  mengorok dengan angkuh di atas tempat tidurnya yang nyaman.
Waktu kuliah di depok sebenarnya saya pulang pergi dengan kereta jabotabek, sampai suatu hari, saya pengen ngerasain jadi anak kos, jadilah memutuskan untuk ikut-ikutan kos. Tapi, berhubung saya masih takut tidur sendirian, saya merayu sahabat saya untuk memilih kamar berdua dengan saya. 
Masalah tidur sampai masa kuliah plus masa awal-awal jadi pegawai bisa berlangsung dengan selamat, walau saya terkadang harus menelan rasa malu saat memohon-mohon nebeng di kamar adik atau orang tua saya. 

Masalahnya adalah ketika saya dapat kesempatan (alias dapat beasiswa) ke Jepang, memang sih saat pertama kali saya tinggal di Jepang itu saya homestay di rumah keluarga Jepang di perfektur Tottori, yang artinya saya nggak sendiri-sendirian amat. Tapi misalnya suatu malam saya tiba-tiba ketakutan dan nggak bisa tidur, saya kan nggak mungkin gedor-gedor kamar host parents saya untuk nebeng tidur. 
Yah, tapi masa karena rasa takut ini saya harus batal ke Jepang, ya ? Bismillah saja, akhirnya saya mantap pergi ke Jepang... 
Beberapa malam pertama saya di Jepang dan tidur di rumah keluarga angkat saya ini, saya tidak menemukan kendala yang berarti, mungkin juga di hari hari pertama itu banyak hal baru yang harus saya kerjakan jadi saat malam datang saya langsung tertidur pulas, nggak sempat untuk merasakan rasa takut. 
Masalah terjadi ketika tepat seminggu saya tinggal di rumah keluarga angkat. Ibu dari ibu angkat saya yang tinggal di Kagoshima (pulau Kyushu) mengalami stroke sehingga kedua orang tua angkat saya harus segera berangkat ke Kagoshima untuk menengok si nenek. Sebenarnya, ada adik-adik angkat saya, tapi berhubung saat itu mereka masih SMP dan SMA, sementara saya juga belum terbiasa dengan kehidupan di Jepang, orang tua angkat saya memutuskan untuk menitipkan saya di rumah kenalannya yang pernah lama tinggal di luar negeri dan mahir berbahasa Inggris, jadi diasumsikan mengatasi masalah komunikasi yang mungkin terjadi, berhubung saat it kemampuan bahasa Jepang saya ada dalam level memprihatinkan.

Sekilas memang solusi ini merupakan solusi yang terbaik untuk kami semua. Saya ada tempat 'berlindung' selama orang tua angkat saya pergi, ortu angkat saya bisa dengan tenang mengurus si nenek tanpa kepikiran anak Indonesia yang nebeng hidup di keluarga mereka, adik-adik angkat saya juga nggak terbebani harus ngurus orang asing yang gak jelas di rumah mereka. 
Jadilah, saya+orang tua angkat saya berangkat dalam misi 'mengungsikan' saya ke rumah si kenalan. Masalah terjadi ketika saya tahu 'lokasi pengungsian' saya tersebut. 

Tottori perfektur yang saya tinggali ini terletak di barat Jepang ini, merupakan perfektur yang sangat kecil di Jepang dengan jumlah penduduk yang paling sedikit. Tottori-shi tempat orang tua angkat tinggal, merupakan ibukota dari Tottori perfektur. Jadi, Tottori shi tempat saya tinggal itu merupakan daerah terbesar dan teramai di Tottori perfektur. Tapi buanglah jauh-jauh bayangan tentang Jepang yang kita dapat dari drama-drama Jepang macam TokyoLove Story. Sedikitnya, bayangan saya akan Jepang (Tokyo) adalah gedung-gedung pencakar lakit yang megah, orang-orangnya yang stylish selalu bergerak dengan tergesa-gesa dan subway+train yang penuh dan sibuk. Di Tottori hampir bisa dibilang tidak ada gedung-gedung tinggi, gaya berpakaian mereka memang cukup fashionable tapi nggak ada tuh orang yang tergesa-gesa, semua terlihat santai dan nggak ada subway+kereta canggih di Tottori. Ada sih kereta untuk transportasi umumnya, tapi jumlah kereta yang lewat kurang lebih 1~2 jam sekali. Bandingkan dengan Tokyo yang kereta akan datang setiap beberapa menit sekali. Kereta di Tottori boro-boro canggih untuk buka pintu keretanya saja kita harus buka sendiri, alias keretanya nggak otomatis... 

Kembali ke lokasi pengungsian saya, ternyata saya diungsikan di daerah bernama CHIZU (智頭), masih berada di Tottori perfektur, sekitar 2 jam berkendara mobil dari Tottori-shi, lokasi tepatnya adalah di sebuah desa, di pegunungan. Benar-benar di pelosok. Kalau ingat dengan film Oshin kurang lebih desanya seperti itu.  
Saya diantar ke sebuah rumah kuno Jepang yang super besar. keluarga kenalan orang tua angkat saya ini menyambut saya dengan sangat ramah. Di rumah itu tinggal pasangan suami istri kenalan ortu angkat saya, ibu dari si suami dan anak mereka. Hanya berempat di rumah yang super besar dan terbuat dari kayu-kayu kuno berwarna coklat dan memberikan kesan 'dingin ini. Senyum+cengiran khas saya perlahan tapi pasti hilang dari wajah saya. 
Si istri, yang ternyata pernah tinggal di Afrika Selatan+Mauritania ini, menenangkan kalau selama keberadaan saya di rumahnya saya akan baik-baik saja. Karena memang saat itu masih masa liburan dan belum ada mata perkuliahan, dia meminta saya untuk menganggap ini sebagai satu liburan. Saran yang sangat baik. 
Saya dibawa berkeliling rumahnya, berjalan menuju lorong yang panjang dengan deretan pintu-pintu kecoklatan yang terlihat suram, saya ditunjukkan tempat makan yang terkesan 'kosong' hanya dengan sebuah meja berkaki pendek yang panjang sekali, ditunjukkan dapurnya yang juga super besar, ofuro (tempat mandi) , juga toilet. Kalau sekarang kita tau tipe toilet Jepang yang sangat canggih dengan segala pencetan untuk mengatur ini-itu, siapapun pasti akan terkaget kaget melihat toilet di rumah ini. Buang jauh-jauh pikiran bayangan tentang toilet duduk yang canggih-canggih itu. Toilet di rumah ini berupa toilet jongkok tanpa keramik.warna cerah. Di kamar kecil  (terpisah dari kamar mandi)  ada toilet yang ditandakan dengan sepasang pertanda pijakan kaki yang berwarna suram, dan 'gundukan' yang juga berwarna suram yang merupakan pertanda kita harus menghadap ke mana ketika mau 'do our business'. Di dalam si 'toilet tersebut' nggak ada genangan air seperti yang biasa kita temui di toilet duduk maupun jongkok. Ketika kita melongok ke dalam toilet tersebut hanya ada lobang yang dalam seperti sumur. Jadi, ketika kita selesai melakukan hajat di sini baik hajat kita maupun kertas tissue yang dipakai untuk mengelap akan dibuang melalui lobang tersebut yang ternyata langsung menjadi tempat pembuangan sampah. 
Salah nggak sih kalo saat itu saya membayangkan ketika saya sedang asik-asik di toilet itu tiba-tiba keluar sadako dari lobang yang mirip banget dengan lobang sumur tapi lebih kecil dan kosong tanpa air. 
Untungnya selama saya tinggal di sana hal itu tidak pernah terjadi. 

'Gong'nya adalah ketika saya diantar ke kamar yang akan dipakai saya tidur. Menurut cerita si istri sambil mengajak saya kembali menelusuri lorong-lorong suram rumah itu, kebiasaan di daerahnya ketika kedatangangan 'tamu istimewa', si tamu akan ditempatkan di tempat yang istimewa juga. Saya excited membayangkan saya akan diantar ke kamar istimewa tersebut. Kami sampai di depan sebuah kamar yang terlihat besar. Si istri menggeser pintu kayu tua berwarna coklat tua dan dengan bangga dia memperlihatkan si kamar istimewa tersebut. Taraaaa!! Dan masukklah kami ke sebuah kamar yang luas dengan butsudan (altar budha) yang besar. Di tengah kamar yang sangat luas tersebut sudah tergelar futon (kasur) dengan motif cantik khas Jepang. Futon yang terlihat bagus dan mahal tapi sangat tidak sesuai diletakkan tepat di tengah-tengah kamar yang luas ini, buat saya yang penakut ini futon yang tepat berhadapan lurus dengan altar budha ini memberikan kesan yang sangat mencekam.
Belum berakhir dengan futon yang mencekam, ketika saya melihat ke sekeliling tembok di sana terpajang foto-foto para leluhur keluarga ini. Foto-foto para leluhur yang entah lahir tahun berapa dan yang pasti namanya leluhur, mereka yang terpampang di foto tersebut adalah mereka yang sudah meninggalkan dunia fana ini. Si istri dengan penuh kebanggaan sekilas menjelaskan silsilah keluarga mereka.
Tapi tidak satupun penjelasan itu masuk kepala saya... Saya pengen nangis, pengen lari dari kamar itu, pengen lari dari Chizu, kembali ke rumah saya di billymoon tidur di kamar saya di lantai 2, atau kembali merayu-rayu adik saya untuk bisa tidur di lantai kamarnya. Itulah kali pertama saya merasakan kerinduan yang besar sejak saya tinggal di Jepang. 

Malam pertama di pengungsian sehabis mandi di kamar mandi yang juga bikin bulu kuduk berdiri, saya berjalan menyusuri lorong dingin nan suram dan masuk ke dalam kamar yang bikin saya kebat kebit ketakutan. Tapi memang, ternyata manusia sebenarnya punya kekuatan dan keberanian yang tidak pernah disadarinya ketika kita berada dalam kondisi 'tertekan'. Malam itu dengan rambut masih separuh basah sehabis mandi, saya masuk ke dalam kamar itu lagi dengan mengucapkan 'Assalamu'alaikum' sambil separuh mengangguk ke deretan foto-foto di dinding. Iya, saya tau sih almarhum-almarhum Jepang itu pasti nggak ngerti juga saya ucapkan salam Assalamu'alaikum walau dengan gaya separuh membungkukkan badan khas orang Jepang. Tapi yang kepikiran ya cuma itu! 
Setelah itu saya sholat Isya dan diam-diam sambil separuh menahan tangis karena bayangin pasti nanti malam dan nggak bisa tidur (selain penakut saya juga cengeng), saya buka travelling bag saya, mengambil buku Yassin dan mulai membacanya. Ya saya nggak tau sih di saat seperti itu tepat atau nggak baca Yassin, tapi yang saya bawa saat itu kebetulan ya buku Yassin dan setelah membacanya saya jauh merasa lebih tenang. 
Selesai baca Yassin, saya mencoba membaringkan badan saya di futon yang ternyata sangat nyaman, dan sambil baca-baca saya mencoba untuk tidur. Alhamdulillah saya bisa tertidur, tapi di tengah malam saya terbangun karena pengen pipis, ketika terbangun untuk pertama kalinya itu, cukup kaget juga karena pemandangan tepat di depan saya adalah deretan foto leluhur, noleh ke kiri ada altar budha, noleh ke kanan foto-foto leluhur yang lain. Hoaaaaa....!! Tapi dari pada ngompol di futon spesial itu, saya memberanikan diri keluar dari futon, jalan di lorong, dan pipis di toilet dengan lobang yang dalam itu. Alhamdulillah, Sadako nggak muncul!

Sejak keberhasilan malam pertama yang ternyata nggak ada apa-apa, saya jadi lebih pede di malam-malam selanjutnya, meski begitu setiap habis sholat Isya saya nggak pernah untuk baca Yassin di kamar altar budha itu. 
Demikianlah cerita (nyaris) #memetwit dari saya. 






Rabu, 22 Februari 2012

Belajar dari ilmu padi

Rejeki maupun kepuasan kerja tidak harus selalu berbentuk uang
Begitulah orang tua saya mendidik saya. 
Dan memang begitulah yang saya rasakan. Tentunya, bisa dapat uang sendiri adalah motivasi terbesar saya untuk  bekerja, tapi yang saya rasakan melalui pekerjaan saya sebagai penerjemah Jepang-Indonesia, Tuhan memberikan rejeki dalam berbagai bentuk.
Salah satunya adalah bertambahnya jejaring dan kesempatan untuk dapat ilmu dari orang-orang yang hebat. 

Dari pekerjaan saya ini,ada kalanya saya bertugas mendampingi orang hebat dari satu perusahaan, 'otaknya' suatu produk, atau bahkan orang terkenal. Dan bagi saya semua orang ini adalah 'orang hebat' 'orang sukses' atau apapun itu sebutannya. 
Intinya, orang yang kaya pengalaman, yang sudah malang melintang dalam kehidupannya (baik karir maupun kehidupan pribadi), orang yang berhasil bangkit dari segala rintangan dan kesulitan. 
Cerita sukses orang-orang hebat tersebut boleh berbeda, masing-masing punya kisah untuk menempuh sukses. Tapi, satu kesamaan yang yang saya pelajari dari mereka, orang yang menurut saya hebat-hebat itu pasti orang-orang yang sangat rendah hati.
Tidak sombong, nggak petantang-petenteng, mau share pengalaman (pembelajaran) dan penuh rasa syukur!
Karakter di atas ini menurut saya ciri-ciri karakter orang yang hebat+rendah hati plus plus!

Seperti ketika kemarin saya bertemu dengan seorang penerjemah yang sudah sangat senior dan profesional. 
Awalnya kaget dan sedikit deg-degan ketika pagi itu dikasih tau akan tandem dengan penerjemah yang sudah sangat sering saya dengar namanya.
Tapi rasa deg-degan itu nggak berlangsung lama, karena pembawaan si mbak yang ceria dan lucu ini cepat menghangatkan dan mengakrabkan suasana. Nggak ada kesan senioritas atau 'sok tua' dan 'penuh petuah', justru sebaliknya sikap cerianya membuat saya benar-benar nyaman.Dan rasa nyaman buat saya penting banget, karena dengan rasa nyaman ini saya bisa bekerja dengan maksimal.
4 hari kerja bersama si mbak, saya banyak belajar dari dia. Ditambah di hari terakhir, si mbak memberikan masukan masukan buat saya penerjemah yang masih cupu plus jam terbangnya masih sangat sedikit.
Dalam 4 hari sedikit banyak saya curi-curi ilmu dari dia, mulai dari teknik menerjemahkan (walaupun bahasanya beda), sikap dan perilaku terhadap klien serta yang terutama saya belajar kerendahan hati dari si mbak...
Memang benar kata pepatah : Seperti padi, makin berisi makin merunduk
Saya mau mau jadi seperti dia! Mau jadi orang+pekerja (penerjemah) yang tidak diragukan secara kualitas, yang profesional tapi yang paling penting, semua itu dibungkus dalam kemasan RENDAH HATI! 

Terima kasih ya mbak untuk 4 hari yang penuh berarti sekali buat saya
Ngomong-ngomong, dalam bahasa Jepang juga ada loh pepatah yang artinya sama dengan seperti padi, makin berisi makin merunduk, yaitu :
実るほど頭を垂れる稲穂かな (Minoru hodo koube wo tareru inaho kana)

Senin, 20 Februari 2012

Groupie oh groupie....

Apakah kamu punya grup band, penyanyi artis, aktor dan pemain sinetron idola ?
Buat saya yang tidak punya idola semacam itu, kelakukan para fans terutama fans fanatik terkadang membuat saya tercengang, terheran-heran sampai termangap-mangap... 
Bagi saya, buat apa suka sama seseorang yang tidak kenal bahkan mungkin tidak tau keberadaan kita...?

Tentu saya juga punya penyanyi atau aktor(artis) kesukaan, tapi nggak sampai mengidolakan sosok tersebut, suka ya terbatas suka saja...
Beberapa waktu yang lalu ketika heboh-heboh penjualan tiket konser NKOTBBSB, beberapa teman saya juga heboh mengajak saya untuk nonton, katanya untuk mengenang kejayaan masa lalu, ya itung-itung hari itu saja kita kembali ke jiwa ABG kita, nyanyi+jejogedan bareng sama idola di masa cupu kita itu.
Awalnya sih tertarik, seru juga kali ya ikutan heboh layaknya para wanita seusia saya yang berebut untuk bisa dapat tiket konser itu. Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ketika konser NKOTB jaman baheula pun saya nggak tertarik untuk menonton, ngapain juga justru sekarang saya heboh mau ikutan nonton ? 

Salah satu penyanyi kesukaan yang lain adalah penyanyi cowok Jepang, Hirai Ken. Itupun ya hanya sebatas suka nggak sampai mengoleksi CD atau merchandise-nya. Beberapa waktu yang lalu saya reuni kembali dengan teman-teman yang sama-sama pernah tinggal di Jepang dan sama-sama suka dengan lagu-lagunya Hirai Ken. Akhirnya kami memutuskan untuk membentuk gank karaoke Hirai Ken, tapi itu pun nggak berlangsung lama. Gank karaoke masih berlanjut terus, sebulan atau beberapa bulan sekali kami ketemuan untuk karaoke (namanya juga gank karaoke, ya tujuan utamanya karaoke...), tapi yang awalnya karaoke dengan tema 'tribute to Hirai Ken'  belakangan temanya selalu berubah. Malah belakangan lagu Hirai Ken sama sekali nggak dinyanyikan... Ya batas kesukaan saya (kami) cuma sejauh itu. 

Karenanya, saya cukup heran dengan orang yang suka setengah mati dengan artis idolanya. Mungkin kata suka tidak cukup menggambarkan perasaan si fans tersebut. Artis idolanya itu sudah menjadi bagian dari dalam hidupnya, sudah menjadi bagian dari jiwanya. Ibaratnya sudah mendarah daging. 
Bahkan ada yang sampai membela mati-matian si idola jika si idola itu dikritik oleh haters , demikianlah julukan yang diberikan para fans untuk orang yang punya pandangan berbeda akan idola mereka. 
Saya pernah 'memantau' TL ketika para fans penyanyi yang (mau) go-international itu membela si artis mati-matian sampai seperti kebakaran jenggot ketika ada beberapa orang yang (sedikit) memberikan kritik atau masukan buat si artis. Kasih kritik kan bukan berarti benci. Tapi buat fans fanatiknya kasih kritik atau bahkan masukan bisa berarti mencela si artis. Wah, ini hukumnya haram buat mereka. Berubahlah mereka jadi pasukan pembela si artis. Padahal kan artisnya sendiri sebenernya mungkin merasa nggak perlu dibela ya ?

Adalagi fans yang menurut saya sangat terobsesi dengan si idolanya ini, entah istilah yang saya pakai ini sudah benar atau tidak, mereka yang disebut groupie. Setahu saya, yang dinamakan groupie ini umunnya cewek-cewek yang tergila-gila sama bintang cowok, umumnya group band. Mereka yang rela mengikuti si bintang ini ke manapun (untuk konser tentunya), mereka yang menjadikan si bintang ini benar-benar bagian dari hidupnya. Mereka tau dengan pasti semua kisah hidup plus informasi mengenai si bintang termasuk misalnya makanan favorit, nama binatang kesayangan dll. Dan mereka bisa benci+cemburu setengah mati dengan kekasih si bintang. 

Berhubung di antara teman dekat saya tidak ada yang termasuk dalam golongan di atas, 2 kisah dari murid saya ini bisa saya jadikan contoh untuk cerita para groupie ini. Mungkin ke 2 murid saya, sebut saja S san dan M san bisa mewakilkan cerita groupie di Jepang. 
S san adalah pencinta KIMUTAKU alias Kimura Takuya. Siapa yang tidak tau Kimutaku anggota SMAP yang kata cewek-cewek Jepang paling seksi  (di jamannya) ini. Sejak jaman ABGnya dulu S san selalu mengikuti perkembangan SMAP terutama Kimutaku, mengoleksi berbagai merchandise Kimutaku, mengikuti setiap drama yang dibintangi Kimutaku dan keliling Jepang untuk menonton konsernya SMAP. 
Karena pekerjaan suaminya S san tinggal di Amerika selama beberapa tahun, ketika S san tinggal di Amerika inilah pada tahun 2000, Kimutaku menikah dengan artis Jepang yang bernama Shizuka Kudo. 
Berita menikahnya Kimutaku menikah ini didapat S san dari temannya sesama penggemar Kimutaku yang bel-belain menelpon ke Jepang. Dan tebak apa yang terjadi ? S san menangis sesenggukan sampai-sampai suami si S san sendiri menyangka ada berita duka dari Jepang... Dan selama kurang lebih seminggu S san nggak nafsu makan!  (Waktu dengar ceritanya sumpah saya mau ketawa terbahak-bahak)

Lain lagi cerita M san yang merupakan groupie dari KAT-TUN, sebuah boy band dengan member rata-rata berusia 27tahunan yang termasuk dalam management Johnny's (managemen artis yang besar di Jepang). M san yang usianya 2 tahun di atas saya masih semangat mengikuti concert tour KAT-TUN ke berbagai wilayah di Jepang. Tidak hanya Jepang, tapi juga sampai menyertai KAT-TUN ke Korea dan Taiwan. Tentu saja seperti para fans fanatik lainnya, M san juga mengoleksi berbagai CD, DVD, dan merchandise KAT-TUN. 
Dan M san yang ternyata sangat kreatif ini sering menghabiskan waktu untuk membuat aneka aksesoris untuk dibawanya ke konser KAT-TUN. Ketika saya bertanya apakah suaminya tidak keberatan dengan 'kelakuannya', dia menjawab suami saya nggak keberatan, tapi hobi saya ini cukup menghabiskan biaya, untuk itu saya harus bekerja untuk bisa membiayai kesukaan saya pada KAT-TUN. 
'Gong' keheranan saya pada kelakuaan M san ini adalah ketika senin lalu dia berkirim sms ke saya untuk memberitahukan kalau Akanishi kun (ex-member KAT-TUN yang juga sangat dia sukai) menikah karena deki-kon (menikah karena hamil duluan) dengan artis bernama Kuroki Meisa. 
Isi sms-nya : "Saya kaget, saya sedih sedih Akanishi kun menikah, tapi rasanya tidak begitu sakit, saya akan baik-baik saja"
Saya hanya bisa memberikan hiburan sekedarnya dengan tidak lupa menyertakan nama Taguchi-kun, anggota KAT-TUN yang sekarang sangat dia sukai.

Jadi, apakah kamu (atau kenalan kamu) termasuk dalam golongan groupie ini ?

Senin, 13 Februari 2012

[Rekomendasi] Japan Rail Pass (cerita mudik Jepang)

Untuk yang berencana akan plesiran ke Jepang, dan di sana akan banyak menggunakan transportasi umum (khususnya kereta), saya rekomendasikan sekali untuk memakai Japan Rail Pass. (JR Pass)
Mudik ke Jepang bulan lalu, adalah kali ke-2 kami menggunakan JR Pass ini. Nggak setiap mudik kami memakai JR Pass, tapi berhubung trip kali ini juga diagendakan untuk trip ke 2 kota, yaitu Nagoya dan Tokyo untuk mengunjungi para adik ipar, dan untuk pergi kedua kota tersebut transportasi yang digunakan adalah shinkansen, maka JR Pass adalah solusi yang paling murah dan tepat.


Dengan tiket JR Pass ini kita bisa sepuasnya naik kereta yang dioperasikan oleh Japan Rail Company, termasuk di dalamnya shinkansen atau bullet train untuk jenis Kodama dan Hikari dan airport Express.
Ada 2 tipe JR pass yaitu Green dan ordinary, untuk masa berlakunya dibagi menjadi 3 jenis, yaitu untuk 7 hari, 14 hari dan 21 hari. Dengan harga yang termurah 28,300 yen (ordinary-7 hari) dan yang termahal adalah  79,600 yen (Green-21 hari).
Tiket JR Pass ini hanya dijual di luar Jepang, dan hanya di agen perjalanan yang ditunjuk. Di Jakarta dapat dibeli di JALan Tour, Wisma KEIAI, Sudirman. (Pembelian hanya menggunakan JPYen).
Yang bisa menggunakan JR Pass adalah warga negara di luar Jepang yang memiliki visa Jepang dengan status temporary visit (visa harus ditunjukkan saat pembelian), dan orang Jepang yang sudah tinggal permanen di luar Jepang (bukan warga negara Jepang lagi ?) atau menikah dengan orang di luar Jepang. Saat membeli JR Pass kemarin, saya harus menyertakan surat nikah sebagai bukti.
Saat pembelian JR Pass di JALan Tour, kita hanya akan mendapatkan bukti pembayaran untuk ditukarkan dengan JR Pass ketika kita sudah sampai di Jepang nantinya.
Untuk menukarkan exchange order (bukti pembayaran) ini kita harus pergi ke JR窓口(madoguchi) atau counter JR yang berada di stasiun, kita cukup memperlihatkan exchange order + passport+ mengisi form  untuk bisa mendapatkan JR Pass yang asli. Masa berlaku JR pass tidak dihitung dari tanggal diterbitkan tapi dihitung dari tanggal pemakaian. Tinggal isi di form tanggal berapa kita ingin mulai menggunakan tiket tsb, nantinya petugas counter akan memberikan stempel di tiket JR pass kita.

Dengan selembar tiket ini kita bisa naik turun kereta JR baik dalam maupun antar kota (termasuk local train, express train, shinkansen Kodama dan Hikari, dan bus yang dioperasikan oleh JR Company, serta Tokyo Monorail). Jadi, kita bisa sedikit pengeluaran kita untuk transportasi selama plesiran di Jepang.


Sabtu, 28 Januari 2012

Cerita obaachan di Mutsumi-en, panti jompo Jepang (cerita mudik)

Satu kegiatan yang paling saya nanti-nanti ketika mudik ke kampung halaman Yacchin adalah menengok Yukino obaachan, neneknya si suami Jepang ini yang sudah berusia 91 tahun dan sekarang tinggal di panti jompo.
Mungkin karena kerinduan kepada kedua almarhumah eyang putri, bertemu dengan satu-satunya nenek yang saya miliki sekarang menjadi cerita yang indah buat saya.
Obaachan yang sudah pikun tidak pernah ingat siapa saya, istri dari cucu pertamanya yang hanya bisa menjenguk dia 1,5 tahun sekali. Setiap kali saya muncul untuk menjenguknya, pasti sapaan yang terucap dari obaachan adalah : "anata dare ?" yang artinya adalah "kamu siapa ?"
Dan obaachan yang pendengarannya sudah sangat berkurang pasti salah menangkap nama saya....
Kali ini obaachan menangkap dan mengingat saya sebagai MIKA chan....

Mutsumien, itulah nama panti jompo atau dalam bahasa Jepang disebut ro-jin ho-mu yang ditinggali oleh obaachan selama ± 3 tahun ini. Letak mutsumien sendiri cukup dekat dari rumah mertua saya, sekitar 5 menit dengan mobil. Sebelum tinggal di Mutsumien obaachan tetap tinggal bersama kedua mertua saya, saat itu obaachan sudah sedikit pikun, tapi masih bisa melakukan beberapa aktivitas sendiri seperti pergi ke toilet, makan, berjalan walaupun sangat perlahan, waktu itu selama beberapa kali seminggu obaachan dijemput oleh panti jompo untuk beraktivitas dan bersoliasi dengan manula lainnya.
sampai suatu saat kondisi kesehatan obaachan terus berkurang hingga harus dirawat beberapa kali di rumah sakit, akhirnya otoosan alias ayah mertua saya memutuskan untuk memasukkan obaachan ke panti jompo agar lebih terkontrol. Di Mutsumien nutrisi makanan dan konsumsi obat obaachan akan lebih termonitor. Begitu juga pemenuhan kebutuhan dasar seperti ofuuro (mandi), omutsu koukan (ganti popok) dan lain-lain karena dilakukan oleh orang yang profesional tentunykan lebih nyaman buat obaachan.
Di panti jompo juga dilakukan banyak terapi seperti terapi motorik, terapi wicara, dan lain-lain.
Otousan yang adalah anak tunggal awalnya ragu memasukkan obaachan ke panti jompo, tetapi mengingat otousan dan okaasan yaitu ibu mertua saya, sama-sama masih bekerja tidak ada yang bisa intens mengurus obaachan (mengingat di Jepang tidak ada jasa perawat yang bisa disewa untuk kebutuhan pribadi, kalau adapun pasti bayaranya super mahal ya >)

Panti jompo seperti Mutsumien ini jumlahnya sangat banyak di Jepang, di Kumano sendiri yang merupakan kota kecil terdapat 3 panti jompo. Ke depannya jumlah panti jompo ini akan bertambah, mengingat Jepang jumlah manula di Jepang akan  bertambah sementara jumlah anak akan berkurang. Jumlah manula yang (harus, mau tidak mau) tinggal di Jepang pun akan semakin meningkat. Sementara jumlah usia produktif warga  Jepang yang mau (dapat) bekerja sebagai kaigo fukushishi (perawat  untuk lansia) kedepannya tidak akan mencukupi kebutuhan ini, sehingga Jepang beberapa tahun ini mulai merekrut tenaga perawat dari luar Jepang, seperti Indonesia.
Calon tenaga perawat untuk lansia dari luar Jepang harus mengikuti program magang selama 3 tahun di sebuah panti jompo di Jepang, setelah itu  harus mengikuti ujian negara untuk mendapatkan sertifikat resmi sebagai perawat untuk lansia. Yang sekarang menjadi 'masalah' adalah ujian yang harus diikuti oleh para calon perawat ini adalah ujian yang sama untuk calon dari Jepang, yang berarti ujian ini harus diikuti dalam bahasa Jepang (huruf kanji) yang tentu saja sangatlah susah untuk orang asing.

Kembali ke cerita Mutsumi-en, saya sangat terkesan dengan staf dan para perawat di sana. Mereka sangat ramah dan telaten mengurus para lansia. Benar-benar penuh kesabaran, ketelatenan dan passion.
Dengan keprofesionalan para perawat dan staf di panti jompo ini, tentu saja kita sebagai keluarga merasa tenang bisa menitipkan anggota keluarga kita di sana karena pasti akan dirawat dengan sangat baik.
Tetapi tentu saja, menurut saya, obaachan dan ojiichan yang tinggal di panti jompo, walaupun katankalah mereka sudah pikun sudah tidak begitu mengenali lagi anggota keluarganya pasti butuh untuk diperhatikan secara personal oleh anggota keluarganya yang terdekat.
Dan sewajarnya dan sudah menjadi kewajiban anggota keluarga yang lain untuk terus memperhatikan dan 'menganggap ada' keberadaan mereka. Bukan hanya menyerahkan dan melepaskannya begitu saja ke panti jompo tsb. Untuk kondisi di Mutsumi-en yang saya perhatikan, setiap kedatangan kami ke sana, cukup banyak keluarga lain yang juga sedang berkunjung. Tetapi, menurut cerita yang saya dengar, ada juga lansia yang hampir tidak penah dijenguk oleh keluarganya, bahkan pada saat-saat hari penting seperti tahun baru.

Otousan dan okaasan sendiri minimal seminggu 2 kali pergi menjenguk obaachan. Hiromi, adik perempuan Yacchin satu-satunya yang juga tinggal di Kumano juga kerap mengajak anak-anaknya, Miu can dan Sora-kun untuk mengunjungi buyut mereka. Otousan dan Okaasan juga rajin mengganti foto-foto yang terpajang di belakang tempat tidur obaachan. Aneka foto boleh diganti, tetapi foto yang tetap selalu terpajang di sana adalah foto ketika saya, Yacchin beserta bapak+mamah pergi berkunjung ke sana 2 tahun yang lalu.
Obaachan menempati kamar ini dengan tiga orang penghuni lain. Menurut saya, perhatian keluarga bisa terlihat dari kondisi di sekitar tempat tidur pasien tersebut. Keluarga yang perhatian atau sering berkunjung umumnya sering membawa 'buah tangan' untuk dipajang, seperti keluarga Yacchin yang membawakan bunga, hasil karya Miu-chan, 'mainan' untuk obaachan, dan lain-lain. Tapi, ada satu penghuni di kamar tersebut yang 'polos' tidak ada pajangan atau apapun, hanya ada tempat tidur+meja kecil saja. Setiap memasuki kamar ini, saya sering membayangkan betapa terasa sepinya hidup nenek itu yang tidak terperhatikan oleh keluarganya.

Obaachan, walau tidak selalu langsung ingat siapa itu Yacchin (harus diberi tahu berulang kali), matanya selalu berbinar-binar ketika berbicara dengan cucu pertamanya itu.
Nasehatnya setiap kali kita berpisah adalah : "hayaku kodomo no kao wo misena" yang intinya menyuruh  kami untuk segera punya anak.
Di kunjungan terakhir kami kali ini, yang membuat saya sedih dan berkaca-kaca adalah, ketika kami pamit pulang obaachan dengan sedikit menangis bilang "itsumo kitekurete arigatoune, jikkai kuru tokini obaachan mou oran kamoshiren....." (Makasih ya sudah selalu jengukin obaachan, nanti kalau kalian pulang lagi, obaachan nggak tau masih ada atau nggak....)...
Sedih banget rasanya obaachan ngomong begitu, mudah-mudahan masih diberi kesempatan lagi untuk bisa jenguk obaachan, menggenggam tangan keriputnya, berbincang-bincang walau tidak nyambung plus harus setengah teriak-teriak... Obaachan, genki dene!!